
"Eh! itu..itu.. Kakak sepertinya paman kedua memanggil aku. Jadi aku pergi dulu, dah!" ucap Lin Jia Li tahu kalau kakaknya ingin menguji dia.
Tentu dua gadis lain juga tidak mau berlama-lama disana karena Lin Tian menanyakan tentang latihan mereka. Yang mana ketiganya lebih senang bermalas-malasan dariapda berlatih selama ini.
Melihat tiga gadis yang berlari lebih cepat dari kelinci membuat Lin Tian dan Lin qi'er tersenyum menggelengkan kepala mereka.
"Lihatlah! adikmu ini sangat mirip dengan Bai kecil. ini juga ajaran si kucing nakal itu!" ucap Lin qi'er.
"Em! aku tahu ibu tenang saja nanti aku akan menasehati mereka bertiga agar tidak bermalas-malasan lagi untuk berlatih" ucap Lin Tian dengan senyum.
"Kalau begitu bagus! ayo, bawa ibu ke sekte seni beladiri untuk melihat menantu ibu" ucap Lin qi'er berdiri menarik Lin Tian.
"Ibu.. telan Pill ini dulu baru kita pergi" jawab Lin Tian tidak berdaya melihat tingkah ibunya yang tidan sabaran itu.
"Baiklah!"
Lin qi'er menelan Pill yang diberikan Lin Tian, seketika itu juga energi hangat dirasakan oleh Lin qi'er yang membuat seluruh kerutan di wajahnya menghilang dan tubuhnya yang agak lemah telah kembali berenergi dariapda sebelumnya.
Setelah berhasil menyerap semua energi dari Pill itu, akhirnya Lin Tian membawa Lin qi'er ke sekte seni beladiri langsung untuk menemui Sheng Chu'er. Setelah sampai disana Lin Tian langsung di usir oleh wanita-wanita tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.
"Sial! dimana kesedihan dan air mata untukku itu?" tanya Lin Tian dalam hatinya melihat kalau ibu-ibunya malah senang dengan menantu baru mereka.
Dengan sedih Lin Tian hanya dapat pergi dari sana meninggalkan para wanita yang tertawa sambil mengobrol bahagia. Lin Tian pada akhirnya memilih kembali ke puncak tempat dia tinggal dulu dan melihat kalau tempat tinggalnya sangat bersih merasa senang. Dia pun mencoba berbaring di ayunan tidur sambil menikmati siang hari yang cerah itu.
"Andai hidup ini bisa sesantai sekarang" ucap Lin Tian memandangi langit yang sangat cerah di hari itu.
Dia tersenyum lalu masuk ke dalam dimensi melahapnya. Disana terlihat ada dua bentuk satu besar dan satu kecil sedang di hisap oleh dimensi melahap. Yang kecil itu adalah tulang mayat perak yang sekarang sudah mulai hilang menjadi debu.
__ADS_1
Sedangkan Laba-laba perak yang terwujud dari meteor Pemusnah sudah mulai melemah sejak di tarik ke dalam dimensi melahap oleh Lin Tian. Awalnya dia masih bisa melawan disini sayangnya itu hanya beberapa hari sebelum dia tidak dapat bergerak dan kesadarannya telau melemah.
Perbedaan waktu di dalam dimensi melahap cukup jauh karena satu hari di luar sama dengan satu bulan di dalam. Hanya tempat ini tidak cocok bagi orang lain untuk berlatih dikarenakan dimensi ini adalah milik Lin Tian yang digunakan untuk menghisap energi dunia dan energi seluruh makhluk hidup yang masuk ke dalamnya untuk jadi milik Lin Tian sendiri.
"Kau...!"
Laba-laba itu menatap Lin Tian dengan penuh kebencian. Jika dia bisa melawan dan memukul Lin Tian maka dia berharap bisa membunuh Lin Tian beribu kali.
"Jangan terlalu melawan, terima saja nasibmu" ucap Lin Tian dengan senyum memandang laba-laba perak itu.
"Tu..tuanku pasti akan membunuhmu! setelah dia pulih dan hidup kembali maka tidak ada yang dapat melawan bahkan menahan satu serangan dari dia!".
Laba-laba itu berteriak dengan marah kepada Lin Tian dengan kata-kata yang jelas mengancam Lin Tian dengan nama tuannya.
"Aku tidak pernah takut dengan tuanmu! oiya, aku telah mulai memurnikanmu bukan? energi ini benar-benar luar biasa, jika aku bisa memurnikan dua atau tiga darimu mungkin aku bisa mencapai tingkat setengah dewa kaisar dengan sekali usaha" ucap Lin Tian.
Laba-laba hitam bergetar karena marah, di hatinya ada sedikit penyesalan karena telah datang dan membuat masalah dengan pria muda yang begitu tak tahu malu ini. Tapi bagaimana bisa dia tahu kalau pria ini mempunyai elemen yang paling ditakuti oleh sukunya?.
"Jika benar makhluk seperti ini masih ada banyak di alam langit atau dunia dewa, maka ini akan menjadi bencana besar bila saat itu datang" fikir Lin Tian serius.
Lin Tian menghela nafas pada akhirnya dan kembali ke dunia luar tanpa mempedulikan lagi meteor yang sudah tidak ada kesadaran itu. Di luar dia melihat kalau anak angkatnya Lin Ru'er berusaha menyadarkannya beberapa kali.
"Ayah! bangun... eh, kenapa malah tidur disini?" ucap Lin Ru'er memanggil-manggil Lin Tian dengan kesal.
"Hm? ada apa? kenapa kamu bertingkah seperti anak kecil? oiya! gadisku ini memang gadis kecil" ucap Lin Tian tersenyum melihat Lin Ru'er.
"Ugh! ayah, ibu Sheng mengatakan kalau kamu punya banyak benda bagus! mana oleh-oleh buat Ru'er ayah?".
__ADS_1
Lin Ru'er terlihat protes dan ingin meminta sesuatu kepada Lin Tian. Lin Tian tahu meski dia telah tumbuh dewasa namanya juga seorang gadis pasti akan selalu menempel kepada ayahnya dan anak ini hanya berani meminta kepada ayahnya dibandingkan kepada ibunya.
"Kenapa tidak minta pada kedua ibumu saja?" tanya Lin Tian bercanda.
"Ayah! bagaimana bisa aku meminta kepada ibu? ugh, ayah apa tidak menyayangiku lagi?" tanya Lin Ru'er dengan wajah sedih.
"Ais! kamu benar-benar pintar untuk membujuk ayah" ucap Lin Tian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Lin Ru'er.
"Hehehe.. Terima kasih ayah! aku sayang ayah" ucap Lin Ru'er setelah menerima cincin dari Lin Tian. Dia juga mencium pipi Lin Tian dan langsung pergi meninggalkan Lin Tian tanpa pamit.
"Ais! beginilah seorang anak perempuan, setelah dia mendapatkan apa yang dia mau maka ayahnya langsung di lupakan" ucap Lin Tian menghele nafas memandang anaknya itu.
Dia kembali menutup matanya dan beristirahat di ayunan itu sambil menikmati udara di puncak rumahnya itu. Hanya setelah sorelah dia baru bangun dan pergi menemui ayah dan dua pamannya.
"Bagaimana ayah?" tanya Lin Tian.
"Semuanya baik-baik saja untuk sekarang. Tapi aku masih tidak tahu apakah kelompok ini masih akan menyerang atau tidak" jawab Lin Dong.
"Biarkan saja, jika mereka menyerang iya kita lawan saja" ucap Lin Diao.
"Iya, benar kata saudara kedua". Tambah Lin Xiao saudara ketiga Lin Dong.
"Oiya ayah! ada yang ingin aku tunjukan padamu, ayo ayah gunakan kesadaran ilahimu" ucap Lin Tian kepada Lin Dong.
"Baik" Lin Dong langsung mengeluarkan kesadaran ilahinya untuk masuk ke dalam ruang kesadaran Lin Tian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...
...****************...