
Aliya dan Siska berencana untuk datang ke Restoran milik Om Irfan, mereka merasa sangat merindukan sekali kebersamaan bersama Om Irfan.
"Al, bagaimana pun juga Om Irfan itu kan cinta pertama kamu. Jika seandainya suami mu selingkuh apakah cinta kamu akan bersemi kembali dengan Om Irfan."
Seketika Aliya pun memilih cemberut kepada Siska.
"Hahahaha, becanda saja Al. Jangan marah dong hahahaha."
Ketika mereka berdua keluar dari gerbang kampus ternyata Rendy yang sudah menunggu mereka berdua.
"Rendy lagi, Al kamu nyuruh Rendy ke sini yaa."
Aliya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku nggak nyuruh Rendy ke sini. Dia itu kan CEO tapi kenapa dia sering banget ya keluar kantor seenaknya hebat sekali dia."
Aliya dan Siska pun langsung menghampiri Rendy.
"Rendy kamu mau apa ke sini,? kita berdua mau pergi dan tidak mau di temani oleh kamu yaaa sana pergiiiiiiiiiiiii."
Siska masih merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rendy.
"Pergi ke mana sih Sis, aku ke sini cuma pengen tau bagaimana kabar kalian berdua."
Kedatangan Rendy ingin memastikan apakah Aliya yang sudah tahu tentang Veronica yang menjadi Sekertaris Fabian.
"Kabar kita berdua selalu bahagia ketika kamu tidak ada diantara kita berdua."
Siska pun menarik tangan Aliya agar menjauhi Rendy.
"Sudah yaa Rendy lebih baik kamu pergi saja yaa, kita berdua memang ingin berdua saja."
Rendy terpaksa membiarkan Aliya dan Siska pergi dia memang tidak bisa memaksa mereka berdua.
"Baiklah, hati-hati yaa kalian berdua."
Aliya dan Siska pun masuk ke taksi yang sudah mereka pesan.
"Al, aku nggak suka loh. Rendy yang selalu seperti itu. Aku nggak mau Rendy terus ngedeketin kita, aku belum siap untuk berperang melawan Mama nya."
Aliya tersenyum mendengar perkataan Siska.
"Tapi kamu berani kan, kalau kamu emang punya perasaan terhadap Rendy kamu harus berjuang yaa hadapi Tante Kania karena bagaimana pun juga seorang ibu itu ingin melihat anak nya bahagia dan jika bersama dengan kamu Rendy bisa bahagia Tante Kania pasti akan luluh hatinya."
Siska pun seketika saja langsung terdiam ketika mendengar perkataan Aliya.
"Bukan kah dulu aku seperti itu,? lebih parah dari kamu tapi akhirnya bisa menikah dengan lelaki yang cinta sama aku."
Aliya memegang tangan Siska, dia tersenyum manis kepada sahabat baik nya itu.
"Semangat yaa, Rendy lelaki baik. Aku jauh lebih setuju Rendy yang bisa bersama dengan kamu."
Siska pun hanya tersenyum tipis dia melamun kan perkataan Aliya.
Mereka berdua pun akhirnya sampai di Restoran milik Irfan Riawan, mereka seperti mengenang masa-masa lalu nya.
"Tidak ada yang berubah dari tempat ini yaa, sama seperti dulu."
Aliya dan Siska masuk ke dalam tapi mereka tidak melihat kehadiran Om Irfan di dalam Restoran tersebut.
"Tidak ada Om Irfan, dia tidak masuk mungkin yaa."
Aliya dan Siska pun duduk sambil memesan minuman kesukaannya masing-masing.
__ADS_1
"Aku mau chocholate drink yaa sama Jus strawberry yoghurt."
Siska memperhatikan Aliya yang terus menerus mencari keberadaan Om Irfan.
"Astaga Aliya Mutiara, kamu ke sini itu untuk ketemu dengan Om Irfan saja nih. Bukan untuk minum dan menyegarkan pikiran kita yang kemarin mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk."
Aliya pun langsung fokus kembali dengan Siska.
"Hmmmm, maafkan aku yaa."
Aliya dan Siska sibuk dengan handphone nya, dan tanpa mereka sadari yang membawakan minuman untuk mereka berdua adalah Om Irfan.
"Silahkan pesanannya di minum."
Aliya dan Siska seketika langsung terdiam ketika mendengar suara yang tidak asing.
Aliya dan Siska langsung melirikan mata nya kepada pelayanan yang memberikan nya minum tapi ternyata itu adalah Om Irfan.
"Om Irfan, kok bisa sih tadi aku cari-cari nggak ada loh. Eh sekarang muncul aja di depan kita."
Siska melihat Aliya yang begitu sangat senang sekali melihat Om Irfan, Siska menghawatirkan jika Aliya seperti dulu lagi karena sekarang dia yang sedang curiga terhadap suaminya.
"Aliya dan Siska kalian berdua apa kabar nya,? dan bagaimana apakah kalian berdua sudah menjadi seorang Dokter Specialis Anak."
Irfan duduk di samping kursi mereka berdua.
"Kita masih berjuang sebagai seorang mahasiswa Om, lagian kita terakhir ketemu juga pas ulang tahun Aliya berlebih-lebihan banget sih nanya nya."
Aliya memperhatikan Siska yang perkataan terdengar emosional.
"Om Irfan, apakah Om Irfan tidak punya rasa sesuatu dengan Dokter Nadia dia sangat cantik loh."
Pertanyaan Aliya membuat Irfan sangat terkejut sekali dan Siska pun tersenyum ketika mendengar pertanyaan Aliya kepada Irfan.
"Iya Om Irfan, sudah harus menunggu sampai kapan. Coba dekati Dokter Nadia kan jadi bisa menjadi Ayah angkatnya Aliya hihi dulu kan niat nya begitu berharap besar sama Tante Miranda tapi kandas."
"Cinta itu tidak bisa di paksakan, kalian berdua tidak bisa menjodohkan langsung seperti. Apalagi antara kita berdua yang belum dekat dan mengenal satu sama lain nya."
Irfan berharap penjelasan nya bisa di mengerti oleh Siska dan Aliya.
"Dan sekarang aku nanya nih sana Om Irfan Riawan, Om Irfan punya perasaan nggak awal melihat kecantikan Dokter Nadia. Dia cantik loh dan baik hati cocok sekali dengan Om Irfan yang dulu pernah di khianati oleh pasangan Om."
Perkataan Siska yang sangat menusuk sekali pada perasaan Irfan.
"Awal pertama bertemu dengan Dokter Nadia, dia baik dewasa dan penyayang tapi untuk ke perasaan suka itu belum ada."
Siska merasa sangat kecewa sekali dengan jawaban dari Irfan.
"Lalu ketika pertama kali bertemu dengan Mama ku, kenapa Om Irfan bisa langsung punya perasaan. Apakah karena Om Irfan itu suka wanita yang singel mother."
Irfan tersenyum manis kepada Aliya.
"Sudah yaa, biarkan cinta mengalir dengan caranya sendiri. Siapa pun wanita yang nantinya bisa bersama dengan Om dia adalah wanita yang terbaik untuk seumur hidup."
Siska begitu sangat terharu sekali ketika mendengar perkataan dari Irfan.
"Wahhhh, emang bener yaa cinta itu tidak bisa di paksakan. Apalagi kalau kita sudah tahu salah satu keluarga yang tidak baik lebih baik kita mundur saja."
Secara tidak langsung Siska seperti mencurahkan isi hati nya.
"Memang nya Siska ada apa dengan hubungan mu dengan Rendy,? kalian berdua itu cocok loh."
Seketika Siska melirik sinis kepada Aliyaa.
__ADS_1
"Permasalahan nya ada di Mama nya Rendy, kalau Rendy sih dia emang udah siap untuk Siska tapi Tante Kania dia belum tentu bisa menerima kehadiran Siska."
Siska pun hanya bisa terdiam saja dia tidak bisa bicarakan apapun lagi.
"Memang nya Mama Rendy itu seperti apa dia,? sampai belum tentu bisa menerima kehadiran Siska."
Aliya pun akhirnya memberitahu tentang sikapnya.
"Tante Kania itu dia sangat perfeksionis sekali, dia tidak mudah untuk menerima kehadiran wanita yang dekat dengan Rendy."
Irfan merasa sangat kasihan sekali melihat Siska.
"Contoh saja Aliya, dia yang sempurna pun Mama nya tetap harus interview seperti mau melamar pekerjaan."
Irfan seketika langsung mengingat kondisi Aliya.
"Oh seperti itu yaa, hmmm Aliya bagaimana dengan kondisi mu sekarang. Kenapa kamu terlihat pucat dan kurus Aliya apakah kamu sedang memikirkan sesuatu atau yang sesuatu yang terjadi dengan kamu."
Aliya tidak mau memberitahu kepada Irfan karena cukup Siska dan Rendy saja yang mengetahui nya.
Aliya tidak mau banyak orang yang menghawatirkan kondisi nya.
"Aku baik-baik saja, mungkin karena aku yang sekarang sebagai ibu rumah tangga dan juga harus mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk setiap hari."
Irfan merasa sangat kecewa sekali ketika Aliya yang tidak mau jujur kepada nya.
"Kamu harus jaga kesehatan kamu yaa Aliyaaaa, karena bagaimana pun juga kamu bukan seperti Aliya yang dulu. Ingat sikap Mama kamu yang sekarang yang kurang peduli terhadap kamu."
Aliya mulai menyadari hal tersebut sebenarnya sekarang dia ingin sekali dekat dengan Mama nya.
Dia ingin sekali berada di pelukan Mama sambil menceritakan semuanya kepada Mama nya.
"Iya Om Irfan, tapi aku memang tidak bisa membohongi perasaanku ini jika sekarang aku lebih butuh Mama daripada suami ku. Aku ingin sekali ada di pelukan Mama untuk menceritakan semuanya kisah-kisah Ku sekarang."
Aliya meneteskan air mata nya, dan Siska pun langsung memeluk Aliya.
"Aliya jangan bicara seperti itu, aku jadi sedih mendengar nya."
Aliya seakan tidak bisa menghentikan air mata nya yang mengalir.
"Aliya jika kamu merindukan Mama kamu, datanglah setiap hari libur sendiri tidak bersama dengan Fabian. Maka kalian berdua akan lebih nyaman untuk mengungkapkan perasaan kalian berdua."
Aliya pun merasa sangat setuju sekali dengan apa yang di katakan oleh Om Irfan, dia pergi untuk menemui Mama nya.
"Kalian berdua pasti akan bersama kembali seperti dulu, Om yakin sekali itu Aliya."
Aliya pun tersenyum manis kepada Irfan.
"Terimakasih banyak yaa Om Irfan, memang terbaik aku akan mencari nya. Dan semoga saja bisa berhasil aku dan Mama bisa seperti dulu."
Siska melihat jam yang ada di handphone nya.
"Al, sudah jam 3 sore loh. Jam 4 kan Kak Fabian pulang kerja kamu pulang sekarang."
Aliya mengingat jika dia yang bilang kepada suami nya jika dia yang sedang ada kegiatan di kampus nya.
"Yaudah ayo kita pulang sebelum nya, aku bilang kalau aku sekarang pulang malam karena ada kegiatan di kampus. Aku pengen tahu dia pulang jam berapa sampai di rumah."
Mendengar perkataan Aliya, Irfan langsung bisa menebak jika mereka berdua sedang bertengkar.
"Om Irfan aku pulang dulu yaa, nanti kita pasti datang lagi."
Ucap Siska sambil menarik tangan Aliya.
__ADS_1
Aliya pun hanya tersenyum tipis saja pada Irfan dan mereka pun menunggu taksi untuk pulang.
Siska melihat ekpresi wajah Aliya yang menyeramkan.