
Lin Tian tahu apa maksud dari jenderal Zhao, dia benar-benar sangat marah sekarang karena lima saudaranya mencuri sembilan kepala yang mana jika di panggang itu benar-benar sangat enak menurut Lin Tian.
Tentu saja Bai kecil dan naga kecil juga tahu akan hal itu karena itulah mereka mengambil sembilan kepala dan satu ekor dewa naga kepala sembilan tersebut.
"Haa..haa..!" Lin Tian benar-benar mencoba menahan rasa sakit di hatinya, untuk sesaat para pemimpin dan jenderal disana tahu hal yang paling membuat kesal kaisar mereka mungkin adalah tingkah laku saudaranya.
"Adik, tetap tenang! mungkin saja mereka masih berada di sekitar sini bagaimana jika kakak perintahkan beberapa orang untuk mencari mereka" ucap Mu Jing'er mencoba menenangkan Lin Tian.
"Ais...! Bahkan jika kalian mencari mereka dengan mengirim banyak orang sekalipun sudah di pastikan tidak akan ada yang bisa menemukan mereka jika mereka berniat untuk sembunyi" jawab Lin Tian sambil menghela nafas berat.
"Tunggu! apakah anjing kecil sialan itu juga pergi?" tanya Lin Tian yang merasa kalau Lang kecil tidak ada di dekatnya.
"Iya, dia juga pergi bersama lima saudara itu" jawab Mu Jing'er.
"Belum selesai satu malah yang lain juga telah membuatku kesal!" ucap Lin Tian dengan wajah marah.
Dia memandang Mu Jing'er dengan tatapan yang berbeda, melihat itu Mu Jing'er tahu kalau dirinya tidak akan lolos dari amarah Lin Tian jadi dia langsung menundukan kepalanya tidak berani melihat Lin Tian.
"Baiklah! jenderal-jenderalku kalian minta beberapa orang yang bisa memasak untuk mengolah daging naga kepala sembilan menjadi santapan, dan untuk hari ini sampai besok mari kita berpesta".
Lin Tian langsung memerintahkan mereka untuk mengadakan pesta sampai besok yang cukup membuat mereka bahagia, tentu karena mereka akan memakan daging naga membuat mereka benar-benar berfikir untuk mencari orang yang tepat untuk mengolah daging itu.
Sedangkan Lin Tian mengatakan kalau dia tidak akan ada untuk pesta itu karena dia akan kembali ke alam kehancuran, mendengar itu Mo Gui meminta ikut bersama Lin Tian karena dia hanya ingin disisi Lin Tian.
Lin Tian menolak dan memerintahkan dia untuk mencari tempat rahasia untuk membangun pangkalan bagi Tim yang akan mereka pimpin, dengan terpaksa Mo Gui sedikit kecewa tapi dia dengan senang hati untuk membantu Lin Tian membangun kekuatannya sendiri.
__ADS_1
Di depan Lin Tian duduk menatap Mu Jing'er yang terlihat masih menundukan kepalanya, dia tahu kalau Lin Tian sedang kesal dengan tingkah dia dan wanita lainnya saat Lin Tian tidak ada di rumah.
"Katakan padaku kakak Jing'er apa yang harus aku lakukan agar kalian kapok? atau kalian benar-benar ingin membuat kelompok seperti lima berandalan itu?" ucap Lin Tian dengan suara tegas.
"Itu.. adik kakak yang tampan, bukan begitu hanya kami ...." dia tiba-tiba tidak bisa melanjutkan apa yang akan dikatakan karena saat dia menatap mata Lin Tian jelas kalau dia salah satu kata saja maka kelarlah hidupnya.
"Iya? hanya kami apa?" tanya Lin tian sambil masih menatap Mu Jing'er.
"Kakak salah" ucap Mu Jing'er dengan pasrah.
"Hanya itu" tanya Lin Tian lagi dengan wajah kesal.
"Eh...!" Mu Jing'er tidak dapat berbicara lagi, dia tahu semakin dia berbicara Lin Tian akan semakin kesal. Dan untuk pertama kalinya ini dia merasa kesal dengan ulah berandalan kecil.
Mungkin jika orang-orang bermasalah ini tidak melakukan kejahatan di muka maka Lin Tian pasti tidak akan menyinggung masalah dia dan wanita-wanita lainnya yang mabuk sampai berhari-hari itu.
"Sa...saudaraku yang baik, bagaimana jika tidak memanggil kakek? atau memanggil ayah atau paman Lin? tidak baik untuk memanggil mereka hanya karena masalah ini bukan?".
Mu Jing'er mencoba mencari cara agar Lin Tian tidak memanggil kedua kakek itu, karena dia tahu jika mereka berdua datang maka tidak akan ada hari baik bagi dia dan yang lainnya. Tapi Lin Tian tidak lagi peduli karena dia benar-benar kesal dengan tingkah laku keluarganya ini, tentu yang membuat dia kesal adalah wanita-wanita di keluarganya yang sungguh berani minum dengan gaya terbuka tanpa sepengetahuannya.
"Tidak! ikut atau tidak? jika kakak berani kabur maka aku akan mengirim kakak ke alam bawah untuk bekerja di istana pengadilan dengan di dampingi suku batu".
Lin Tian mengancam dengan jelas Mu Jing'er. Tentu, mendengar kata suku batu membuat Mu Jing'er langsung merinding karena dia tahu kalau kebanyakan suku batu itu adalah orang-orang bodoh yang selalu berisik dan membuat ulah dimana-mana. Bekerja ke alam bawa tentu tidak masalah! tapi, bekerja dengan suku batu bagaimana dia bisa tahan meski hanya satu hari saja disana?.
"Oh, sepupuku yang baik aku akan ikut tapi jangan buat aku bekerja di alam bawah".
__ADS_1
Mu Jing'er benar-benar tidak dapat melawan sekarang, meskipun dia tahu kalau di luar dia bisa bersikap dingin tapi dengan keluarganya sendiri apalagi Lin Tian yang sudah memiliki sifat mirip dengan kakeknya mana mungkin dia bisa melawan apalagi Lin Tian jauh berkali-kali lebih baik dari kakeknya.
"Bagus! itu yang terbaik" ucap Lin Tian puas.
Akhirnya dia memanggil Mo Gui agar dia terus memperhatikan situasi negeri langit, dan sampai sorenya dia juga membuat beberpaa jimat ynag dijanjikan kepada Mo Gui sebelumnya. Setelah itu barulah dia membawa Mu Jing'er kembali ke alam kehancuran melalui gerbang portal keluarga Zhao.
"Gadis-gadisku, awas saja kalian!" ucap Lin Tian dengan wajah yang tegas.
Dia pertama masuk ke dalam gerbang portal di ikuti dengan Mu Jing'er yang terlihat seperti seorang anak-anak yang baru saja dimarahi.
Di alam kehancuran..
"Huu..!"
Mu Xuanyin tiba-tiba saja menggigil. Membuat dia bangun dari kursi Dimana dia bersantai bersama wanita-wanita lainnya. Tentu disana sangat lengkap! ada Bai Yu, Ming Bi'er dan wanita-wanita Lin Tian juga.
Mereka merasakan hal yang sama tapi tidak terlalu peduli dengan masih melanjutkan kegiatan populer mereka, apalagi sejak pasukan dewa penghancur mundur mereka menjadi lebih santai dan bebas dari segala kekhawatiran.
"Ha...! memang minum bersama kalian luar biasa. Kapan-kapan kita akan minum lagi seperti ini" ucap Ming Bi'er merasa puas dengan keadannya sekarang.
"Nenek, aku setuju. lain kali mari kita cari beberapa anggur yang lebih baik untuk kita minum bersama nek!" ucap Lan jingyi yang wajahnya benar-benar sudah merah karena mabuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1
...****************...