
Fabian dan Veronica akhirnya sampai di depan rumah Siska. Mereka melihat Siska yang sudah menunggu kedatangan Veronica.
"Itu seperti Kak Fabian,? kenapa Kak Fabian yang menjemput aku yaa."
Siska pun merasa kebingungan dan Veronica pun turun dari mobil nya melambaikan tangan nya kepada Siska.
Siska pun langsung menghampiri mobil tersebut, dan membuka pintu mobil di kursi belakang.
"Siska, kita pergi bersama dengan Fabian yaa. Karena Fabian juga dia mau ke Rumah Sakit Permata untuk bertemu dengan Ibu nya."
Seketika Siska pun merasa sangat hawatir sekali bagaimana jika Aliyaa melihat mereka ketika Veronica bersama dengan Fabian.
"Siska kamu tidak usah hawatir yaa, Aliyaa tidak mungkin membuat ulah lagi karena dia yang sudah mempunyai kekasih baru."
Siska merasa sedikit tenang ketika dia mendengar perkataan Fabian, dan Veronica pun merasa ingin tahu kenapa Fabian sampai harus ketemu di Rumah Sakit untuk bertemu dengan Ibu nya.
"Apakah kamu akan membicarakan hal yang serius dengan Ibu mu,? sampai harus bertemu di Rumah Sakit?."
Fabian merasa sudah tidak ada yang harus di tutupi lagi antara dirinya dengan Veronica.
"Aku akan membicarakan tentang Aliyaa, aku sudah tidak bisa mempertahankan hubungan pernikahan ini jika Aliyaa yang sudah berani bersama dengan lelaki lain. Itu tandanya dia yang sudah tidak memiliki perasaan terhadap aku."
__ADS_1
Siska merasa sangat kasihan sekali melihat Fabian, sikap Aliyaa yang menurut Siska yang membuat pernikahan nya menjadi seperti ini.
"Kak Fabian, Aliya dia yang masih seperti anak-anak. Dia yang belum dewasa mungkinkah ini juga yang menjadi penyebab nya."
Veronica tidak bisa mengomentari perkataan Siska, karena dia merasa menikah muda sudah menjadi pilihan mereka berdua.
"Ya, Siska seperti nya memang seperti itu permasalahan nya. Tapi jika Aliyaa tidak seperti ini masih ada perasaan untuk bisa kembali bersama memulai dari nol."
Pembicaraan mereka pun akhirnya membuat mereka sampai di Rumah Sakit, dan Veronica merasa sangat bersemangat sekali.
"Akhirnya kita bisa melihat bayi kembar laki-laki kuu, uhhh tidak sabar aku."
Veronica dengan cepat membuka pintu mobil nya dan Siska pun juga ikut turun.
Fabian begitu sangat perhatian sekali dengan Veronica dan Siska.
"Iya Fabian, kamu hati-hati yaa. Semoga mendapatkan pembicaraan akhir yang terbaik yaa."
Veronica melambaikan tangan nya kepada Fabian dan dia pun juga memegang tangan Siska.
"Kamu harus hati-hati ya Siska jalan nya, karena lihat perut mu yang sudah semakin membesar sangat gemas sekali yaa."
__ADS_1
Siska merasa sangat senang sekali karena Veronica yang begitu sangat baik sekali kepada nya.
Mereka berdua pun langsung mendaftar dan ternyata Siska mendapatkan antrian yang lumayan lama.
"Siska, ini nomber 5 kita harus sabar yaa. Ku pikir kita yang akan mendapatkan urutan nomor satu atau dua."
Dokter El-Rivan pun datang dan dia melihat Siska yang sedang bersama dengan Veronica.
Pandangan pertama Dokter El-Rivan melihat Veronica.
"Dokter nya sudah datang kak, jadi seperti tidak akan menuggu lama."
Siska yang terus menerus mengelus perut nya, dan Veronica merasa jika Siska yang seperti sedang merasa kelaparan.
Veronica terus saja memperhatikan Siska dia berniat untuk pergi membelikan makanan untuk Siska di kantin Rumah Sakit.
"Aku beli makanan yaa, seperti nya kamu sangat lapar Siska."
Siska menarik tangan Veronica untuk tetep duduk di samping nya.
"Tidak usah Kak, nanti saja karena sebentar lagi kita pasti segera di panggil."
__ADS_1
Veronica pun duduk kembali mengikuti apa yang di katakan oleh Siska.