
Dokter Putra yang merupakan ayah dari Fabian dia langsung memandangi wajah Aliya, dia seperti tidak percaya anak perempuan yang ada di hadapan nya berjuang ingin menjadi seorang Dokter Specialis Anak dengan cara mendapatkan beasiswa.
Sedangkan Fabian, yang di inginkan oleh orang tua nya untuk menjadi seorang Dokter dengan biaya dan dukungan dari orang tua nya dia memilih untuk pergi dari rumah nya.
Fabian lebih memilih sebagai seorang pengusaha muda yang sangat sukses.
Aliya merasa dirinya sudah menyelesaikan makan siang nya, dia sudah merasa tidak nyaman sekali dia ingin segera masuk ke dalam kamar dan keluar di pagi hari untuk berpamitan pindah ke rumah masa lalu nya.
"Aliya sayang, makan yang banyak yaa. Jangan lupa di makan juga buah-buahan nya yaa."
Aliya hanya tersenyum tipis sambil memandangi wajah ibu mertua nya.
Karena merasa Aliya yang sudah tidak nyaman, Fabian langsung mengakhiri makan nya dan mengajak Aliya untuk masuk ke dalam kamar nya.
"Ayo Aliya, kita masuk ke kamar kembali. Kamu pasti sangat lelah sekali kan ingin beristirahat."
Aliya berdiri dari tempat duduk nya sambil menganggukkan kepalanya.
"Ibu dan Ayah, aku mau ke kamar dulu yaa. Ibu terimakasih banyak yaa masakan ibu sangat enak sekali."
Aliya dan Fabian pun berjalan menuju ke kamar nya, Lania Angraeni yang merupakan ibu Fabian Saputra dia sebenarnya ingin sekali Aliya tinggal bersama dengan nya.
"Aku ingin sekali Aliya tinggal bersama dengan kita, kasihan sekali dia yang tidak di akui oleh ibu kandung nya. Padahal Aliya anak yang sangat pintar sekali."
Dokter Putra pun mengelus pundak istri nya.
"Sudah yaa kita tidak boleh memaksa kan keinginan mereka berdua, cara mereka yang ingin hidup mandiri setelah menikah."
__ADS_1
Dokter Putra pun memilih untuk pergi dia dia berjalan menuju ke luar rumah nya.
Di dalam kamar Fabian memeluk mesra Aliya.
"Apa tidak ada cerita ketika datang ke rumah itu kembali,? dan apakah tidak bertemu dengan Siska. Hmmmm aku sangat merindukan sekali Siska."
Fabian melepaskan pelukan erat nya dari belakang, mereka berdua pun duduk di atas tempat tidur dan Aliya sudah tidak sabar sekali ingin mendengar cerita dari suami nya.
"Aku tidak bertemu dengan Siska tapi aku bertemu dengan Rendy, dan Rendy menawarkan aku untuk bisa kerja menjadi asisten pribadi nya di perusahaan nya."
Fabian begitu sangat berharap Aliya yang mau mengijinkan dirinya untuk berkerja di perusahaan Rendy.
"Mas, kamu tahu kan. Aku yang menolak untuk menjadi CEO di perusahaan milik Papa dan sekarang kamu menikah dengan ku. Kamu yang mengantikan posisi ku untuk menjadi CEO di perusahaan Mama."
Fabian memegang wajah istri nya dengan sangat lembut sekali, Fabian merasa sangat ketakutan sekali jika Miranda berbuat nekad pada hubungan nya.
"Aku tahu, kamu pasti takut Mama seperti dulu lagi. Tapi menurut ku itu tidak mungkin terjadi lagi karena sekarang kamu yang sudah menikah dengan ku."
"Baiklah, tapi jika dia berbuat sesuatu kepada ku. Maafkan aku jika sampai menampar nya yaa."
Fabian terus memegang perut Aliya, dia mengelus perut Aliya.
"Mas, aku kan sedang datang bulan. Aku belum bisa hamil jangan seperti yaa aku merasa jadi tidak nyaman sekali."
Aliya merasa sangat tidak nyaman sekali dengan keinginan suami agar dirinya yang segara hamil, padahal usia pernikahan mereka berdua yang baru dua bulan.
Fabian pun merasa sangat bersalah sekali, dia pun menghampiri istri nya yang mencoba untuk menghindar dari nya.
__ADS_1
"Aliya maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat kamu tidak nyaman seperti ini."
Fabian meminta maaf kepada istri nya, dan Aliya pun memaafkan suaminya.
"Iya tidak apa-apa Mas, sekarang aku ingin beristirahat. Agar bisa secepatnya malam dan besok kita kembali ke rumah itu."
Aliya pun memilih untuk membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur nya, sedangkan Fabian membuka laptop nya dan mencari tahu tentang bisnis keadaan perusahaan milik Miranda sekarang kondisi nya.
***
Miranda masih berkerja keras di depan laptop nya, dia merasa sangat kelelahan sekali.
"Sudah saat nya aku untuk pergi menghibur diri ku sendiri, sudah saatnya aku melupakan kenangan manis ku bersama dengan Fabian. Walaupun sebenarnya itu sangat sulit sekali."
Miranda membuka handphone nya, dia melihat postingan Fabian yang sedang memotret Aliya yang sedang tertidur pulas.
"Mereka berdua sudah pulang honeymoon, itu tanda nya Fabian akan kembali ke perusahaan ini."
Miranda begitu sangat menginginkan sekali Fabian kembali ke perusahaan nya.
"Semoga saja Fabian kembali ke perusahaan ini, jika tidak aku yang akan bicara langsung dengan Aliya karena Fabian yang akan menjadi pemimpin perusahaan ini."
Miranda akan menyerahkan perusahaan nya kepada Fabian sebagai pengganti Aliya.
"Aku tidak sabar dengan datang nya hari esok, aku akan berpenampilan sempurna di hadapan Fabian."
Miranda pun bersiap untuk keluar dari ruangan nya, karena ini adalah waktu jam istirahat.
__ADS_1
"Lebih baik aku makan di kantin perusahaan saja, jika keluar aku sangat malas sekali jika harus bertemu dengan Nadia itu hanya membuat tensi darah ku naik saja."
Miranda pun berjalan menuju ke kantin.