
Di depan pintu Putih Lin Tian berdiri disana dengan tenang, leluhur roh yang telah kembali ke wujud aslinya memandang Lin Tian dengan wajah sedikit benci. Saat di istana langit, dia mendapatkan rasa malu yang luar biasa. Baik dari Lin Dong maupun Bai kecil yang sangat meremehkan dia saat itu.
Kalau bukan karena Sang pencipta, dia mungkin tidak akan bisa lepas dari Lin Dong yang kekuatannya sama dengan Sang pencipta meskipun Lin Dong belum sepenuhnya pulih. Dia sangat ingin membunuh Lin Tian sekarang tapi Sang pencipta pasti akan membunuhnya jika melakukan hal itu.
"Sepertinya kamu benar-benar telah jatuh ke dalam kegelapan" ucap Lin Tian yang tidak bisa melihat itu.
"Ha! Aku masih sama dengan aku yang dulu, kegelapan? apa kamu berkhayal?" tanya Leluhur roh penuh kebencian.
"Hahaah, Leluhur roh yang agung tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk! bukankah itu sudah jatuh dalam kegelapan?".
"Aku hanya mematuhi perintah dari ayahku!" jawab leluhur roh marah.
"Ayah? bahkan jika itu ayahmu, bila dia salah iya jangan di ikuti! sebagai anak harusnya kamu bisa memberi nasehat kepada dia" ucap Lin Tian.
Leluhur roh tidak menjawab, matanya terus menatap bagian belakang Lin Tian dengan tatapan penuh rasa benci. Pria muda di depannya ini, meskipun belum sekuat Lin Dong tapi dia sudah jauh lebih baik dari kebanyakan orang. Hanya masalah waktu sebelum Lin Tian mencapai kekuatan yang jauh lebih kuat dari ayahnya sendiri.
Tapi itu sekarang tidak mungkin, dia telah menyatu dengan Sang pencipta sebelumnya dan dia dapat melihat kalau Sang pencipta ingin menguasai tubuh Lin Tian untuk dirinya sendiri. Sedikit senyuman muncul di wajah leluhur roh, dia ingin melihat bagaimana ekspresi Lin Tian saat sadar kalau dirknya hanya menjadi wadah untuk Sang pencipta.
Cracckkkk....
Pintu putih tiba-tiba terbuka, leluhur roh tahu kalau ayahnya telah memberi perintah untuk membiarkan Lin Tian masuk ke dalam pintu tersebut. Lin Tian hanya berjalan ke depan tanpa bisa melihat apapun, dia masuk melewati pintu putih itu.
"Jika kamu masih mengingat kenangan indah di saat kamu bersama teman-temanmu, mungkin kamu akan sadar kalau semua yang kamu lakukan adalah salah" ucap Lin Tian dari dalam pintu itu untuk leluhur roh.
__ADS_1
Setelah Lin Tian masuk, pintu putih tertutup kembali. Meninggalkan leluhur roh yang terdiam dengan ucapan terakhir Lin Tian, meskipun itu hanya kalimat sederhana tapi itu benar-benar membuat sedikit kesadaran di hati leluhur roh.
Teman? dia tentu memilikinya dulu, bahkan dulu dia sering bermain dan juga melakukan hal nakal dengan teman-temannya di masa itu. Dan meskipun teman-temannta menjadi kuat seiring waktu, mereka tetap menjadi teman bahkan saat leluhur roh masih Roh yang lemah. Teman-temannya itu membantu dirinya untuk menjadi lebih kuat, karena itulah dia bisa mencapai tingkat yang sekarang.
"Temankah? apa aku salah?" ucap leluhur roh tanpa ia sadari. Keinginan untuk menjadi kuat membuat dia melupakan dirinya yang dulu, dirinya yang menjunjung rasa kebenaran dan keadilan. Tapi sekarang dia benar-benar di selimuti oleh keinginan untuk menjadi kuat.
"Sial! kau bekerja lagi? kenapa tidak mengajak kami?" tanya sosok anak berusia tujuh tahun.
"Aku.... aku hanya tidak ingin kalian jatuh ke dalam masalah" ucap anak kecil yang lain memegang keranjang berisi apel.
"Kamu!".
"Sudah jangan marahi dia terus, dia juga saudara kita. Dan dia melakukannya untuk kita juga bukan?" ucap anak gadis yang cantik disana.
"Tch! ini tugasku sebagai kakak, dia harusnya diam dan menerima apa yang aku berikan. Bukan bekerja keras untuk mengisi perut kita!" ucap anak laki-laki yang lain.
"Adik kecil, kamu adalah roh yang memiliki hati baik dan juga kejujuran yang lebih baik dari pada kami. Dan kamu juga yang paling kecil di antara kami, tugas mencari makan itu serahkan kepada kami. Dan untukmu, berlatihlah agar menjadi roh yang kuat. Dengan begitu kami saudara-saudaramu sudah sangat bangga untuu" ucap gadis itu menghelus kepala pria kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Tapi... tapi.."
"Sudahlah! ambil buku ini dan baca, berlatih yang keras dan untuk kebutuhan kamu biarkan kakak-kakakmu yang memenuhinya" ucap pria yang lain memberikan buku kepada pria kecil itu.
"Baik kakak".
__ADS_1
"Ingat! jika kamu memiliki kekuatan jangan pernah menjadi sombong, lindungi apa yang bisa kamu lindungi" ucap gadis itu dengan tulus.
Leluhur roh yang bersandar di pintu putih itu jatuh dalam kenangannya di masa kecil. Dia memiliki saudara-saudara yang tulus menyayanginya, membantu dia untuk terus berkembang. Meskipun dua di antara mereka mati saat dia masi kecil tapi dia tidak pernah melupakan mereka. Dan saat kehancuran itu terjadi Kakak perempuannya juga mati untuk melindungi naga kecil, dan satu lagi saudaranya yang sekarang adalah Naga kecil itu sendiri.
Saat dia bertemu dengan naga kecil sebelumnya jelas naga kecil memandang ia dengan tatapan jijik dan meremehkan. Tentu dia sendiri mengerti alasan Naga kecil memandang dirinya seperti itu. Leluhur roh menggertakan giginya, dia memanggil mata ketiganya lalu mencongkel mata itu keluar dari tubuhnya.
Meskipun rasa sakit membuat seluruh tubuhnya terasa di cabik-cabik, tapi leluhur roh tidak berhenti dan terus berusaha mengeluarkan mata itu dari keningnya.
"aku tidak menginginkan mata ini!" teriak leluhur roh yang telah berhasil mengeluarkan mata ketiganya itu dari keningnya.
"Aku tidak butuh! aku hanya butuh teman dan saudaraku, aku tidak butuh kekuatan yang palsu seperti ini" ucap leluhur roh menghancurkan mata itu di dalam genggamannya.
BOOMM..
"Ugh!" efek samping yang dia alami membuat dirinya memuntahkan seteguk darah. Hal itu membuat kekuatannya langsung turun satu ranah, tapi leluhur roh tidak peduli dengan hal itu. Dia menatap pintu putih dengan wajah yang tertekan, kesadaran lamanya baru saja kembali. Jika itu dirinya yang sekarang, dia pasti akan melakukan apapun agar Lin Tian tidak masuk.
"Pemuda itu memiliki daya pikat yang luar biasa untuk orang-orang sekitarnya, jika kamu berhasil keluar dari sana aku sebagai leluhur roh pasti besumpah mati untuk mengikutimu!" ucap leluhur roh dengan wajah lemah ke arah pintu putih.
"Saudaraku, tunggu aku! saat perang itu terjadi aku pasti ada disana menemanimu" ucap leluhur roh pergi dari tempat itu dengan ketegasan dan ketetapan hati pasti.
Di dalam pintu putih, mata emas terlihat cemberut. Dia tidak menyangka kalau leluhur roh memberontak kepadanya, dengan berani menghancurkan mata yang telah dia berikan kepada leluhur roh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...
...****************...