
Fabian sampai di rumah nya di saat Aliyaa sedang menghapus pesan masuk dari Dokter El-Rivan.
Fabian membuka pintu dan Aliya langsung menyimpan handphone dengan wajah gugup.
"Ada apa Aliyaa,? kenapa kamu kelihatan seperti sedang menyembunyikan sesuatu."
Aliya berusaha bersikap tenang di hadapan Fabian.
"Tidak ada yang aku sembunyikan, aku merasa sangat terkejut sekali ketika kamu yang tiba-tiba saja membukakan pintu di saat aku sedang memainkan handphone."
Fabian pun menghampiri Aliyaa, dia ingin bisa memperbaiki hubungan nya dengan Aliyaa.
"Aliya, aku menyadari jika hubungan kita menjadi seperti ini semenjak kamu yang menyembunyikan penyakit mu itu. Rasa kecewa ku sangat besar sekali Aliyaa ketika kamu yang lebih percaya dengan lelaki lain dari pada suami mu sendiri."
Aliya mulai ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Fabian.
"Maafkan aku, aku tidak mau kamu hawatir terhadap aku karena aku merasa sangat yakin sekali jika penyakit itu akan sembuh hanya dengan mengonsumsi obat dengan teratur tapi ternyata tidak."
Mata Aliyaa yang mulai berkaca-kaca ketika mengatakan hal tersebut di hadapan Fabian.
__ADS_1
"Aku takut karena kamu yang selalu menginginkan kehamilan ku ini, aku pun merasa sangat tertekan sekali karena bukan keinginan aku jika ternyata aku yang harus kesulitan dalam mengandung."
Fabian pun langsung menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya.
"Aliya mulai sekarang jangan pernah ada lagi rahasia diantara kita berdua, dan kamu juga harus memberikan kepercayaan kepada ku. Jangan pernah berpikiran negatif terhadap ku yaa, karena aku sangat setia sekali dengan kamu."
Fabian pun langsung memeluk erat tubuh Aliyaa, mereka mencoba untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Tapi Aliyaa dia merasa tidak bisa menghilangkan rasa cemburunya terhadap Veronica walaupun Fabian dan Mama nya sudah mengatakan tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka berdua.
Aliya berpura-pura percaya dengan suami nya padahal di belakang nya dia ingin mencari informasi tentang Veronica itu siapa.
Aliya dan Fabian pun berjalan menuju ke dapur dan ketika mereka berdua hendak menikmati makanan tiba-tiba handphone Aliyaa yang bergetar.
Aliya pun dengan cepat mengambil handphone tersebut dan membaca pesan masuk dari siapa.
Ternyata pesan masuk dari Dokter El-Rivan, Aliyaa pun memilih untuk pergi ke kamar mandi.
"Mas aku ke kamar mandi dulu yaa, kamu makan duluan aja Mas."
__ADS_1
Sikap Aliyaa membuat Fabian menjadi curiga.
"Bukan kah tadi kita yang sudah berpelukan untuk membuat lembaran yang baru, dan tidak ada lagi rahasia diantara kita berdua tapi kenapa sangat mencurigakan sekali yaa."
Fabian seperti ingin tahu siapa yang mengirim pesan kepada Aliyaa.
Aliya yang sedang berada di kamar mandi pun langsung membaca pesan tersebut.
*Aliya, seperti nya mulai besok kita sudah bisa melakukan program kehamilan itu yaa. Bagaimana Aliyaa apakah kamu siap*
*Baiklah tapi besok saya harus pergi ke kampus yaa, mungkin pulang dari kampus sekitar jam 11 siang*
*Baiklah saya tunggu yaa Aliyaa*
*Terimakasih informasinya yaa Dokter El-Rivan*
Aliya segera menghapus percakapan mereka berdua dan juga menghapus nomor handphone Dokter El-Rivan.
Aliya lebih memilih untuk menghafal nomor handphone nya, agar tidak ketahuan Fabian.
__ADS_1