
Beberapa saat lalu, Rafael yang berada di dalam hotel, masih menunggu kedatangan wanita yang ingin ditanyai macam-macam. Ia tadi merasa marah karena tawarannya untuk datang menjemput Alesha ditolak karena beralasan tidak ingin dianggap pamer suami pada teman-teman yang belum menikah.
Sebenarnya ia tahu jika itu adalah sebuah alasan konyol semata demi bisa menipunya. Rafael sangat yakin jika Alesha tidak ingin dijemput karena hendak menipunya. Bahwa wanita itu hendak menemui sang dosen yang tadi dikatakan baru saja mengalami kecelakaan.
Ia langsung menghubungi salah satu ahli IT di perusahaan untuk mencari tahu mengenai semua hal yang berhubungan dengan kecelakaan Alex. Dengan berencana pergi ke rumah sakit tempat pria itu dirawat jika Alesha tidak kunjung kembali nanti.
"Menunggu satu jam adalah waktu yang tepat karena perjalanan dari tempat kos sahabatmu tidak mungkin memakan waktu lebih dari itu." Rafael yang mengempaskan tubuhnya di atas sofa karena dari tadi tidak bisa berhenti memikirkan hal yang terjadi ketika bangun tidur melihat tubuhnya tanpa selembar benang pun.
Untuk mengusir rasa bosan, Rafael menghubungi seseorang yang tak lain adalah Aeleasha yang kini tengah disibukkan dengan usaha restoran baru. Memang akhir-akhir ini Aeleasha susah dihubungi dengan alasan sibuk.
Padahal tahu jika yang sebenarnya adalah mantan istrinya itu sengaja menghindar darinya karena ia telah menikah. Begitu panggilan diangkat, kini mendengar suara anak kecil menggemaskan yang diketahuinya bernama Arza.
"Halo, Papa Rafael."
"Halo, Putraku sayang. Arza sudah makan? Apa yang sekarang Arza lakukan?" Rafael sempat merasa kecewa karena tidak bisa mendengar suara Aeleasha yang sangat dirindukan.
'Pasti Aeleasha sengaja menghindariku dengan tidak mau berbicara dan menyerahkan pada Arza,' gumam Rafael yang saat ini tengah menunggu putranya tersebut berbicara.
"Arza sudah makan disuapi mommy. Sekarang mommy kerja dan Arza main game dari ponsel mommy ditemani kakak Eny," jawab anak laki-laki yang saat ini tengah bersama seorang baby sitter yang menjaga.
Tentu saja Rafael tahu jika Arza tengah bersama sang baby sitter, sehingga kini ingin berbicara dengan wanita itu untuk bertanya.
"Serahkan ponselnya pada kak Eny dulu, Sayang."
"Oke."
Rafael yang saat ini tengah menunggu suara dari seberang telpon, beberapa saat kemudian bisa mendengar sang baby sitter berbicara.
"Halo, Tua Rafael. Apa ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Apa kamu bisa memberikan ponselnya pada bosmu. Ada hal penting yang ingin kusampaikan." Rafael hendak berbicara dengan Aeleasha mengenai membuka cabang restoran karena usaha mantan istrinya tersebut berkembang dengan pesat.
"Maaf, Tuan Rafael. Nyonya Aeleasha hari ini berpesan tidak menganggu karena sibuk hari ini ketika ada pesanan untuk acara pertunangan yang akan dilakukan di restoran ini. Jadi, mengatakan agar mengatakan itu jika ada yang menghubungi dan menyerahkan ponsel untuk bermain tuan Arza."
Sang baby sitter yang sudah mendapatkan pesan dari majikan, sebenarnya merasa tidak enak tidak bisa menuruti keinginan dari pria di seberang telpon. Namun, sudah menjadi kewajiban untuk menuruti perintah majikan yang diketahui hanya ingin menghindar dari pria itu.
Merasa sangat kecewa karena tujuannya untuk menghibur diri tidak tercapai, akhirnya Rafael memilih menyerah dan kembali menyuruh untuk menyerahkan ponsel pada Arza.
Ia berbicara pada anak laki-laki yang sudah dianggap seperti putra kandungnya sendiri tersebut. Namun, baru beberapa menit berlalu, melihat ada panggilan masuk dari nomor tidak terdaftar.
Rafael mengerutkan kening karena ada nomor tidak dikenal yang menghubungi. "Siapa ini?"
Karena merasa penasaran, Rafael mengucapkan salam perpisahan pada Arza karena alasan bekerja dan langsung mengangkat panggilan telpon dari orang tidak dikenal.
"Halo?"
"Halo, Tuan Rafael Zafran?" tanya Ana Maria yang tadi meminta nomor ponsel Rafael dari salah satu teman baiknya karena mengetahui jika semalam menghadiri acara pernikahan dari pengusaha sukses tersebut yang dianggap sangat bodoh karena menikahi seorang wanita murahan seperti Alesha.
"Ya, benar. Saya Rafael, lalu Anda?"
"Saya mamanya Alex Claire. Apakah Anda pernah mendengar nama putra saya?" tanya Ana Maria di seberang telpon dengan tersenyum menyeringai dan ingin memastikan rencana selanjutnya setelah mendengar tanggapan dari pria itu.
Refleks Rafael mengepalkan kedua tangan karena saat ini merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres. 'Berengsek! Kenapa ibu dari si berengsek itu menghubungiku? Dari mana pula mendapatkan nomorku? Pasti ini berhubungan dengan Alesha.'
Tidak ingin sibuk bertanya sendiri di dalam hati, kini Rafael memilih untuk berbicara jujur.
"Iya, Nyonya. Saya mengenal Mr. Alex yang merupakan dosen di kampus istri. Lalu, ada apa Anda menghubungi saya?"
"Syukurlah jika Anda sudah mengenal putra saya. Jadi, saya tidak susah untuk memperkenalkan diri. Karena tidak ingin putra
__ADS_1
saya mendapatkan masalah dan dituduh macam-macam, seperti menggoda istri orang, tolong Anda menemani istri yang menjenguk dosen di rumah sakit."
Ana Maria yang berhenti sesaat untuk menceritakan tentang kelakuan Alesha dan sangat yakin jika pergi tanpa sepengetahuan suami, sehingga ingin memberikan sebuah pelajaran agar jera dan tidak berani menggangu putranya.
"Memang sebuah hal lumrah jika para mahasiswi datang menjenguk dosen di rumah sakit, tapi karena status yang baru saja menikah, jadi tidak ingin putra saya dituduh memiliki hubungan terlarang. Anda paham kan maksud saya?"
Ana Maria kini merasa telah berhasil melancarkan serangan dan tinggal menunggu hingga meledak. Tentu saja ia tersenyum menyeringai ketika mendengar suara bariton dari seberang telpon.
"Terima kasih sudah memiliki niat baik untuk mengingatkan saya. Katakan saja rumah sakitnya. Saya akan langsung ke sana untuk menjemput istri." Rafael menahan amarah dengan sekuat tenaga dan kali ini wajahnya sudah memerah.
Bahkan ia mengambil kunci mobil di atas nakas dan berjalan keluar dari kamar hotel karena ingin sekali segera menyeret wanita yang telah berani menipu dan mempermalukannya.
"Sekarang kami ada di rumah sakit Aisyah, Tuan Rafael. Maaf jika membuat Anda merasa tidak nyaman. Saya sangat senang bisa bertemu dengan pria hebat seperti Anda. Terima kasih."
Rafael yang sama sekali tidak menanggapi, kini mendengar suara panggilan telpon yang terputus dengan langkah kaki panjang menuju lift, benar-benar merasa sangat murka.
"Dasar wanita murahan dan tidak tahu diri! Lihat saja! Aku akan memberikan pelajaran padanya karena berani melawanku!" Ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya ketika lift telah terbuka dan berjalan menuju ke lobi menuju parkiran.
Bahkan saat ini hanya bisa mengumpat di dalam hati karena berusaha menjaga nama baik. Hingga ia masuk ke dalam mobil, langsung mengabsen seluruh kebun binatang.
"Wanita liar itu perlu diberikan sebuah pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Lihat saja nanti!" sarkas Rafael yang saat ini tengah mengemudi menuju rumah sakit sambil sibuk mengempaskan tangan pada kemudi.
Ia tidak sabar ingin melihat bagaimana respon dari Alesha yang menipunya mentah-mentah tidak ingin dijemput karena beralasan tidak ingin pamer suami hebat sepertinya.
Bahkan saat mengingat hal itu, Rafael benar-benar sangat marah, tapi hanya bisa tertawa terbahak-bahak menanggapinya. Rafael merutuki kebodohannya sendiri karena meskipun curiga pada Alesha, tetapi tetap mengizinkan untuk naik taksi.
"Aku yang bodoh dan Alesha yang licik," sarkas Rafael dengan tertawa terbahak-bahak sambil mengempaskan tangan pada kemudi.
Berharap bisa segera tiba di rumah sakit dan melihat bagaimana ekspresi wajah dari wanita yang telah menipunya. "Aku ingin tahu, seperti apa wajahmu ketika melihatku datang."
__ADS_1
To be continued...