
"Seperti yang kukatakan, aku tidak tahu mengenai orang tuamu, Arsen. Memangnya apa yang harus kukatakan jika tidak mengetahuinya?" seru Cakra yang saat ini tidak ingin membahas mengenai masalah yang sangat sensitif karena mengungkit masalah orang yang telah meninggal.
Arsenio yang berpikir bahwa mertuanya tidak akan pernah menceritakan hal yang diketahui, akan mencari tahu sendiri dengan menunggu kabar dari detektif yang saat ini masih menyelidiki sepupu sang istri.
'Sepertinya aku memang harus mencari tahu sendiri karena sepertinya ayah Aeleasha tidak akan pernah menceritakan padaku,' gumam Arsenio yang saat ini bisa mendengar sang istri yang terlihat sangat kesal karena tidak percaya dengan perkataan sang ayah.
Aeleasha benar-benar merasa sangat curiga pada sang ayah yang jelas terlihat seperti orang yang menyembunyikan kenyataan sebenarnya.
"Papa tidak berbohong padaku dan suamiku, kan? Kenapa aku merasa sikap Papa seperti tengah menyembunyikan sesuatu dari kami? Sebelum kami kembali ke New York, sangat ingin tahu mengenai kecelakaan yang berhubungan dengan keluarga besar Charlotte."
"Coba Papa ingat-ingat mengenai kejadian yang terjadi 15 tahun lalu. Siapa tahu Papa akan mengingatnya. Itu berarti aku saat itu berusia 10 tahun dan Mama masih hidup. Apakah 2 tahun sebelum Mama meninggal, terjadi kecelakaan?"
Aeleasha yang mencoba mengingat kejadian Apa yang terjadi ketika usianya masih 10 tahun, tetapi sama sekali tidak bisa mengingat mengenai hal yang berhubungan dengan kecelakaan.
Jadi, merasa sangat bingung dan iba pada sang suami karena tadi berjanji akan membantu Arsenio menemukan pelaku tabrak lari orang tuanya. Namun, jawaban dari sang ayah, membuatnya tidak bisa menepati janji.
Saat Aeleasha masih memikirkan tentang masa kecil, merasakan sentuhan pada pundak dan menoleh ke sebelah kiri, di mana sang suami terlihat menggeleng perlahan. Seolah memberikan sebuah kode agar tidak melanjutkan nada protes pada sang ayah.
"Sepertinya memang Papa tidak tahu mengenai kecelakaan yang menimpa orang tuaku, Honey. Jadi, jangan memaksa Papa untuk menceritakan hal yang tidak diketahui. Lebih baik kamu bersiap untuk berangkat ke bandara." Arsenio mengusap punggung sang istri dan tersenyum untuk menyembunyikan kekecewaan yang dirasakan saat ini.
Meskipun rasa penasaran semakin mendera dirinya ketika melihat raut wajah mertuanya yang terlihat sangat aneh. Apalagi ia bukanlah pria bodoh yang tidak bisa membaca ekspresi wajah orang lain.
Bahkan sebenarnya sang istri juga merasa sepertinya, tapi karena waktu sudah mendekati penerbangan dan harus segera berangkat ke bandara, sehingga tidak ingin meneruskan perdebatan mereka.
__ADS_1
Aeleasha yang saat ini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kiri, membenarkan perkataan sang suami dan memilih untuk memanggil pelayan agar membawa putranya.
"Sepertinya memang tidak ada waktu lagi dan kita harus segera berangkat." Melirik ke arah Rafael yang dari tadi berdiri tanpa membuka sepatah kata pun. "Apakah kamu jadi mengantarkan kami ke bandara?"
Rafael dari tadi dipenuhi berbagai macam pertanyaan di kepala karena merasa curiga ada hal besar yang sedang ditutupi oleh mantan mertua dan begitu mendengar suara Aeleasha, dan bersih tatap dengan mantan istri, refleks langsung menganggukkan kepala.
"Biarkan Arza di mobil bersamaku." Menatap ke arah mantan mertuanya. "Papa ikut kami ke bandara, kan?"
Cakra yang seketika menganggukkan kepala karena memang ingin mengantarkan Putri dan cucunya ke bandara. "Biar aku ikut di mobilmu bersama Arza. Nanti biar sopir yang mengemudikan mobilmu."
Ia memang sengaja ingin berada di mobil yang sama dengan Rafael karena ingin menceritakan mengenai hal yang ditutupi dan tidak bisa diceritakan pada Arsenio dan Aeleasha.
Rafael yang setuju karena tidak merasa keberatan, kini melihat Arza digendong oleh pelayan yang semakin mendekat.
Ia memang membiasakan Arza untuk memanggil Rafael papa karena memang pria itu sangat berjasa dalam hidup putranya.
Semua itu karena semenjak dalam kandungan hingga berusia 3 tahun mendapatkan kasih sayang dari Rafael.
Bocah berusia empat tahun tersebut yang mematuhi perintah dari sang ibu, kini mengarahkan tangan. "Papa."
Rafael yang merasa sangat senang karena Arza dengan mudah ikut dengannya dan memang sudah terbiasa dari dulu dipanggil papa oleh Arza. Sementara Arsenio selalu dipanggil daddy karena terbiasa dengan kebiasaan di luar negeri.
Kemudian Rafael menggendong Arza dan berjalan keluar dari pintu utama menuju ke mobil bersama mantan mertuanya. Rafael berpikir bahwa pria paruh baya tersebut akan menceritakan hal yang ditutupi padanya ketika memilih untuk berada di dalam satu mobil bersamanya.
__ADS_1
'Aku sangat yakin jika papa akan memberitahuku mengenai hal yang tidak bisa diceritakan kepada Arsenio dan putrinya sendiri,' gumam Rafael yang saat ini sudah masuk ke dalam mobil setelah membelikan kunci pada sopir yang akan mengemudikan kendaraan miliknya.
Sementara itu, Aeleasha yang saat ini berjalan bersama Arsenio, sebenarnya ingin sekali membahas mengenai sikap sang ayah. Namun, tidak berani mengatakan karena merasa akan membuat sang suami kecewa.
Apalagi tadi baru saja mendapatkan telpon dari ayah angkat di New York bahwa perusahaan mengalami masalah besar, sehingga semakin membuat pria yang sangat dicintainya tersebut mengalami beban pikiran teramat sangat.
Jadi, tidak ingin membahas mengenai masa lalu kelam sang suami dan mengalihkan pembicaraan begitu masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya perusahaan benar-benar sedang mengalami masalah yang tidak bisa di handle oleh daddy. Kebetulan sekali kita hari ini memang pulang ke New York. Jadi, daddy bisa sedikit lega," ucap Aeleasha yang saat ini menoleh ke arah sang suami yang duduk di sebelah kiri.
"Biar aku memeriksa seperti apa keadaan perusahaan saat ini," sahut Arsenio yang saat ini tidak membuang waktu untuk memeriksa pada tablet miliknya.
Tadi sang ayah angkat menelpon, mengatakan sudah mengirimkan email dan menyuruhnya untuk memeriksa. Namun, belum sempat membuka karena berpikir ingin mengetahui mengenai kecelakaan yang menimpa orang tuanya saat berhubungan dengan keluarga sang istri.
Namun, saat tidak ada jawaban yang didapatkan dari mertuanya dan hanya kekecewaan yang didapatkan, akhirnya Arsenio memilih untuk memikirkan mengenai masalah perusahaan terlebih dahulu.
Begitu membaca email yang berisi dokumen penting perusahaan mengalami masalah besar, seketika membuat Arsenio memijat pelipis karena merasa kesalahan fatal salah satu staf, membuatnya harus bersusah payah untuk menyelesaikan semuanya.
"Berengsek!" sarkas Arsenio yang saat ini mengepalkan tangan kanan begitu mengetahui bahwa perusahaan mengalami masalah besar.
"Kenapa, Sayang? Apakah separah itu?" tanya Aeleasha yang saat ini semakin merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada perusahaan sang suami.
Namun, tidak ada jawaban dari pertanyaannya karena pria yang sangat dicintainya tersebut hanya menghembuskan napas kasar.
__ADS_1
To be continued...