Wanita Kesepian (Pecinta Brondong) Season 2

Wanita Kesepian (Pecinta Brondong) Season 2
Episode *143*


__ADS_3

~ Keesokan harinya ~


Aliya memandangi wajah di depan cermin dia melihat perutnya dan mengelus-elus nya dengan harapan dia bisa di percayakan untuk bisa mendapatkan keturunan.


"Kita tidak tahu dengan yang namanya sebuah keajaiban Tuhan dan aku sangat berharap dengan keajaiban tersebut."


Fabian memperhatikan Aliyaa dia menghampiri dan melihat Aliyaa yang sedang mengelus perut nya.


"Kamu pasti menginginkan kehadiran bayi di dalam perut mu itu kan,? sama seperti aku juga yang ingin segera bisa di panggil Ayah ketika aku pulang dari kantor."


Fabian memeluk erat tubuh istrinya tersebut.


"Kamu yang banyak pikiran yaa, aku tahu mungkin yang menghambat kehamilan ini adalah kamu yang sibuk dengan kuliah kamu tugas-tugas kamu sehingga itu bisa jadi juga alasan nya kamu yang terlalu kecapean."


Fabian mengelus rambut panjang Aliyaa.


"Kita harus selalu berpikir positif karena kamu yang sehat jadi kita tidak punya hambatan untuk bisa memiliki keturunan, kita hanya harus bisa bersabar saja menuggu waktu nya untuk bisa di percayakan mendapatkan kebahagiaan sebagai orang tua."


Aliya merasa sangat sakit sekali ketika dia mendengar perkataan suaminya tersebut, tapi Aliyaa tetap harus semangat dan berpikiran positif terhadap apapun yang terjadi dengan dirinya.


"Ya sudahlah, kita jangan membahas tentang itu. Lebih baik sekarang kamu bersiap-siap untuk berangkat kerja dan aku pun akan pergi ke rumah sakit yaa."


Fabian melihat Aliyaa yang meneteskan air mata nya.


"Kenapa Aliyaa selalu saja merasa sedih ketika kita membicarakan tentang kehamilan ataupun anak. Ada apa dengan kamu Aliyaa."


Fabian memilih untuk mengantarkan Aliyaa terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kantor.


"Aliya, aku akan mengantar mu pergi ke Rumah Sakit dan kamu jangan banyak berkomentar yaa."


Aliya dengan terpaksa dia harus mengikuti apa yang di katakan oleh suaminya.


"Sudahlah Aliyaa, lebih baik kamu pasrah saja yaa. Mungkin memang sekarang semua nya harus mengetahui nya."


Aliya pun berjalan menuju ke mobil dan ternyata Fabian sudah berada di dalam nya, Aliyaa melihat wajah Fabian yang begitu sangat serius sekali sehingga membuat Aliyaa merasa sangat gugup sekali duduk di samping suaminya.


Fabian pun langsung mengendarai mobil nya menuju ke Rumah Sakit, Aliyaa mengeluarkan handphone dia ingin memberitahukan kepada Dokter El-Rivan jika dia sekarang sudah menuju ke Rumah Sakit.


*Dokter El-Rivan, saya sekarang sedang menuju ke Rumah Sakit Permata bersama dengan suaminya. Tapi suaminya masih belum mengetahui tentang penyakit ini*


Setelah pesan terkirim Aliya langsung menghapus pesan tersebut dia tidak mau suaminya sampai membaca nya.

__ADS_1


"Kamu sedang mengirimkan pesan kepada siapa Aliyaa, seperti nya sangat serius sekali."


Fabian memberhentikan mobilnya dia mengambil handphone Aliyaa, Fabian yang tidak biasanya bersikap seperti itu kepada Aliyaa.


"Aku mengirimkan pesan kepada Dokter El-Rivan."


Melihat ada pesan masuk dari Aliyaa, Dokter El-Rivan pun memilih untuk tidak membalas pesan tersebut karena dia mengetahui Aliyaa yang sedang bersama dengan suaminya.


"Aliya sedang bersama dengan suaminya, lebih baik aku membalas pesan dari Aliyaa nanti saja di saat suaminya sudah pergi ke kantor nya."


Fabian menunggu balasan pesan dari Dokter El-Rivan tapi tidak ada juga balasan nya.


"Kamu itu menunggu balasan pesan atau ingin mengirimkan pesan, di isi tidak ada percakapan kotak masuk antara kamu dan Dokter Rivan."


Aliya pun segera mengambil handphone nya dari tangan suami nya.


"Aku yang mau mengirimkan pesan kepada Dokter El-Rivan."


Fabian pun kembali menjalankan mobilnya dan Aliya merasa sangat ketakutan sekali dengan sikap Fabian kepada nya.


Akhirnya mereka pun sampai juga di Rumah Sakit Permata, Fabian membuka pintu mobil nya untuk istri nya.


"Mas, lebih baik kamu pulang saja sekarang. Karena kamu juga kan harus ke kantor."


"Aku ingin bertemu dengan Ayah, ingin bicara dengan nya tapi mobil nya belum ada."


Aliya pun mengambil tangan suaminya dan mencium tangan suaminya.


"Doakan aku yaa semoga semua nya baik-baik saja."


Aliya memilih untuk berjalan menuju ke dalam Rumah Sakit sedangkan Fabian masih terdiam di depan mobil nya.


"Mengapa aku merasa merinding ketika mendengar Aliyaa yang berharap baik-baik saja, Astaga ada apa yaa ini sebenarnya."


Fabian pun memilih untuk masuk ke dalam mobil nya untuk melanjutkan perjalanan nya menuju ke kantor.


Aliya membalikkan badannya dia merasa sangat tenang sekali ketika melihat mobil suami nya yang sudah pergi.


"Aku merasa sangat tenang jika mobil itu sudah pergi, seperti nya Dokter El-Rivan tidak langsung membalas pesan dari ku karena dia tahu aku yang sedang bersama dengan suami ku."


Aliya mencari tempat duduk dia memilih untuk langsung menelephone Dokter El-Rivan.

__ADS_1


Dokter El-Rivan yang hendak pergi ke Rumah Sakit dia melihat ada panggilan telephone masuk.


"Aliya Mutiara, seperti nya dia sudah ada di Rumah Sakit."


Dengan cepat Dokter El-Rivan pun menjawab panggilan telephone tersebut.


...*Hallo Aliyaa, kamu sudah di Rumah Sakit. Saya akan segera datang yaa*...


...*Iyaa Dokter El-Rivan tapi saya sangat gugup sekali dan merasa takut*...


...*Aliya kamu harus tenang yaa dan berpikir yang terbaik untuk kesehatan dan keselamatan kamu*...


...*Baiklah Dokter*...


Dokter El-Rivan mengakhiri panggilan telephone tersebut.


"Aliya, sebenarnya ini adalah keinginan dari Dokter Putra. Dia ingin yang terbaik untuk Aliyaa tapi Dokter Putra tidak ingin Aliyaa mengetahui nya sama seperti Aliyaa ingin merahasiakan semuanya."


Dokter El-Rivan pun menginginkan yang terbaik untuk Aliyaa.


"Keselamatan Aliya itu paling penting sekali, dia masih sangat muda dan juga calon Dokter Specialis Anak. Semoga saja kebahagiaan selalu ada pada Aliyaa."


Dokter El-Rivan pun akhirnya sampai di Rumah Sakit, dia segera turun dari mobil dan ketika dia baru saja masuk dia sudah melihat Aliyaa yang sedang duduk sambil melamun.


"Aliya dia kelihatan sangat sedih sekali aku merasa tidak tega melihatnya."


Dokter El-Rivan pun duduk di samping Aliyaa tampa sepengetahuan Aliyaa.


Dokter El-Rivan melihat pandangan mata Aliyaa yang berkaca-kaca sampai meneteskan air mata.


Dokter El-Rivan pun memberikan tissue kepada Aliyaa dan Aliya mengambil nya.


"Terimakasih banyak."


Ucap Aliyaa tanpa melihat siapa orang yang ada di samping nya.


"Kamu percaya dengan adanya sebuah keajaiban datang, seperti sebuah keindahan pelangi di saat hujan yang sudah berhenti."


Aliya langsung membalikkan badannya dan melihat jika seseorang yang memberikan dia tissue itu adalah Dokter El-Rivan.


"Dokter El-Rivan."

__ADS_1


Aliya begitu sangat terkejut sekali ketika melihat nya.


__ADS_2