
Aliya bertemu dengan Dokter El-Rivan, Dokter Specialis yang sangat tampan dan juga salah satu Dokter terbaik di Rumah Sakit ini.
Aliya pun menceritakan semuanya yang dia rasakan kepada Dokter tersebut, Aliya pun langsung melakukan USG dan ternyata terdapat kista ovarium.
Aliya pun duduk dan mendengarkan perkataan dari Dokter Rivan.
"Kista ovarium terbentuk atau di dalam ovarium, umum nya terjadi pada wanita yang reproduksi atau sekitar 20-40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena di sebabkan oleh masalah hormonal hormonal, endometriosis, kehamilan, dan infeksi panggul."
Air mata Aliya keluar membasahi kedua pipinya setelah mendengar penjelasan dari Dokter.
"Apakah aku bisa hamil,? atau ini membuat aku kesulitan untuk bisa hamil."
Suara Aliya terdengar sangat bergetar sekali ketika menayakan hal tersebut kepada Dokter.
"Umumnya, kista ovarium tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya tanpa dilakukan tindakan medis. Meski demikian, kista ovarium bisa berbahaya jika kantung berisi cairan pecah atau memiliki ukuran yang besar sehingga mengganggu suplai darah ke ovarium. Dengan pemeriksaan dan penanganan yang tepat dari dokter, wanita yang menderita kista ovarium masih memiliki peluang untuk hamil dan memiliki anak."
Aliya pun tersenyum tipis ketika dirinya masih bisa mendapatkan peluang untuk bisa hamil.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Dokter, saya berharap besar jika penyakit yang saya alami ini bisa segera sembuh. Karena suami saya begitu sangat menginginkan keturunan dari saya."
Dokter Rivan merasa sangat kasihan sekali melihat Aliya yang masih sangat muda sekali.
"Kita melakukan pengobatan rutin yaa setiap bulan, dan selalu optimis jika semua penyakit itu bisa di sembuhkan."
Dokter Rivan memberikan resep obat untuk Aliya, dan Aliya pun langsung meninggalkan rumah Dokter tersebut.
"Terimakasih banyak Dokter, bulan depan saya pasti akan kembali."
Aliya menghela nafas panjang nya sebelum dia membuka pintu dan Siska pun langsung menghampiri Aliya.
Siska yang sebelumnya sudah mencari tahu tentang tanda-tanda yang di rasakan oleh Aliya dan ternyata benar seperti apa yang Siska takutkan.
Siska membawa Aliya untuk duduk dan menghentikan tangisnya.
"Aliya, kamu sabar yaa. Kamu harus yakin jika kamu bisa sembuh Aliya kamu harus kuat yaa."
__ADS_1
Siska memegang tangan Aliya dan mencoba untuk menguatkan Aliya.
"Bagaimana jika suami tahu dia pasti sangat kecewa sekali dengan ku."
Tangisan Aliya semakin kencang di pelukan Siska.
"Aku akan membantu kamu untuk merahasiakan semuanya nya, berikan surat itu kepada ku Aliya dan kamu hanya harus bisa meminum obat tampa sepengetahuan suami mu yaa."
Siska terpaksa melakukan ini semua karena dia tidak mau membuat Aliya yang semakin menangis dan sedih.
"Sekarang kita langsung pergi untuk mengambil obat yaa, segala administrasi sudah di tanggung oleh Rendy."
Siska merangkul Aliya dan berjalan secara perlahan-lahan menuju ke tempat pengambilan obat.
"Kamu duduk saja yaa, biar aku yang mengambil obat nya."
Aliya mengikuti apa yang di katakan oleh Siska, dia merasa sangat lemas sekali dan juga pusing.
__ADS_1
"Aliya, kenapa kamu harus mengalami seperti ini yaa. Aliya kamu sudah cukup menderita karena perlakuan Mama mu dan sekarang kamu harus berjuang keras untuk sembuh dari penyakit ini."
Siska terus saja memandangi wajah Aliya dia begitu sangat sedih sekali.