
Rendy pun akhirnya menjawab panggilan telephone tersebut.
*Hallo Tante Miranda ada apa yaa*
*Kenapa pesan Tante tidak kamu balas*
*Aku sibuk sekali memang nya ada apa*
*Ini tentang Veronica, kamu pasti tahu kan jika Veronica berkerja di perusahaan Tante*
*Iya dan kinerja dia sangat bagus sekali, dia menjadi sekertaris Fabian*
*Kenapa dia tidak bekerja saja di perusahaan kamu*
*Memang kenapa Tante, bukan tidak ada permasalahan. Kenapa Tante menyuruh seperti ini*
*Apa kata Mama kamu jika dia mengetahui Veronica berkerja di perusahaan Tante*
*Lalu kenapa Tante sampai harus menerima nya, itu sudah jadi keputusan Tante kan. Tolong lah jangan permainkan pekerjaan orang lain*
__ADS_1
*Tante tidak pernah menginginkan dia untuk berkerja di perusahaan Tante, tapi Papa kamu yang mengancam Tante jika dia tidak menerima kehadiran Veronica di perusahaan Tante maka dia akan menyebar foto-foto Tante yang sedang minum di hiburan malam*
Rendy begitu sangat terkejut sekali ketika dia mendengar penjelasan dari Miranda, dia langsung mengakhiri panggilan telephone karena Veronica yang datang dengan membawa dua mangkuk mie instan untuk mereka berdua.
"Mie instan nya sudah jadi silahkan makan."
Rendy pun langsung menyimpan handphone nya, dan Veronica memperhatikan wajah Rendy yang seperti merasa kaget oleh sesuatu hal.
"Rendy, kamu baik-baik saja kan."
Rendy yang fokus dengan mie instan nya.
"Aku baik-baik saja kok kaa, mie instan sangat enak sekali."
Di sisi lain Miranda di buat emosional sekali dengan sikap Rendy yang mematikan handphone nya secara tiba-tiba.
"Tidak sopan sekali dia mengakhiri panggilan telephone di saat aku yang masih bicara, tapi beruntung nya Rendy yang sudah mendengar semua nya. Semoga Rendy bisa memikirkan nya."
Miranda pun memilih untuk pulang ke rumah nya, karena hujan deras yang tidak juga berhenti.
__ADS_1
"Kenapa sikap sekarang bisa menjadi seperti ini yaa, dan sekarang aku merasa sangat merindukan sekali kehadiran Aliya di rumah."
Miranda memegang kepalanya dia terus saja memikirkan Aliya.
"Seketika saja aku menginginkan Aliya untuk bisa kembali tinggal di rumah, tapi tidak bersama dengan Fabian dan itu tidak akan pernah mungkin terjadi."
Miranda sampai di rumah nya, dia memilih untuk langsung berjalan menuju ke kamar nya tapi langkah kaki nya yang tiba-tiba saja berhenti di depan kamar Aliya.
Miranda pun membuka pintu kamar tersebut dia masuk ke dalam kamar Aliya.
"Putri cantik ku yang dulu masih sangat kecil dan sekarang dia sudah menikah dan mempunyai suami, dia yang pergi meninggalkan ku di rumah yang penuh dengan kenangan ini."
Miranda berjalan mengambil foto kebersamaan nya bersama dengan suami nya.
Dia pun seketika langsung menagis ketika melihat foto mereka bertiga.
"Mas, anak mu Aliya dia sekarang sudah menikah dan dia akan menjadi seorang Dokter. Aku tidak tahu kenapa dia bisa memilih untuk menjadi Dokter mungkin itu adalah keinginan nya yang harus aku terima."
Miranda memeluk erat foto tersebut dia pun duduk di kasur lembut milik Aliya.
__ADS_1
"Mungkin di sana kasur tidak selembut dan senyaman di kamar nya, sampai di saat dia kembali ke rumah dia sampai ketiduran di kasur ini."
Miranda pun membaringkan tubuhnya di atas kasur tersebut dan juga memejamkan mata nya.