
Melihat wanita yang tidak lain adalah Mu Xuanyin mencegah dia untuk membunuh Dewa kaisar kematian membuat naga kecil bingung. Karena dia tahu kalau Mu Xuanyin juga reinkarnasi sosok dari zaman kuno sama dengan dia jadi pasti juga memiliki kebencian terhadap dewa kaisar Kematian.
"Kamu harusnya tetap tenang dan tidak perlu membuat kesimpulan terburu-buru seperti itu untuk membunuhnya!".
"Dia orang yang memiliki dosa besar!" teriak naga kecil dengan marah memandang Mu Xuanyin.
"Naga kecil! kamu harus tenang dan fikirkan kenapa kakakmu membawa dia keluar dari ruang kacau itu? dan kenapa dia harus bekerja keras untuk menyelamatkan mereka berdua dari sana!".
Naga kecil memandang Lin Tian yang tidak sadarkan diri di pelukan Mu Xuanyin. tiba-tiba dia sadar kalau dia benar-benar terlalu banyak emosi kali ini, dia menundukan kepalanya dengan lemah karena malu.
Swisshh..
"Hei! aku sudah duga kau tidak bisa mengendalikan emosimu!" ucap Bai kecil yang tiba-tiba muncul di depan naga kecil.
"Kakak Bai kamu.."
Plakkk...
"Harusnya kamu bisa tetap tenang apapun yang terjadi disini. Aku tidak mencegahmu datang kesini bukan karena aku tidak tahu siapa yang ingin kamu temui. Beruntung ada Kakak ipar yang menghalangi mu jika tidak kamu akan membuat kakak kecewa setelah dia sadar nanti" jelas Bai kecil dengan wajah agak marah memandang naga kecil.
"Maaf kakak ipar, maaf kakak Bai aku salah". Naga kecil dengan menundukan kepalanya meminta maaf kepada keduanya.
"Bagus kalau kamu bisa tahu kesalahan yang telah kamu lakukan! aku jadi lega sekarang". Bai kecil tersenyum melihat naga kecil yang mau dengan tulus mengakui kesalahannya itu dan bangga dengan sifat adiknya ini.
"Iya kakak Bai, sekarang kakak sedang terluka apa yang ..." belum selesai naga kecil berbicara Mu Xuanyin telah menghilang dari tempat dia berdiri sebelumnya.
Naga kecil dan yang lainnya kaget karena mereka tidak tahu sejak kapan Mu Xuanyin menghilang dari pandangan mereka. Bahkan dewa takdir menghela nafas saat melihat kalau Mu Xuanyin telah hilang.
"Seperti yang di harapkan dari Dewi bulan! kekuatannya benar-benar tidak terduga" ucap Dewa takdir.
"Apa? kamu bercanda bukan? dia Dewi bulan?" tanya Bai Wutian penuh kebingungan.
__ADS_1
Dewi bulan salah satu wanita yang memiliki kekuatan setara dengan delapan dewa Dewi di zaman kuno dulu. Dan dia memiliki kekuatan yang tidak terduga, kalau bukan karena perang di saat itu tidak akan ada yang tahu betapa mengerikannya kekuatan Dewi bulan.
"Iya, dia satu-satunya jenius yang bisa menyaingi kita dulu.. Bahkan sekarang".
Naga kecil agak kaget saat tahu kalau Mu Xuanyin sendiri adalah Dewi bulan. Apalagi dia tidak mengerti kenapa kakak dan Dewi Bulang terlihat sangat dekat, setau dia Dewi bulan dulu adalah wanita yang kurang menyukai pria.
"Tunggu! ada satu pria yang selalu bersama Dewi Bulan setelah kematian adiknya, jangan-jangan pria itu adalah" naga kecil menatap dewa takdir untuk mendapatkan kepastian.
Naga kecil yang melihat dewa takdir mengangguk sontak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Sekarang dia sadar kalau kakaknya telah pergi ke masa lalu dan melihat semua yang terjadi di zaman kuno. Dan dia menatap dewa kaisar Kematian yang tidak sadarkan diri itu sebelum menghela nafas.
"Mungkin kakak telah menemukan sesuatu dari perjalanannya ke masa lalu" ucap naga kecil.
"Ayo! biarkan disini di urus oleh orang tua ini. Kita juga harus melakukan apa yang harus kita lakukan" ucap Bai kecil sambil menepuk pundak naga kecil.
"Benar kakak, aku setuju! baiklah, aku dan kakak Bai pamit dulu" ucap naga kecil langsung sadar apa yang di maksud oleh Bai kecil.
Tanpa fikir lagi dia menarik Bai kecil terbang dengan cepat tanp menunggu jawaban dari Bai kecil itu sendiri.
"Sial! jika kita tidak cepat kembali, Lang kecil pasti menghabiskan semuanya" jawab naga kecil dengan serius.
"Kamu benar! kenapa aku lupa dengan Pelahap sialan itu". Bai kecil juga langsung menambah kecepatannya untuk pergi ke alam api kembali ke pesta yang selalu mereka datangi sebagai berandalan.
Melihat suami mereka pergi membuat wajah Dewi bunga dan Lin Feng'er menjadi sedikit muram. Tiba-tiba kedua wanita itu mengangguk secara bersamaan setelah saling menatap.
"Huf..." Dewa takdir telah menutup ruang di depannya. Dan dia berjalan menuju dewa kaisar Kematian yang tidak sadarkan diri itu.
"Dia masih hidup! nyawanya tidak terlalu dalam bahaya tapi dia terlalu kelelahan karena kehabisan energi serta luka-luka yang cukup serius" jelas dewa takdir kepada Bai Wutian.
"Baiklah mari kita rawat mereka disini, kamu tidak keberatan bukan saudara Lin?" tanya Bai Wutian kepada Lin Dong.
"Tidak masalah! mari kita tunda pertemuan kita sampai Lin Tian dan dua orang ini sadar" jawab Lin Dong setuju dengan usulan Bai Wutian.
__ADS_1
Apalagi dia juga masih penasaran dengan menantu pertamanya itu yang tiba-tiba memiliki kekuatan sama dengannya. Dan juga ada anaknya terluka parah yang harus mendapatkan perawatan juga.
"Aku akan ke kamar an'er" ucap Ying Huanhuan kepada Lin Dong.
"Kami ikut denganmu".
Bai Yu, Ming Bi'er, Sheng Lien serta keluarga Lin Tian yang lain juga ingin ikut bersama Ying Huanhuan untuk melihat keadaan Lin Tian.
"Kalian pergilah dulu, setelah disini aku bereskan baru aku akan menyusul kesana".
Setelah menerima persetujuan Lin Dong semua keluarganya pun ikut bersama Ying Huanhuan untuk melihat keadaan Lin Tian. Di jalan menuju kamar Lin Tian mereka bertemu dengan tiga istri Lin Tian yang lainnya.
"Apakah kalian melihat kemana Xuanyin membawa An'er pergi?" tanya Ying Huanhuan kepada tiga menantunya yang cantik itu.
"Aku melihat kakak Xuanyin membawa suami ke dalam kamarnya tadi. Saat kami memanggil dia untuk menanyakan keadaan suami, dia hanya diam dan langsung pergi begitu saja. Bahkan kami merasa seperti tidak mengenal dia lagi saat itu" jawab Ling Xu'er dengan serius menceritakan apa yang dia lihat tadi.
Mendengar hal itu, semua keluarga Lin Tian bingung dengan semua kelakuan Mu Xuanyin. Mereka cemas menyerahkan Lin Tian kepada Mu Xuanyin yang dalam wujudnya sekarang itu.
"Lebih baik kita pergi ke kamar an'er dulu" ucap Lin Sang yang lebih tenang.
"Iya" Ying Huanhuan juga berfikiran sama, akhirnya mereka memutuskan untuk melihat keadaan Lin Tian ke kamar Ying Huanhuan.
Tapi, saat mereka sampai di depan kamar Ying Huanhuan. Mereka melihat burung Phoenix es berdiri di depan pintu kamar Mu Xuanyin sambil menutup matanya disana. Jelas kalau Phoenix es itu telah di perintahkan untuk menjaga pintu kamar Mu Xuanyin.
"Ini? apakah kami bisa masuk?" tanya Ying Huanhuan kepada Phoenix es tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...****************...
__ADS_1