
Miranda melampiaskan kekesalannya terhadap Iran dengan cara berteriak-teriak di dalam mobil nya.
"Kenapa aku harus bertemu dengan lelaki itu, aku tahu dia hanya ingin menyindir ku saja. Sangat menyebalkan sekali."
Miranda pun mengendarai mobil nya untuk pulang ke rumah nya, selama ini Miranda lebih untuk tinggal di Apartemen nya.
Miranda tinggal di Apartemen yang dulu pernah di tempati oleh Fabian.
Miranda sampai di rumah nya, dan tidak sengaja mendengar obrolan para pegawai nya tentang Aliya.
"Nona Aliya ke mana yaa,? dia sudah menikah tapi kenapa yaa dia tidak mau pulang ke sini."
Ucap salah satu pegawai dengan wajah yang sedih.
"Iya rasa nya rindu sekali dengan Nona Aliya, Nona Aliya yang manja ternyata mampu bertahan hidup di luar sana tanpa kemewahan yaa."
Miranda terdiam ketika mendengar obrolan para pegawai yang merindukan kehadiran Aliya di rumah ini.
"Coba yaa kalau masih ada almarhum Papa nya, pasti dia tidak akan pernah tega melihat Nona Aliya yang hidup sederhana di luar sana. Nona Aliya kuliah kedokteran pun itu dari beasiswa saja, bagaimana yaa dulu dia untuk membeli baju tas perawatan kecantikan seperti nya Nona Aliya sudah melupakan hal tersebut."
Miranda pun langsung berlari menuju ke kamar nya, dan para pegawai pun melihat Miranda yang berlari.
"Dasar orang tua yang egois selalu menginginkan anak nya harus mengikutinya apa yang dia inginkan, padahal Nona Aliya itu kan sangat pintar sekali."
Para pegawai merasa sangat kesal sekali dengan sikap Miranda yang mengabaikan Aliya.
"Dia tidak berpikir nanti kalau sudah tua dia akan bersama dengan siapa ya, walaupun dia banyak uang tapi kan dia pasti sangat kesepian sekali hidup nya."
__ADS_1
Setelah merasa cukup lega obrolan mereka di dengar langsung oleh Miranda. Para pegawai pun langsung kembali untuk membersihkan dapur.
Miranda membuka pintu kamar nya, dia terus saja mengingat obrolan para pegawai nya.
"Kenapa kalian semua seperti menyalakan ku, aku sudah mengalah membiarkan mereka berdua menikah. Tapi kenapa mereka tetap saja berpikir negatif terhadap ku saja."
Miranda duduk di atas kasur sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan nya.
"Aliya pergi dari rumah ini itu karena keinginan nya, dia yang memilih untuk pergi. Kenapa kalian selalu menyalahkan aku."
Miranda merasa sangat pusing sekali ketika emosional nya naik, dia merasa hipertensi nya kambuh kembali.
"Miranda jangan seperti ini, jangan sampai penyakit ini kambuh kembali. Jangan sampai kamu masuk lagi ke rumah sakit."
Miranda mencoba untuk membaringkan tubuh nya, dia merasa sangat pusing sekali sambil memegang kepalanya.
"Ahhhhh, berat sekali rasanya kepalaku ini."
Miranda terus mengeluh kesakitan sehingga membuat yang ada di luar kamar mendengar suara Miranda.
"Seperti itu suara Bu Miranda, dia seperti mengeluh kesakitan."
Pegawai itu pun mendekati pintu kamar Miranda dan memang terdengar jelas sekali suara Miranda yang merintih kesakitan.
"Aduh bagaimana ini kalau sampai saya bukan langsung pintu nya nanti di bilang tidak sopan. Tapi mendebarkan Bu Miranda seperti ini saya juga sangat hawatir sekali."
Pegawai tersebut pun memilih untuk mengetuk pintu kamar Miranda.
__ADS_1
"Buuuuu, ibuuuu baik-baik saja kan."
Miranda yang memang sudah tidak kuat menahan rasa sakit dia pun akhirnya menjawab pertanyaan tersebut.
"Masuklah, aku butuh obat aku sangat pusing sekali.".
Pegawai tersebut pun akhirnya membuka pintu kamar Miranda dia melihat Miranda yang berbaring lemah di atas tempat tidur nya.
"Sebenar yaa Buu, saya menaruh obat hiperaktif ibu loh. Saya menyimpan nya di kotak obat karena saya yakin punya resep obat nya."
Pegawai tersebut pun langsung membawa kan obat dan minuman untuk Miranda.
"Silahkan Bu, di minum obat nya."
Miranda dengan cepat langsung meminum obat tersebut.
"Terimakasih banyak yaa, kalau kamu tidak mendengar aku yang kesakitan seperti ini. Mungkin aku sudah pingsan seperti dulu."
Pegawai tersebut pun tersenyum manis kepada Miranda.
"Saya pergi dulu yaa Buu, semoga ibu bisa lekas sembuh kembali."
Pegawai tersebut pun keluar dari kamar Miranda dan Miranda pun melamun kehidupan yang ternyata sangat kesepian sekali.
"Wanita Kesepian, aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi di kehidupan ku ini."
Miranda yang merasa sedikit membaik dia pun langsung menarik selimut hangat nya.
__ADS_1