
Lin Tian bisa dengan mudah mentransfer energi api melalui armor yang di pakai oleh dewa angin itu ke pedangnya, karena Lin Tian tahu jika dia tidak sepenuhnya membakar habis jiwa dan darah dari monster itu maka, mungkin dia pasti akan tetap hidup lagi.
Dewa angin yang sekarang menusuk jantung anaknya telah meneteskan air mata, hatinya sangat sakit sampai air matanya pun terlihat bisa berubah menjadi air mara darah kapan saja.
Walaupun anaknya sudah melakukan hal jahat tapi pria muda yang dia tusuk ini masihlah anaknya, daging darahnya sendiri. Dia melihat lagi ke tubuh tuan muda kedua yang benar-benar telah diam dan tidak bergerak lagi itu, dia perlahan menghelus wajah tampan pemuda yang telah diam itu dengan lembut penuh kasih sayang.
"Ayah! jangan pernah menyesal dengan apa yang kamu lakukan!" ucap suara yang tiba-tiba keluar dari mulut tuan muda kedua.
Mendengar suara itu dewa angin bergetar, dia memandangi anaknya tersenyum ke arahnya dengan wajah yang terlihat bangga, perlahan dari tubuh tuan muda kedua sosok putih muncul di hadapan dewa angin dan tubuh tuan muda kedua itu kembali tidak bergerak tapi sekarang ada senyum di wajahnya.
"Anakku!" ucap dewa angin saat melihat energi putih yang berubah menjadi sosok anaknya itu.
"Ayah, maafkan aku yang telah mengecewakan mu! aku adalah anak yang tidak berbakti kepadamu dan juga ibu" ucap tuan muda kedua dengan senyum indah di wajahnya.
"Tidak nak, ayah yang salah! ayah yang salah" ucap dewa angin penuh air mata.
Tuan muda kedua menggelengkan kepalanya, dia tahu kalau ayahnya sangat berat kehilangan dirinya saat ini apalagi setelah ayahnya mendengar perkataan dia saat dirinya akan mati itu. Padahal setelah dia mengatakan hal seperti itu dia ingin ayahnya tidak lagi menganggap dia sebagai anaknya, lalu dengan begitu baik ayah dan keluarganya tidak akan terbebani dengan kematiannya.
Tapi dia salah! dia terlalu meremehkan cinta seorang ayah, dia tidak menyangka bahkan setelah dia mati ayahnya pun masih mencintainya dan malah menyalahkan dirinya sendiri karena perubahan yang dia alami saat itu.
Dia benar telah mati, tapi setiap orang yang mati tidak akan semudah itu kehilangan jiwanya setelah dia mati, pasti akan ada sedikit jiwa di dalam tubuhnya karena itulah dia dapat melihat apa yang terjadi selama ini dari awal sampai ayahnya bertarung melawan jenderal Dong hanya untuk mengambil tubuhnya kembali.
__ADS_1
"Ayah, aku salah! aku berfikir kamu akan melupakanku dan mebenciku setelah perkataanku saat aku akan mati, tapi itu semua benar-benar salah! kali ini ayah, aku hanya ingin kamu tetap menjadi ayahku yang tersenyum kepadaku, dan kali ini kirim aku dengan senyum kasih sayanhmu, bisakah?" ucap tuan muda angin.
Mendengar permintaan anaknya untuk terakhir kalinya, dewa angin berusaha untuk tersenyum bahkan dia mengepalkan tangannya lalu menghapus air matanya. Lalu dia tersenyum ke arah anaknya, tapi bagaimana dia tersenyum air mata tetap menetes membasahi wajahnya yang membuat semua orang disana juga merasakan perasaan yang sangat menyakitkan.
"Iya, ayah akan selalu tersenyum untukmu" ucap dewa angin dengan suara agak serak.
Melihat senyum ayahnya tuan muda kedua juga ikut tersenyum dan mengangguk puas, kali ini mungkin dia bisa pergi dengan tenang tanpa penyesalan di hatinya setelah melihat ayahnya dan mengatakan semuanya kepada ayahnya.
"Ayah, tetaplah menjadi dewa angin! dan setialah kepada kaisar langit yang baru kita, dan aku harap ayah akan jauh lebih kuat dari orang-orang yang setia kepada kaisar langit! dengan begitu aku akan bangga di sana" ucap tuan muda kedua yang bentuk jiwanya perlahan menjadi ilusi.
"Yakinlah, ayah akan menjadi orang yang paling setia kepada kaisar langit kita! dan aku akan membuat mu bangga karena mempunyai ayah sepertiku" ucap dewa angin benar-benar berjanji tulus kepada anaknya.
"Iya, jika aku memiliki anak lagi! aku akan memberi nama yang sama denganmu, dan saat itu maka mungkin dia akan menjadi anak kebangganku dan alam angin" ucap dewa angin dengan senyum dan air mata di wajahnya.
Meskipun dia benar-benar telah kehilangan anaknya, tapi batu besar di hatinya benar-benar sudah menghilang. Dan karena perkataan dari anaknya membuat dia menjadi lebih tenang dan terbuka dari sebelumnya, bahkan dia merasa kalau kekuatannya juga sedikit meningkat karena beban di hatinya sudah tidak ada lagi.
Dia melihat ke arah tubuh anaknya itu, lalu dengan lembut membelai wajahnya yang masih tersenyum manis itu, dia tahu dia telah kehilangan anaknya tapi dia telah berjanji kepada anaknya untuk membuat dia bangga.
"Anakku, mari kita kembali ke alam angin setelah semua masalah disini selesai" ucap dewa angin lalu dia memasukan mayat tuan muda kedua ke dalam peti dan lalu menuju ke arah Lin Tian.
Dia langsung berlutut di hadapan Lin Tian dengan wajah tulus dan penuh keyakinan lalu dengan tenang dia berkata kepada Lin Tian.
__ADS_1
"Aku dewa angin dan seluruh alam angin akan mengikuti perintah kaisar langit! jika aku dan alam ku mengkhianati kaisar maka biarkan seluruh keluargaku musnah di bakar menjadi abu oleh petir langit" ucap Dewa angin, lalu di ikuti dengan seluruh tetua serta bawahan dari alam angin.
Lin Tian yang melihat dewa angin berlutut sedikit tidak senang tapi dia tahu kalau ini adalah kebiasaan bagi mereka, dan dia hanya bisa menghela nafas berat setelah melihat semua itu.
"Bangun! aku tidak terlalu suka untuk melihat orang lain berlutut di hadapanku, dan juga jika aku jadi kalian aku tidak akan sering berlutut seperti itu, karena akan menyebabkan kita terlalu cepat menjadi tua" ucap Lin Tian sambil bercanda.
"Hahaha, sepupu kamu benar! orang yang sering membungkuk memang cepat lebih tua! contohnya ayahku dan juga paman Mu, karena dia terlalu sering membungkuk dia bahkan tidak kuat untuk bermain beberapa jam" ucap Lin Guang menambah kan bahan setelah Lin Tian berbicara
"Hahahah, bukankah kalau begitu dewa elemen dan dewa es pria yang lemah?" ucap jenderal Nan Mo samb tertawa.
Akibatnya suasana yang tadi agak sedih dan hening menjadi tawa yang bahagia karena candaan Lin Guang tersebut, tapi Lin Tian tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Lin Guang jika pamannya tahu kalau dia menjadi bahan bercandaan bagi orang alam langit.
"Kenapa?" tanya Lin Tian yang sadar kalau Bai kecil masih memandang langit dengan diam.
"Tua Bangka! keluar kau!" teriak Bai kecil dengan keras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...****************...
__ADS_1