
Aliya terbangun dari tidurnya dia pun langsung mengaktifkan kembali handphone nya, Aliyaa merasa sangat nyenyak sekali menikmati tidur panjang nya.
Aliya bercermin dan dia pun tersenyum manis.
"Pagi yang sangat indah sekali Aliyaa, lupakan orang-orang yang hanya membuat hati mu sakit. Lebih baik kamu tidak mempunyai sahabat, dari pada mempunyai sahabat yang hanya untuk menghianati saja."
Aliya seperti membuka lembaran baru dalam kehidupan nya, dia yang merasa hanya mempunyai Mama nya saja.
"Selamat pagi Mam, aku sarapan di kampus yaa."
Aliya bersalaman dan segera pergi pagi ke kampus.
"Aliya seperti baik-baik saja, dia yang sudah merasakan kesedihan yang cukup panjang. Semoga saja ini adalah jalan yang terbaik untuk Aliyaa, perpisahan yang akan membawa kebahagiaan."
Miranda pun segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor dia mengendarai mobil nya sendiri, sedang kan Aliyaa bersama dengan supir pribadi nya Pak Denies.
"Ayo Pak kita langsung saja yaa ke kampus."
Aliya berharap hari ini Fabian menyiapkan berkas-berkas perceraian nya, dia benar-benar ingin cepat selesai agar Aliyaa bisa bebas dan tidak selalu di pandang negatif.
__ADS_1
"Aku harus kuat, lupakan juga aku yang sudah menginginkan bersama dengan Dokter El-Rivan. Lebih baik aku fokus untuk karir ku dan semoga saja niat baik ku untuk bisa adopsi bayi bisa di mudahkan."
Aliya pun sampai di kampus nya, pandangan mata nya terdiam pada rumah yang letaknya dekat dengan kampus.
"Rumah masa lalu ku, semoga aku tidak masuk lagi ke dalam rumah itu."
Ketika Aliyaa hendak masuk ke kampus tiba-tiba tangan nya di tarik dan begitu sangat terkejut nya ketika Aliyaa melihat Fabian di hadapan nya.
"Aku mohon lepaskan tanganku ini yaa, ini di kampus banyak orang yang melihat kita. Jangan sampai aku teriak dan membuat kamu malu."
Fabian pun melepaskan genggaman tangan nya itu.
Aliya pun langsung meninggalkan Fabian begitu saja wajah Aliyaa yang menunjukkan kebencian terhadap Fabian.
Aliya pun sampai berlari menuju ke kelas nya dia kelihatan sangat ketakutan sekali.
"Kenapa dia tiba-tiba saja datang seperti itu yaa, dia memegang tangan ku sakit sekali.".
Aliya merasa sangat ketakutan sekali dengan Fabian.
__ADS_1
"Bagaimana jika dia masih berada di depan gerbang, dia menculik ku dan membunuh ku karena dia yang merasa kesal dengan sikap ku ini."
Aliya pun sampai tidak konsentrasi dalam belajar nya dia terus saja memikirkan Fabian.
Handphone Fabian berdering dia melihat ternyata panggilan telephone masuk dari Rendy.
*Ya, Rendy*
*Fabian kamu di mana,? apakah kamu tidak masuk kembali ke kantor sekarang kita harus menghadapi rapat penting sekali*
*Baiklah Rendy, aku sekarang segera pergi ke kantor*
Fabian pun memilih untuk menghampiri supir pribadi Aliyaa, dia memberikan sebuah kotak putih kecil kepada Pak Denies.
"Tolong berikan ini untuk Aliyaa, Aliyaa harus membuktikan nya."
Setelah memberikan kotak putih tersebut, Fabian segera pergi dan membuat Denies merasa sangat penasaran sekali.
"Kotak putih apa ini, bagaimana jika membahayakan Nona Aliyaa. Sebenarnya apa maksud dari Tuan Fabian, kenapa dia masih saja menghampiri Nona Aliyaa padahal mereka berdua sudah mau berpisah."
__ADS_1
Pak Denies terus saja memandangi kotak putih tersebut.