
Irfan memaksa Miranda untuk keluar dari Apartemen Fabian dan Rendy pun yang baru saja datang dia yang ketinggalan apa yang sebenarnya terjadi di Apartemen nya.
"Apa yang terjadi kenapa Tante Miranda sampai menagis histeris seperti itu di hadapan Fabian."
Fabian merasa berhasil bisa mempermalukan Miranda, dia sangat yakin sekali mereka pasti berpikiran negatif terhadap Miranda.
Setelah melihat Miranda dan Irfan pergi, Veronica pun langsung menghampiri Fabian.
"Apakah dia mengajak mu untuk kembali menjalani hubungan,? apakah ini alasan nya yang ingin mempercepat proses perceraian kalian berdua. Ini sangat menjijikkan sekali kenapa dia masih mempunyai perasaan terhadap mu Fabian."
Rendy mendekati Veronica dia merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi sesuai dengan yang dia bayangkan.
"Semuanya hanya dia yang tahu, jika memang ini adalah jawaban dari rencana tersebut. Aku tidak akan pernah menandatangani surat perceraian tersebut."
Veronica masih di buat tidak percaya.
"Kenapa tidak mencari lelaki yang seumuran dengan nya, aku sangat yakin sekali banyak lelaki di luar sana yang mau dengan Bu Miranda."
Rendy pun memegang tangan Veronica.
"Lebih baik kita pergi dari sini, kita biarkan Fabian menyendiri dulu."
__ADS_1
Rendy dan Veronica pun keluar dari Apartemen Fabian, tapi Veronica yang merasa sangat menghawatirkan sekali kondisi Fabian.
"Fabian kamu jangan sampai melakukan hal-hal yang negatif yaa."
Ucap Veronica sebelum keluar dari Apartemen Fabian.
Fabian pun langsung tersenyum tipis.
"Miranda, kamu sekarang pasti merasa sangat malu sekali. Dan bagaimana jika sampai media sosial mengetahui nya, jika menantu ku adalah mantan kekasih ku."
Fabian pun memilih untuk beristirahat karena besok dia berencana untuk bertemu dengan Aliyaa.
Miranda masih saja menangis di dalam mobil nya dengan di temani oleh Irfan.
"Irfan apakah kamu juga percaya jika aku yang masih menyimpan perasaan terhadap Fabian,? sama sekali aku tidak punya rencana untuk kembali dengan Fabian. Aku hanya ingin Aliyaa mendapatkan lelaki yang mau menerima nya apa adanya."
Irfan pun mencoba untuk menenangkan Miranda.
"Sudah Miranda kamu harus bisa menenangkan perasaan kamu ini, ingat Aliyaa yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Jangan sampai Aliyaa mengetahui semua ini."
Karena sudah malam Irfan pun meninggalkan Miranda di dalam mobil nya sendiri.
__ADS_1
"Aku harus pergi, karena istri ku sudah menunggu ku di rumah."
Dengan berat hati Irfan pergi dan Miranda yang masih saja menangis histeris di dalam mobil nya.
"Jahat sekali kamu Fabian, lihat saja aku pun tidak akan pernah diam. Aku akan membalas rasa malu dan sakit hati ku ini."
Miranda pun memilih untuk diam di dalam mobil nya, karena dia tidak mungkin bertemu dengan Aliyaa dengan mata yang merah dan bengkak.
"Aliya tidak boleh mengetahui jika aku yang sudah menangis, aku harus menghapus air mata ku ini."
Miranda pun memilih untuk menambah make-up di wajah nya, agar terlihat segar kembali.
"Baiklah, semoga Aliyaa tidak memperhatikan ku."
Miranda pun mengendarai mobil nya sampai di depan Rumah Sakit dia bertemu dengan Dokter El-Rivan.
"Ibu Miranda, bolehkah kita berdua bicarakan sebentar."
Miranda pun langsung terdiam pikiran nya semakin negatif, karena Dokter El-Rivan adalah Dokter Specialis Kandungan.
Miranda hawatir jika Dokter El-Rivan akan memberitahu dirinya jika Aliyaa yang sedang mengalami penyakit serius lagi.
__ADS_1