
Siska yang merasa dirinya sudah segar kembali dia berpamitan dengan Dokter Nadia dia yang akan pergi ke kampus untuk memutuskan cuti dari kuliah nya.
"Dok, aku merasa sudah membaik. Aku mau ke kampus ya setelah itu aku akan pergi ke Restoran Om Irfan untuk membicarakan tentang pekerjaan ku di sana."
Dokter Nadia merasa sangat hawatir sekali dengan Siska dia takut orang jahat suruhan Kania yang mencelakakan Siska.
"Jangan sendiri yaa, diantar oleh supir pribadi. Dokter tidak mau jika terjadi sesuatu dengan kamu apalagi kamu yang sedang hamil muda seperti ini."
Siska pun berpikir ke arah sana, dia lebih menghawatirkan kondisi kandungan nya.
"Iya Dokter, terimakasih banyak yaa."
Dokter Nadia pun langsung menyuruh supir pribadi untuk mengantarkan Siska.
"Ingat yaa jangan ngebut-ngebut Siska sedang hamil muda, jika sampai ada seorang yang menghampiri Siska kamu langsung menghampiri Siska yaa lindungi Siska."
Supir pribadi tersebut menganggukkan kepalanya dan Siska pun langsung masuk ke dalam mobil nya.
"Mbak Siska duduk di depan saja agar lebih aman dengan sabuk pengaman nya."
Siska pun mengikuti ucapan supir pribadi tersebut.
"Dokter saya pergi dulu yaa."
Siska bersalaman dengan Dokter Nadia.
"Iya Nak, hati-hati yaa sayang."
Dokter Nadia melambaikan tangan nya, dan mobil tersebut pun langsung berjalan.
"Pak setelah ke kampus kita pergi ke Restoran, jika saya langsung di suruh untuk berkerja lebih baik Bapak langsung pulang saja yaa."
Supir tersebut merasa sangat kasihan sekali dengan Siska di saat dia sedang hamil muda dia harus mencari pekerjaan.
"Baik mbak Siska."
Mereka pun akhirnya sampai di depan kampus dan Siska melihat ada Rendy.
"Lelaki yang ada di depan gerbang itu adalah teman saya, dia bukan orang jahat. Jika sampai dia menghampiri saya pun tidak masalah yaa."
Supir pribadi tersebut menganggukkan kepalanya dan Siska keluar dari mobil tersebut.
__ADS_1
Rendy memperhatikan Siska yang keluar dari mobil siapa dia langsung menghampiri Siska.
"Siska kamu di antar oleh siapa,?"
Rendy melihat wajah supir yang mengantarkan Siska.
"Dengan siapapun itu bukan urusan kamu ya Rendy, permisi aku harus masuk ke kampus."
Rendy tidak melihat Siska yang seperti akan kuliah dan Rendy pun menarik tangan Siska, seketika Siska langsung memegang perut nya.
"Rendy apa yang kamu lakukan itu bisa membahayakan."
Seketika Siska terdiam tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Membahayakan apa Siska,? kenapa kamu memegang perut mu itu."
Siska yang tidak mau Rendy sampai mencurigai nya dia pun langsung berjalan cepat menuju ke kampus.
"Ada yang aneh dengan sikap Sikap Siska, ada apa sebenarnya dengan Siska."
Rendy memilih untuk masuk ke dalam kampus tersebut dan diam-diam mengikuti Siska sampai akhirnya Siska berada di suatu ruangan.
Rendy mendengarkan apa yang Siska katakan dengan dosen nya begitu sangat jelas sekali terdengar oleh Rendy.
Rendy sengaja menunggu Siska keluar dari ruangan tersebut dan akhirnya Rendy pun melihat Siska.
Siska begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Rendy yang ada di hadapannya.
"Kamu mendengar kan semuanya,? untuk apa kamu selalu ingin tahu permasalahan orang lain."
Siska kelihatan sangat marah sekali dengan Rendy.
"Siska kenapa kamu kamu harus melakukan cuti kuliah, ada apa yang terjadi bukan kah kamu dan Aliya ingin menjadi Seorang Dokter Specialis Anak bersamaan."
Siska mencoba untuk menahan air mata nya di depan Rendy.
"Aku memilih untuk berkerja di Restoran Om Irfan, aku sudah tidak sanggup lagi untuk membayar biaya kuliah."
Rendy merasa tidak percaya dengan perkataan Siska karena itu sangat tidak mungkin Orang tua Aliyaa pasti mementingkan pendidikan untuk Siska.
"Kenapa kamu diam untuk orang yang banyak uang seperti kamu itu memang tidak mungkin yaa, tapi untuk keluarga sederhana seperti itu mungkin terjadi."
__ADS_1
Siska mendorong tubuh Rendy yang menghalangi nya untuk berjalan.
Rendy pun seketika langsung terdiam mendengar perkataan Siska.
"Jika kamu tidak mempunyai biaya maka aku yang akan membayar nya Siska, aku akan membiayai ku sampai lulus kuliah kedokteran."
Tapi Rendy merasa percuma saja Siska tidak akan pernah mau menerima uang dari nya, Siska bukan wanita yang gampang tidak seperti wanita yang lain nya.
Siska menangis di sepanjang jalan menuju ke mobil, dia dalam hatinya berkata andaikan Rendy tahu jika dirinya yang sudah di usir oleh keluarga nya.
Yang mencoba untuk mencari pekerjaan demi memikirkan biaya persalinan nya nanti.
Siska pun langsung membuka pintu mobil nya dan dia masuk dengan menghapus air mata nya dengan tissue.
Supir pribadi tersebut merasa jika Lelaki yang menghampiri Siska adalah ayah dari anak yang di kandung Siska tapi sepertinya lelaki itu yang tidak mau bertanggung jawab.
"Ayo pak jalan yaa Ke Restoran ini yaa pak."
Siska memberikan alamat Restoran Irfan kepada supir pribadi nya itu.
"Baiklah Bu, saya tahu Restoran ini yang sangat terkenal sekali. Dokter Nadia sering sekali pergi ke Restoran ini."
Siska pun tidak menyangka jika Dokter Nadia sering datang ke Restoran tersebut dan Siska merasa telah terjadi hubungan spesial antara Dokter Nadia dengan Om Irfan.
Siska pun mencoba untuk memakai make-up di jalan dia tidak mau kelihatan habis menangis di hadapan Om Irfan karena dia juga pasti akan di jadikan pelayan di sana.
"Mbak Siska serius akan berkerja di saat hamil muda seperti ini, kebanyakan yang hamil muda itu sering sekali mual muntah-muntah loh Mbak Siska untuk bisa makan pun sangat susah sekali."
Siska seketika langsung terdiam ketika mendengar perkataan supir pribadi tersebut, bagaimana jika hal tersebut terjadi kepada dirinya dia yang tidak akan bisa berkerja untuk mencari uang.
"Aku berharap besar aku tidak mengalami hal tersebut, karena aku harus berjuang keras sendiri menjadi orang tua tunggal untuk bayi ku ini. Aku tidak punya lagi siapa-siapa yang bisa membantu ku dalam hal perekonomian."
Lagi-lagi air mata Siska pun terjatuh membasahi kedua pipinya.
"Mbak Siska yang sabar yaa, pasti akan ada pelangi setelah hujan. Pasti akan ada kebahagiaan setelah kesedihan datang."
Mereka pun akhirnya sampai di depan Restoran milik Irfan.
"Pak, langsung pulang saja yaa. Tidak usah menunggu saya."
Siska keluar dari mobil tersebut dan berjalan menuju ke dalam Restoran dengan penuh harapan besar.
__ADS_1
Tapi Supir pribadi tersebut lebih memilih untuk menunggu Siska sampai selesai.