Lahirnya Kaisar Langit Season II

Lahirnya Kaisar Langit Season II
72. Kesedihan Kucing Api


__ADS_3

Lin Tian kaget melihat semua itu, dan dia melihat kristal berwarna putih di salah satu dari semua barang yang di bawa kucing tersebut.


"Kamu bisa merasakan aura orang tua mu bukan? kalau begitu mari kita pergi" ucap Lin Tian sambil tersenyum.


Kucing api pun mengangguk lalu dia menjadi kecil dan masuk ke dalam kantong binatang Lin Tian, setelah Lin Tian yakin tidak ada apa-apa lagi di dalam dia pun langsung keluar.


Sedangkan kristal warna putih itu telah hilang di lahap oleh inti iblis yang ada di dalam tubuh Lin Tian, Lin Tian tahu kalau mungkin itu sesuai dengan elemen yang di miliki oleh ibu harimaunya, hal itu membuat Lin Tian bahagia.


Lin Tian terus terbang selama beberapa hari, dia hanya akan istirahat setelah malam muncul dan memanggang beberapa daging untuk dia makan bersama degan Naga kecil serta kucing api tentu ikut.


Meong...!


"Jika kamu suka maka makan saja" ucap Lin Tian kepada kucing api yang sekarang telah menjadi kecil itu.


Kucing itu benar-benar mirip dengan kucing biasa tapi bedanya sekarang di ekor kucing api ada api kecil yang terlihat benar-benar hidup.


Naga kecil terlihat santai sambil minum anggur dengan wajah yang puas, dia memandang langit biru sambil berkata lantang ke langit itu.


"Takdir bodoh mu itu akan segera aku patahkan!" ucap naga kecil dengan suara lantang.


Lin Tian yang mendengar hal itu hanya tersenyum, dia tidak mengganggu naga kecil karena dia sedikit mengerti kalau mungkin naga kecil yang terlihat nakal itu mempunyai masalah dia sendiri.


Tentu Lin Tian tidak akan bertanya karena Lin Tian ingin naga kecil sendiri yang mengatakan nya sendiri kepada dia, dan tentu jika benar naga kecil dalam masalah dia akan pasti membantu nya.


Karena Lin Tian telah menganggap naga kecil sebagai adiknya, sama dengan Bai kecil dan yang lain.


"Apa kamu bisa merasakan kehadiran orang tua mu?" tanya Lin Tian kepada kucing api.


Meong...!


Kucing api menjawab ragu karena kadang dia merasakan nya kadang dia tidak dapat merasakan kehadiran orang tuanya itu.


Lin Tian menghela nafas, dia yakin kalau orang tua kucing ini ada di sekitar lantai dua tapi dia yakin kalau mungkin mereka telah benar-benar mati disini.


Dari apa yang dia tahu hawa kehadiran yang seperti itu biasanya hanya terjadi pada sesuatu roh kecil yang bertahan atau peninggalan dari orang yang telah mati.


Setidaknya orang tua kucing ini mungkin berada di alam dewa surgawi itulah yang bisa Lin Tian simpulkan sekarang.

__ADS_1


"Baiklah! mari kita terus berkeliling besok" ucap Lin Tian sambil menghelus kucing api.


Meoang!


Kucing api mengangguk senang, dia tidur di pangkuan Lin Tian dengan wajah senang jelas tidak seperti saat pertama bertemu dimana kucing ini takut pada Lin Tian.


"Huf...!" desah Lin Tian melihat kasihan kepada si kucing.


Dia juga merasakan hal itu, hidup hanya sendirian dan menunggu seseorang untuk datang betapa sedihnya itu?.


"Yakin lah, meskipun orang tua mu tidak ada lagi! aku akan menjaga mu dan juga kamu akan jadi keluargaku" ucap Lin Tian.


Ke esokan harinya Lin Tian terus saja berkeliling di sekitar alam kedua, meskipun beberapa hari lalu dia telah menemukan pintu alam ketiga dia tidak masuk tapi malah berbalik untuk membantu kucing api.


Swish....


Lin Tian terus terbang dan sampai di sebuah lembah yang sangat gelap, dia melihat ada jurang yang di penuhi oleh aura kematian.


Meong.. meongg..!


Kucing kecil seperti merasakan sesuatu, dan berusaha mengatakan hal itu pada Lin Tian.


Apalagi aura kematian yang sangat padat ini mana mungkin ada makhluk yang bisa hidup kecuali kalau itu adalah mayat atau boneka khusus yang di buat.


"Kita turun saja, berharap saja kita salah" ucap Lin Tian sambil melihat kucing api yang berada di dalam bajunya.


Lin Tian turun bersama Bai kecil dan kucing api, tentu karena Lin Tian memiliki elemen kematian tidak jadi masalah bagi dirinya untuk masuk.


Malah dia bisa merasakan kalau elemen kematiannya semakin meningkat setelah masuk ke dalam jurang itu.


Swish...


"Ini?" saat Lin Tian turun dia takjub melihat banyak tulang berbagai makhluk di sana, dia bisa melihat ada beberapa tulang manusia dan berbagai binatang iblis.


Meong..!


Kucing api langsung turun dan berlari menuju sumber yang dia rasakan, Lin Tian langsung mengejarnya takut sesuatu yang buruk menimpa kucing api kecil itu.

__ADS_1


Meong....!


Kucing api berhenti di depan dua tulang besar yang mirip seperti kucing, dimana di dalam tulang kepala nya ada dua api berbeda yang masih menyala.


"Kucing kecil" ucap Lin Tian sedih.


Meong...!


kucing api seperti tahu kalau itu adalah orang tuanya terus menghelus tulang kepala itu, dia menangis disana sambil terus bersuara seperti kucing yang sedih.


Dua api di tulang kepala dua kucing itu bergerak lalu berubah menjadi dua sosok roh manusia, melihat hal itu kucing kecil bahagia dan meloncat-loncat kegirangan.


Hanya saja saat dia ingin memeluk kedua manusia itu dia tidak bisa, malah dia jatuh lagi ke tanah wajahnya yang bahagia berubah menjadi sedih lagi.


"Nak! jangan sedih, kami akan selalu bersama mu mulai sekarang" ucap Pria yang berbentuk roh itu.


Meong... meong...!


Kucing api masih sedih dia ingin ayah dan ibunya, bermain dan hidup bersama dengan dirinya seperti dia masih kecil dulu.


"Tuan, bisakah kamu mengambilkan permohonan kami" ucap si wanita.


"Selama itu masih di batas ku akan ku usahakan" balas Lin Tian dengan agak berat.


"Tolong rawat anak kami, selama ini dia sendirian sejak kami tinggalkan dan ini dulu bukan lah keinginan kami" ucap di wanita dengan wjaah sedih.


Pria itu memeluk wanita itu dengan erat, mereka menceritakan kalau dulu mereka tidak pernah berniat kesini tapi...


Sesuatu seperti memanggil mereka dan mereka jatuh disini lalu mulai di kikis oleh energi kematian walau mereka berusaha keluar tapi itu tidak berhasil karena energi kehidupan mereka di lahap oleh monster disini.


Mendengar itu Lin Tian sedikit aneh, monster apa yang bisa melahap kehidupan makhluk lainnya? dia hampir saja berfikir kalau lembah ini nyata nya dulu adalah tempat bertarung tapi ternyata itu tidak.


"Nak! ikuti lah dia, kamu tenang saja kami akan bersamamu" ucap si wanita, kedua roh nya mulai menghilang secara perlahan.


Lalu Setelah itu dua api itu masuk ke kening kucing api yang masih menangis disana melihat kepergian kedua orang tuanya, Lin Tian hanya dapat menghela nafas melihat kesedihan si kucing itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


...****************...


__ADS_2