
Fabian akhirnya sampai di rumah nya dan seperti tebakan nya ibu pasti mempertanyakan tentang Veronica.
"Duduklah ibu ingin bicara dengan mu Nak."
Fabian duduk di samping ibu nya dia menundukkan kepalanya.
"Wanita itu dia adalah mantan kekasih mu di saat masih sekolah dulu, kenapa kamu sampai menghadirkan dia di rumah sakit untuk bertemu dengan Aliyaa."
Lania sampai menghelakan nafas panjang nya.
"Ibu tahu itu memang hanya masa lalu tapi kamu dulu begitu sangat mencintai nya, kamu tidak bisa melupakan nya ketika dia yang harus kuliah di luar negeri."
Fabian mulai memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari ibu nya.
"Aku tidak pernah menginginkan hal tersebut Bu, semenjak aku menikah dengan Aliyaa aku tidak pernah ingin melihat kembali masa-masa dulu. Tapi aku harus bagaimana jika Veronica datang atas perintah dari Miranda Mama nya Aliyaa yang merupakan CEO dari perusahaan tersebut."
Lania begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan Fabian.
"Miranda tidak pernah tahu hal tersebut, yang dia tahu adalah Veronica yang begitu sangat bagus dalam berkerja sama dengan ku di perusahaan."
Setelah selesai menceritakan semuanya kepada Ibu nya, Fabian pun memilih untuk pergi ke kamar nya.
Fabian merasa sangat hampa sekali ketika dia yang harus jauh dari istri nya.
Lania menghawatirkan kondisi rumah tangga Fabian dengan Aliyaa.
"Semoga saja rumah tangga mereka berdua baik-baik saja, aku tidak ingin ada perselingkuhan diantara mereka."
Lania memilih untuk menunggu kedatangan suaminya, dia menunggu di sofa depan rumah nya dengan memikirkan hubungan Fabian dan Aliya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya suaminya pun pulang dan menghampiri istrinya.
"Ayo lebih baik kita langsung beristirahat saja yaa, malam begitu sangat dingin sekali."
Lania yang berniat ingin bercinta dengan suami pun terpaksa harus menahan nya.
Lania dan Dokter Putra memilih untuk masuk ke dalam kamar nya.
*Keesokan harinya*
__ADS_1
Aliya begitu sangat bersemangat sekali dia yang akan pulang dari rumah sakit, Aliyaa sangat tidak sabar sekali dia yang begitu sangat merindukan kuliah nya.
"Mama merasa kamu yang begitu sangat segar sekali hari ini,? apakah kondisi kamu yang memang sudah sangat membaik Aliyaa?."
Aliya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis kepada Mama nya.
"Yaa, aku sangat bersemangat sekali. Karena aku harus kuliah juga kan, aku tidak mau terlalu banyak ketinggalan pelajaran."
Miranda begitu sangat senang sekali ketika bisa melihat Aliyaa yang tersenyum manis.
"Kamu pulang ke rumah dulu yaa,? setelah itu kamu boleh kembali ke rumah bersama dengan Fabian. Karena kamu juga butuh istirahat Aliyaa jika di sana kamu melakukan semua nya sendiri tidak ada pelayan yang melayani mu."
Seketika Aliyaa pun terdiam jika dia pulang ke rumah orang tua nya, dia tidak akan bertemu dengan suaminya. Sedangkan Fabian dia tidak mungkin mau menginap di rumah itu.
"Mam, aku tidak bisa menjawab nya sekarang. Aku harus menyatakan kepada suami ku dulu bagaimana baik nya."
Miranda pun tidak bisa bicara lagi karena Aliyaa memang harus menanyakan kepada suaminya.
"Yasudah kamu telephone Fabian sedangkan Mama mau membereskan dulu administrasi pengobatan kamu."
Miranda memilih keluar dari ruangan Aliyaa membiarkan Aliyaa dengan bebas menelephone suaminya.
"Semoga saja Mas Fabian sudah bangun dari tidur nya, jadi aku tidak menggangu nya."
"Aliya, se pagi ini dia meneleponku ada apa yaa."
Fabian pun langsung menjawab panggilan telephone dari Aliyaa.
*Hallo Aliyaa*
*Hallo Mas, maafkan aku menggangu waktu pagi mu yaa*
*Tidak apa-apa kok memang sudah bangun dan mau ke rumah sakit juga*
*Mas, aku kan hari ini pulang dan bagaimana yaa. Mama menyuruh ku untuk beristirahat di rumah Mama tapi aku tidak berani menjawab iya karena aku yang belum bertanya dengan kamu Mas*
Fabian terdiam sejenak dia tidak mau menjadi penyebab Aliyaa sakit, dia juga merasa yakin belum bisa memberikan yang terbaik untuk Aliyaa.
Apalagi semenjak hidup bersama dengan nya, Aliyaa yang terlahir dari keluarga kaya raya dia harus melakukan semuanya sendiri.
__ADS_1
*Hmmmm, yasudah Aliyaa lebih baik kamu istrirahat dulu saja di rumah Mama kamu yaa. Itu akan membuat kondisi kamu semakin membaik lagi yaa*
*Memang tidak apa-apa yaa, jadi kita tidak bisa bertemu dong Mas*
*Sudahlah jangan memikirkan hal seperti yang penting kamu sehat kembali saja itu jauh lebih baik*
*Baiklah Mas*
*Yasudah Aliyaa, aku mau bersiap-siap untuk pergi ke kantor yaa*
Fabian langsung mengakhiri panggilan telephone nya.
"Loh kok pergi ke kantor sih, bukan ke rumah sakit dulu liat aku gitu gimana sih."
Pikiran Aliyaa mulai negatif kembali terhadap suaminya, ekpresi wajah pun seketika langsung berubah.
Miranda yang baru selesai membereskan administrasi Aliya dia terkejut melihat ekpresi wajah Aliyaa yang tiba-tiba saja berubah.
"Aliya kamu kenapa cemberut seperti itu,? apakah kamu tidak mau pulang dari rumah sakit ini? kamu yang masih betah di sini?".
Miranda pun langsung menghampiri Aliyaa dan duduk di samping nya, tapi ketika Aliyaa yang mau menjelaskan tiba-tiba Dokter El-Rivan datang untuk memastikan kondisi Aliyaa yang sudah pulih atau tidak.
"Mohon maaf yaa Buu, bisa keluar sebentar kita mau memeriksa kondisi Aliyaa."
Miranda pun dengan terpaksa dia harus mengikuti apa yang di katakan oleh Dokter.
Dokter El-Rivan pun mulai memeriksa kondisi Aliyaa.
"Aliya, kamu harus mengingat ini yaa. Kita akan melakukan USG kembali di akhir bulan. Jika sampai tidak ada perubahan atau semakin membesar kita harus melakukan tindakan operasi kamu tidak bisa menolak itu. Jika sampai kamu tidak mau melakukan nya maka saya yang akan menghubungi langsung orang tua kamu."
Ucapan Dokter El-Rivan membuat Aliyaa merasa sangat ketakutan sekali.
"Aku yang sedang menunggu keajaiban datang ke pada ku Dokter, aku yang mencoba untuk tidak membuat hawatir orang-orang yang ada di sekeliling ku yang sangat sayang kepada ku."
Tangisan Aliya di hadapan Dokter El-Rivan, membuat Dokter El-Rivan begitu sangat terharu sekali.
"Semoga saja keajaiban itu datang untuk mu Aliyaa, untuk kesehatan mu yaa. Sekarang kamu bisa pulang untuk beristirahat kamu jangan terlalu banyak beraktivitas berlebihan Aliya. Ingat yaa kamu harus mencintai kesehatan mu sendiri."
Selang infusan yang sudah tidak menempel lagi di tangan Aliyaa.
__ADS_1
"Iya Dokter El-Rivan, saya akan mencintai tubuh saya ini. Saya akan menjaga kesehatan demi kesehatan untuk diri saya sendiri."
Dokter El-Rivan tersenyum manis kepada Aliyaa dan dia meninggalkan Aliyaa di ruangan nya.