
Irfan mencoba untuk selalu menyemangati Siska.
"Kamu tidak usah memikirkan biaya persalinan yaa, biarkan Om yang menanggung nya yaa. Kamu jangan banyak pikiran yaa Siska kasihan bayi yang ada di dalam perut kamu."
Siska pun melepaskan pelukan erat nya.
"Sekarang kamu pulang kembali ke rumah Dokter Nadia, istrirahat dulu lalu makan yang banyak yaa agar besok kamu mempunyai tenaga."
Siska pun keluar dari ruangan Irfan dia melambaikan tangan nya sambil tersenyum haru.
"Aku begitu sangat beruntung sekali ketika di sekelilingku orang orang baik semua."
Ketika Siska keluar dari Restoran dia baru mengingat jika dia menyuruh supir pribadi itu untuk tidak menunggu nya.
"Oh baiklah, aku pulang dengan taksi saja."
Tapi ketika Siska akan menuggu taksi tiba-tiba saja mobil tersebut ada dan memberikan klakson sehingga Siska sedikit terkejut.
"Ayo mbak Siska masuk ke dalam mobil diluar sangat panas sekali."
Siska pun segera masuk ke dalam mobil tersebut.
"Loh Pak kok masih ada di sini sih, bukan nya saya sudah menyuruh bapak untuk pergi yaa."
__ADS_1
Supir pribadi itu pun tersenyum manis kepada Siska.
"Iya Mbak Siska, tapi saya hawatir sekali sama Mbak Siska yasudah saya tunggu saja."
Tidak henti-hentinya Siska merasa sangat bersyukur sekali banyak nya orang-orang baik di sekeliling nya.
"Terimakasih banyak yaa Pak baik sekali sama saya."
Handphone Siska pun berdering kencang dan Siska melihat panggilan telephone masuk dari Aliyaa.
"Astaga aku sampai melupakan Aliyaa dia pasti sudah pulang dari Rumah Sakit."
Siska pun segera menjawab panggilan telephone masuk tersebut.
...*Hallo Aliyaa*...
...*Aliya maafkan aku, aku baik-baik saja kok. Kamu pasti sudah pulang yaa dari Rumah Sakit maaf yaa aku nggak bisa datang*...
...*Sudah lupakan saja, aku lebih menghawatirkan kondisi kamu Siska tidak ada terjadi sesuatu kan sama kamu*...
...*Tidak ada Aliyaa, aku baik-baik saja*...
Siska memilih untuk tidak memberitahu Aliyaa tentang kehamilan nya, karena itu pasti akan membuat Aliyaa panik dan memberitahu kepada Mama nya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Aliyaa yang lebih memilih untuk diam karena Siska yang seperti nya tidak hamil dan Kania tidak akan mencelakakan kandungan Siska.
...*Siska seperti nya aku mulai kuliah menunggu satu mingguan lagi deh, karena aku merasa masih linu jika berjalan*...
...*Oh begitu ya Al, iya lebih baik kamu sembuh total dulu baru aktivitas kembali seperti dulu*...
...*Siska bagaimana besok pulang kuliah kamu main ke rumah aku yaa, aku merasa kangen sama kamu*...
...*Hmmmm, Aliyaa maafkan aku seperti nya tidak bisa.*...
...*Oh yaudah deh Siska seperti kamu sedang sibuk yaa, maaf ya aku menggangu waktu nya*...
...*Iya Aliyaa*...
Aliya mengakhiri panggilan telephone nya dia merasa ada yang aneh dengan sikap Siska.
"Siska kenapa yaa, suara seperti gugup dan bergetar sekali tidak seperti Siska yang biasanya."
Melinda datang ke kamar dengan membawa makanan untuk Aliyaa.
"Kamu tadi sudah telephone sama Siska yaa,? terus bagaimana dengan Siska apakah dia hamil atau tidak?."
Aliya mengambil makanan tersebut dan memakan nya.
__ADS_1
"Hmmmm, ntah lah seperti tidak. Semoga saja tidak jika hanya membahayakan nyawa Siska untuk Apa. Semoga saja Siska mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Rendy."
Miranda pun berharap seperti itu karena Kania orang nya sangat nekad sekali.