
Aliya terus saja memikirkan handphone Veronica yang begitu sangat sama dengan nya, Aliyaa berpikir apakah suami nya yang memberikan handphone tersebut.
Ketika Fabian mau masuk dia melihat Miranda, dan Fabian lebih memilih untuk diam tidak masuk ke dalam.
"Fabian kenapa kamu diam di depan pintu,? kenapa kamu tidak langsung masuk saja."
Fabian merasa sangat binggung sekali apa yang harus dia katakan kepada Miranda.
"Hmmmm, apakah tadi melihat Rendy dan Veronica?."
Miranda langsung membalikkan badannya dia tidak melihat nya.
"Tidak, aku tidak melihat mereka berdua. Memang kenapa apakah mereka berdua ke sini?."
Fabian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Dan ini adalah pertemuan perdana antara Vero dan Aliya, karena sebelumnya aku belum menceritakan tentang Veronica ke Aliyaa."
Mendengar perkataan Fabian, Miranda pun langsung masuk ke dalam ruangan dan dia melihat Aliyaa yang seperti sedang melamun.
Miranda dengan sangat cepat dia menghampiri Aliyaa dan menepuk pundak nya, sehingga Aliyaa langsung terkejut.
"Mama, aku kaget. Mama sudah pulang kerja,? besok juga aku sudah boleh pulang loh Mam."
Miranda merasa bingung dia harus bicara dari mana dulu, tentang pertemuan Aliyaa dengan Veronica.
Sedangkan Fabian memilih untuk diam di kursi tunggu.
"Iya Nak, semoga saja ini adalah hari terakhir kamu masuk Rumah Sakit yaa. Jangan pernah lagi masuk ke Rumah Sakit."
Aliya tersenyum ketika Mama nya mengatakan hal yang, dia pun begitu menginginkan kesehatan sempurna. Aliya menginginkan penyakit nya sembuh tanpa harus melakukan operasi.
"Aliya, apakah benar tadi Veronica datang ke sini?. Dia bertemu dengan kamu bersama dengan Rendy juga."
Aliya merasa malas sekali ketika harus membahas tentang Veronica yang membawa kan bunga untuk nya, ntah mengapa Aliyaa tanpa sebab dia merasa tidak suka dengan wanita tersebut.
__ADS_1
Aliya pun tidak mengerti kenapa dia merasa sangat marah ketika melihat Veronica yang begitu sangat cantik dan seksi sekali.
Aliya membayangkan jika suami nya yang setiap hari melihat pemandangan tersebut di dalam ruangan nya.
Padahal sebelumnya belum pernah bertemu dan juga tidak tahu sikap asli nya seperti apa.
"Iya dia membawa ku bunga ini untuk ku."
Aliya memberikan bunga tersebut kepada Mama nya..
"Maafkan Mama yang tidak bisa memberitahu kamu sebelum nya jika Veronica menjadi sekertaris Fabian, Mama tidak minta persetujuan dari kamu dahulu yaa."
Miranda memegang tangan Aliyaa dan Aliya pun tidak mau menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan Veronica tanpa sebab.
"Jika memang dia yang terbaik untuk bisa memajukan perusahaan kita, yaa tidak apa-apa Mam. Aku setuju saja sih."
Miranda melihat senyuman palsu Aliyaa, dia mengetahui jika Aliyaa yang merasa was-was jika suami sampai menyukai Veronica.
"Di perusahaan itu kita bertiga bisa saling memperhatikan dan melihat satu sama lain nya, jika kamu memiliki perasaan yang sensitif terhadap Veronica itu wajar kok sayang tapi tenang saja Mama tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi."
"Terimakasih banyak Mama mengetahui apa yang ada di hati ku ini, dan terimakasih banyak Mama sekarang yang bisa berubah seperti Mama yang dulu."
Aliya memeluk erat tubuh Mama nya, dia pun merasa sangat bahagia jika nanti mungkin dia sudah tidak ada di samping Mama nya. Ketika mungkin dia harus pergi ada Mama yang selalu menyayangi nya.
"Mam, kita tidak tahu dengan yang namanya usia seseorang. Aku sekarang hanya bisa memikirkan aku yang mempunyai Mama dan Papa yang sangat sayang dengan ku. Jika nanti aku harus pergi aku akan bersama dengan orang yang aku cintai yaitu Papa tapi jika aku masih bisa bertahan hidup aku akan bersama dengan seorang yang sayang kepada ku yaitu Mama."
Seketika Miranda pun melepaskan pelukan erat dari Aliyaa.
"Aliya Mutiara, apa yang kamu ucapkan itu. Kamu tidak akan pernah pergi kamu pasti sembuh seperti sedia kala."
Miranda merasa terpancing emosi oleh perkataan Aliyaa.
"Mam, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita selanjutnya. Aku hanya mengungkapkan perasaan ku saja yang mempunyai orang tua yang begitu sangat sayang sekali dengan ku."
Miranda merasa mencurigai jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Aliyaa.
__ADS_1
"Kamu harus berpikir positif Aliya, ingat kamu masih muda dan ingin menjadi seorang Dokter Specialis Anak. Mulai sekarang Mama mendukung mu Nak untuk menjadi seperti yang kamu inginkan."
Melihat Aliyaa yang sedang mengobrol dengan Miranda, Fabian pun masuk ke dalam bersama dengan Ibu nya.
"Aliya, seperti nya ibu akan pulang sekarang di antar oleh Fabian. Kamu cepat sembuh yaa sayaaaaang."
Lania mencium kening Aliyaa sebelum dirinya berpamitan untuk pulang.
"Mas Fabian, lebih baik tidak usah kembali lagi ke Rumah Sakit. Istirahat saja di rumah ibu jangan di rumah kita agar besok berkerja ada yang mengurus yaa."
Fabian merasa Aliyaa yang marah kepada nya, sehingga dia tidak mau di temani oleh dirinya.
"Oh, iya Fabian ada baik nya juga Aliyaa seperti itu. Jika kamu pulang ke rumah orang tua mu kamu akan lebih bisa beristirahat masalah Aliyaa biarkan saja saya yang mengurus nya yaa."
Dengan sangat berat hati Fabian pun mengikuti apa kata istri nya dia pun langsung pergi dari ruangan Aliyaa bersama dengan Ibu nya tanpa berpamitan dengan Aliyaa.
Melihat Fabian dan ibu nya pergi, Aliyaa pun seketika langsung membuang bunga pemberian dari Veronica ke tempat sampah.
Miranda yang melihat hal tersebut dia mencoba untuk diam saja tidak menanyakan kenapa kepada Aliyaa.
Aliya memilih untuk mengambil handphone nya dan memainkan handphone nya, Miranda merasa memang akan terjadi perang dingin antara Fabian dan juga Aliyaa setelah ini.
Karena tidak mau menganggu Aliyaa, Miranda memilih untuk membaringkan tubuh nya di sofa dia merasa sangat lelah sekali sampai memejamkan mata nya.
Lania melihat wajah sedih Fabian ketika mendengar perkataan dari istri nya tersebut.
"Fabian ada yang ingin ibu bicarakan dan juga tanyakan pada mu, mungkin nanti saja jika kita berdua sudah sampai di rumah."
Fabian melihat ekspresi wajah serius ibu nya, Fabian merasa jika Ibu nya pasti akan membahas tentang Veronica di rumah nya.
"Iya Bu, aku tahu ibu pasti akan mempertanyakan tentang apa di rumah."
Fabian membuka pintu mobil nya dan Ibu nya pun segera masuk ke dalam mobil tersebut.
"Fokus untuk menyetir mobil nya, jangan memikirkan apapun ini sangat bahaya sekali."
__ADS_1
Fabian mengikuti apa yang di katakan oleh ibu nya dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang normal.