
Miranda melihat Aliyaa yang seperti sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Aliya kamu baik-baik saja Aliyaaaa, kenapa dengan perut kamu Aliyaa."
Karena terlalu sakit menahan nya, Aliya pun seketika dia langsung tidak sadarkan diri. Dan itu membuat Miranda begitu sangat histeris sekali sampai berteriak-teriak.
"Aliyaaaa kamu kenapa Nak, Aliyaaaa. Denies cepat ke sini bawa Aliyaa ke rumah sakit."
Dengan meminta bantuan Pak Denies, Miranda pun langsung membawa Aliyaa ke rumah sakit.
"Aliya sayaaaaang Nak, kamu harus bertahan yaa sayaaaaang. Kenapa wajah nya sangat pucat sekali kamu Aliyaa."
Miranda lebih memilih untuk membawa Aliyaa ke rumah sakit besar yaitu Rumah Sakit Permata yang di mana Dokter El-Rivan di sana yaitu Dokter yang menangani Aliyaa.
Ketika sampai di Rumah Sakit, Aliyaa langsung mendapat penanganan para medis.
Terlihat jelas sekali jika Miranda yang sangat menghawatirkan kondisi Aliyaa.
__ADS_1
"Kenapa Aliyaa memegang perut nya yaa, apakah Aliya yang merasa usus buntu yaa. Aliya jangan sampai kamu seperti ini Nak."
Mengetahui Aliya yang sedang dalam tahap pemeriksaan Dokter El-Rivan pun datang untuk melihat kondisi Aliya.
Dokter El-Rivan tersenyum manis kepada Miranda ketika hendak masuk ke ruangan Aliyaa.
"Apakah itu adalah orang tua Aliya, dan seperti nya dia harus mengetahui tentang kondisi Aliyaa yang selama ini dia sembunyikan."
Dokter El-Rivan pun segera memeriksa kondisi Aliyaa, dia merasa jika Aliyaa yang mau mengikuti apa yang di sarankan nya untuk melakukan operasi.
Dokter El-Rivan pun mulai men USG perut Aliyaa dan ternyata kista Aliyaa yang semakin membesar.
Dokter El-Rivan melihat wajah Aliyaa yang semakin pucat pasih.
"Lebih baik aku menunggu Aliyaa sampai sadarkan diri, setelah itu aku yang akan membicarakan hal ini dengan Aliyaa."
Setelah selesai memeriksa Aliya dan Aliya pun di pindahkan ke ruangan perawatan, Miranda pun langsung menghampiri Dokter El-Rivan.
__ADS_1
"Bagaimana Dokter dengan kondisi putri saya, dia tidak apa-apa kan. Saya sangat menghawatirkan sekali kondisi nya di saat dia yang sedang memegang perutnya sampai memejamkan mata nya. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam perut putri saya,? apakah Aliyaa yang mengalami usus buntu?."
Miranda begitu sangat hawatir sekali, tapi Dokter El-Rivan dia masih mengikuti apa yang di katakan oleh Aliyaa.
Dia tidak mau jika keluarga nya atau suami nya mengetahui penyakit nya ini.
"Ibu tenang yaa, silahkan sekarang temani Aliya. Tapi nanti setelah Aliya sadarkan diri secepatnya panggil saya yaa Dokter El-Rivan."
Mendengar perkataan Dokter El-Rivan, Miranda seperti merasakan Dokter tersebut yang sudah mengenal dekat Aliya.
"Dia mengetuk nama Aliyaa, dan dia menyebutkan nama Aliyaa seperti yang sudah saling mengenal."
Miranda pun seketika dia langsung terdiam memikirkan nya, tapi Miranda pun juga langsung membuka pintu ruangan Aliyaa yang menunggu Aliyaa.
Miranda merasa sangat bersalah sekali dengan Putri cantik nya tersebut, sebelumnya dia yang mengabaikan Aliya hanya karena ke egois nya nya.
"Ntah kenapa semenjak Aliya yang memeluk erat tubuh ku di saat hari ulang tahun nya, dan menangis histeris di pelukan ku sikap ku seketika langsung berubah."
__ADS_1
Miranda membelai rambut panjang Aliyaa sambil meneteskan air mata nya.