
Miranda dan Irfan berada di luar ruangan merasa berdua duduk berdampingan.
"Aliya begitu sangat baik sekali dengan Siska, sampai dia yang harus membayar administrasi dan memberikan fasilitas yang terbaik untuk Siska."
Miranda pun langsung tersenyum tipis mendengar nya.
"Tapi Siska mengingkari janji nya, dia bilang akan memberikan salah satu anak untuk di urus oleh Aliyaa tapi tiba-tiba membatalkan. Aku akan mengadopsi anak yang masih bayi di panti asuhan untuk Aliyaa agar dia tidak merasa kesepakatan dan melarang Aliyaa untuk berteman dengan siapa pun."
Irfan merasa jika Miranda yang merasakan apa yang Aliyaa rasakan sekarang, dia yang baik tapi orang lain yang belum tentu bisa dengan nya.
"Sekarang aku akan mendatangi Fabian, agar secepatnya berpisah dengan Aliyaa. Karena selama masih berstatus sebagai istri Fabian, semua orang seakan menyalakan Aliya, padahal permasalahan sudah jelas Aliyaa yang belum bisa memberikan keturunan untuk pernikahan dan jika Fabian bisa bersabar karena sekarang sudah modern mereka bisa ke luar negeri. Tapi apa kan dia malah menuduh Aliyaa berselingkuh dengan Dokter El-Rivan."
Emosi Miranda sudah sangat tinggi sekali dia pun mulai mengatur nafas nya.
"Bilang ke Nadia, temani Aliyaa. Aku akan bertemu dengan Fabian sekarang juga sudah tidak ada lagi kata untuk menunggu."
__ADS_1
Miranda pun langsung pergi begitu saja dan Irfan pun masuk kembali ke ruangan Aliyaa.
Irfan melihat istrinya yang sangat dekat sekali dengan Aliyaa tidak ada perbedaan sama sekali, Irfan pun menghampiri memberitahu Istri dalam sebuah pesan singkat.
*Tetap bersama dengan Aliyaa, Miranda yang sekarang sedang menemui Fabian, dia ingin sekali antara Aliyaa dan Fabian*
Irfan masih memegang Handphone nya agar Aliyaa tidak curiga terhadap nya, Dokter Nadia pun langsung melihat handphone ketika ada getaran di tas nya.
Setelah membaca pesan dari suami nya, Irfan pun menghampiri mereka berdua.
Irfan mengelus rambut panjang Aliyaa dan Dokter Nadia pun tersenyum tipis.
"Mama aku ke mana yaa Om, bukan kah tadi di luar bersama dengan Om Irfan?."
Irfan pun merasa bingung dia harus menjawab apa karena tidak mungkin dia memberitahu Aliyaa jika Mama nya yang sedang pergi bertemu dengan Aliyaa.
__ADS_1
"Mama kamu pergi ke kantor dulu, nanti juga dia pasti akan kembali."
Aliya pun percaya karena Mama yang pasti sangat sibuk sekali.
"Ya, Mama pasti sangat sibuk sekali di kantor."
Irfan pun akhirnya keluar dari ruangan Aliyaa dan pergi ke Restoran nya kembali.
"Aliya sekarang kita bicarakan yang indah-indah yaa, ketika nanti kamu yang sudah menjadi seorang Dokter Specialis Anak. Apa yang ingin lakukan Aliyaa,? apakah berkerja di Rumah Sakit atau membuka praktek sendiri."
Aliya pun seketika langsung tersenyum ketika membayangkan semuanya.
"Sebelum semua itu terjadi, aku ingin mengadopsi bayi di panti asuhan. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, dan setelah itu aku bisa menjadi seorang Dokter Specialis Anak dengan berfoto bersama anak asuhan ku."
Dokter Nadia merasa jika Aliyaa yang memang ingin sekali menjadi seorang Ibu walaupun rumah tangga nya berakhir tapi dia tetap ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai bayi, walaupun bukan dari rahim nya sendiri.
__ADS_1