
Ketika Rendy selesai mandi dia langsung menghampiri Siska yang menunggu nya di sofa yang hanya berdua dengan Siska.
"Aku mendengarkan pembicaraan kalian berdua dan aku merasa kita tidak usah datang ke untuk menemui Mama kamu."
Siska merasa itu hanya membuang-buang waktu saja karena dia tahu jawabannya pasti sangat mengecewakan untuk nya.
"Siska aku ingin menjadi lelaki yang bertanggung jawab, aku tidak mau Mama yang terus saja menyangka jika aku sekarang sedang menjalani hubungan dengan Aliyaa."
Veronica membuka pintu kamar nya dia mendengarkan perdebatan antara Siska dan Rendy.
"Ya karena cuma Aliyaa wanita yang sempurna untuk kamu, setidaknya dia menjadi tipe ideal wanita yang akan menjadi calon menantu nya."
Siska mulai merasakan emosi nya mulai tinggi tapi dia mencoba untuk mengatur nafas nya.
"Aku bukan anak orang kaya, keluarga ku sederhana. Setidaknya mungkin jika aku memiliki harta kekayaan yang sama seperti di miliki oleh Tante Miranda mungkin aku akan masuk dalam kriteria calon pendamping kamu."
__ADS_1
Seketika Veronica merasa sangat sedih sekali ketika mendengar perkataan tersebut, ketika harta kekayaan yang pandang nomor satu.
"Kasihan sekali dia, aku pun merasakan jika ada di posisi nya. Ternyata Aliyaa itu memang wanita yang di dambakan oleh keluarga yang sangat tinggi derajatnya."
Veronica masih memilih untuk terdiam di balik pintu kamar nya, dia masih memperhatikan Siska dan juga Rendy.
"Sudahlah Siska, jika memang Mama yang masih menginginkan Aliyaa. Aku bisa keluar dari perusahaan ini dan mencari pekerjaan yang lain nya kita bisa berjuang bersama-sama Siska."
Air mata Siska pun seketika mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Veronica merasa jika pembicaraan antara Rendy dan Siska sudah memuncak sekali dia pun berusaha untuk keluar dari kamar nya dan mendamaikan mereka berdua.
Veronica pun langsung menghampiri Rendy dia merasa Rendy yang sangat emosional sekali.
"Rendy kamu jangan seperti ini yaa, pikirkan juga perasaan hati Mama kamu. Kamu adalah anak tunggal penerus perusahaan milik Mama kamu jika sampai kamu memilih untuk pergi bagaimana nasib perusahaan kamu yang sudah maju ini."
__ADS_1
Siska yang merasa jika dirinya sudah tidak nyaman berada di Apartemen tersebut dia memilih untuk pergi berlari ke pintu keluar.
Ketika Rendy ingin menyusul Siska, Veronica menahan Rendy untuk pergi.
"Tidak kamu jangan menyusul nya, kamu yang sedang emosi seperti ini. Biarkan dia pergi untuk menenangkan perasaan nya saat ini."
Rendy memeluk erat Veronica dia seperti melambaikan kekesalannya.
"Aku tidak bahagia jika jodoh ku harus di pilihkan oleh Mama, aku sudah mengikuti apa yang di inginkan oleh Mama. Aku ingin bebas untuk bisa menentukan kehidupan ku dan masa depan ku."
Veronica tidak bisa berkata-kata karena dia pun hanya sebagai kakak tiri yang keberadaannya tidak di inginkan oleh Kania.
Tapi dia juga merasa sangat kasihan sekali melihat Rendy yang seperti ini.
"Bicarakan dulu Rendy, jangan dulu seperti ini sebelum kamu mendengar perkataan dari Mama kamu yaa."
__ADS_1
Veronica merasakan sakit kembali di bagian kaki nya yang memang masih bengkak.