
Aliya memilih untuk pulang ke rumah nya, dan dia seperti berniat untuk tidak lagi pergi ke rumah tersebut karena rumah itu banyak cerita kisah dan kenangan bersama dengan Fabian.
"Aku merasa sangat lemas sekali, aku butuh seseorang yang ada untuk mendengarkan cerita ku ini. Sekarang aku memilih untuk pulang tapi di sana tidak ada yang bisa mendengarkan curahan hati ku ini."
Aliya pun meminta supir pribadi nya untuk menuju ke Restoran Om Irfan, karya hanya Om Irfan satu-satunya yang Aliyaa butuhkan.
"Jika aku ke Restoran Om Irfan, aku hanya menggangu nya saja dan di situ ada Siska yang selalu membela Veronica."
Di perjalanan Aliyaa memikirkan dia harus pergi ke mana, Aliyaa pun memilih Dokter Nadia.
"Aku lebih baik mengirimkan dulu pesan kepada Dokter Nadia, karena aku takut dia yang sedang sibuk."
Aliya pun mengeluarkan handphone nya dari tas tapi ternyata ada pesan masuk dari Dokter El-Rivan.
*Aliya, ingat kamu harus sabar dalam menghadapi sikap suami kamu yaa. Semua demi keberhasilan program kehamilan kamu*
*Seperti nya aku akan berpisah dengan suami ku, sudah tidak ada lagi program kehamilan. Karena tidak mungkin ada lelaki yang ingin bersama dengan ku.*
Membaca balasan pesan dari Aliyaa, Dokter El-Rivan merasa sangat hawatir sekali dia langsung menelephone Aliyaa.
*Hallo Aliyaa, kamu sekarang sedang berada di mana*
__ADS_1
*Aku sekarang akan menghubungi Dokter Nadia, aku butuh teman curhat. Aku tidak mungkin memendam perasaan ini*
*Yasudah bagaimana jika kita ketemuan sekarang,? hari ini saya libur tidak praktek "
Aliya merasa hawatir jika bertemu kembali dengan Dokter El-Rivan, akan membuat Fabian semakin yakin jika mereka berdua mempunyai hubungan.
Tapi Aliyaa pun berpikir kembali hubungan nya dengan Fabian pasti akan berakhir.
*Bagaimana jika kita bertemu di rumah Dokter saja, karena jika di luar saya takut suaminya mengetahui nya*
*Baiklah saya share lokasi nya yaa*
Setelah mendapat alamat rumah Dokter El-Rivan, Aliyaa pun meminta supir pribadi untuk secepatnya pergi ke sana.
Aliya pun akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumah Dokter El-Rivan, rumah yang begitu sangat luas sekali melebihi rumah nya.
"Apakah benar-benar ini rumah nya,? besar sekali yaaa. Apakah dia seorang anak pengusaha atau memang ini adalah hasil dari nya sebagai seorang Dokter Specialis."
Pintu gerbang pun terbuka dan Aliya pun memilih untuk turun tepat di depan rumah nya
Dokter El-Rivan adalah Dokter Specialis Kandungan yang terbaik di Rumah Sakit Permata.
__ADS_1
Aliya turun dari mobil nya, dan di sambut baik oleh pegawai nya. Aliya di persilahkan untuk masuk tapi Aliyaa yang lebih memilih untuk duduk di luar karena udara yang ada segar.
"Beda yaa kalau Rumah Dokter, hijau-hijau pemandangan nya. Seger sekali rumah nya."
Dokter El-Rivan pun keluar dengan baju biasanya, dan terlihat lebih muda dari biasanya.
Aliya seketika merasa terkesima dengan penampilan Dokter El-Rivan.
"Aku pikir Dokter lebih tua dari ku, tapi sepertinya umur kita nggak beda jauh. Hebat sekali loh sudah menjadi Dokter Specialis Kandungan terbaik di usia muda."
Melihat penampilan Dokter El-Rivan membuat Aliyaa seketika lupa dengan curahan hati nya.
"Bukan kah kamu juga adalah calon Dokter Specialis Anak, kamu pun akan menjadi seorang Dokter di usia yang muda karena saya lihat kamu sangat cerdas sekali."
Aliya seketika merasa malu ketika Dokter El-Rivan mengatakan hal tersebut kepada dirinya.
Aliya benar-benar merasa kan perbedaan antara dirinya mengobrol ketika memakai baju kedokteran dan seperti sekarang.
Ketika Aliyaa ingin memulai pembicaraan nya tiba-tiba saja datang pegawai nya untuk memberikan minuman untuk Aliyaa.
"Ternyata banyak ya, saya memang sangat halus sekali dari tadi."
__ADS_1
Aliya pun meminum nya sampai habis dan membuat Dokter El-Rivan tersenyum manis melihat sikap asli Aliyaa yang sebenarnya.