Wanita Kesepian (Pecinta Brondong) Season 2

Wanita Kesepian (Pecinta Brondong) Season 2
Episode 19.


__ADS_3

Fabian hanya bisa tersenyum ketika mendengar perkataan Rendy.


"Ya, perjuangan cinta yang sungguh luar biasa sekali. Apalagi aku harus berkerja kembali bersama dengan Miranda, sebenarnya aku tidak mau lagi berurusan dengan Miranda aku tidak mau Miranda menyimpan perasaan kembali kepada ku."


Rendy merasa sangat kasihan sekali melihat Fabian, dan dia juga mengetahui kualitas kerja Fabian yang sangat bagus sekali.


"Fabian bagaimana jika kamu menjadi asisten pribadi ku di perusahaan ku, aku rasa itu jauh lebih baik."


Fabian pun langsung terdiam mendengar nya, karena jika dia menjadi asisten pribadi Rendy dia akan terbebas dari Miranda.


"Aku tahu kamu terdiam karena kamu yang tidak mungkin mengambil keputusan sendiri saja, kamu yang harus membicarakan ini semua dengan Aliya."


Rendy mengeluarkan kartu nama alamat perusahaan nya kepada Fabian.


"Datanglah, jika kamu membutuhkan. Aku pasti akan menerima kehadiran mu di perusahaan ku ini."


Setelah memberikan kartu nama nya, Rendy pun memilih untuk pergi dari rumah tersebut. Dan Fabian memandangi kartu nama tersebut sambil memasukkan nya ke dalam dompet nya.


"Aku akan memikirkan nya kembali dan memang benar, jika aku masih berkerja sama dengan perusahaan Miranda dia pasti akan selalu menggangguku."


Fabian pun memilih untuk pergi dari rumah dia ingin sekali bisa cepat menemui Aliya.


Fabian mengunci pintu rumah tersebut dan merasa sangat bahagia sekali ketika Rendy yang sudah membantu nya.


"Rendy begitu sangat baik sekali, mulai sekarang aku akan berhubungan baik dengan nya."


Fabian berjalan menuju ke dalam mobil nya dan menuju ke rumah Dokter Nadia.

__ADS_1


Di perjalanan menuju ke rumah Dokter Nadia, Fabian melihat toko perlengkapan bayi.


Dan dia pun berhenti sejenak sambil memandangi toko tersebut.


"Aku begitu sangat mengharapkan kehadiran bayi dari Aliya, itu akan mempererat hubungan rumah tangga ku dengan Aliya dan Miranda tidak mungkin mau dengan ku karena dia yang sudah memiliki cucu dari Aliya."


Fabian pun kembali menyala kan mesin mobil nya, dia menuju ke rumah Dokter Nadia.


Sesampainya di depan rumah Dokter Nadia, ternyata Aliya yang sedang duduk di kursi depan rumah bersama dengan Dokter Nadia menunggu kedatangan Fabian.


Fabian pun tersenyum manis kepada Aliya karena dia membawa kabar baik untuk Aliya.


"Bagaimana Mas, sudah mencari kontrakan untuk kita tinggal di dekat kampus ku?. Aku rasa tidak apa-apa jika tidak di rumah itu juga."


Fabian pun langsung duduk di samping Aliya.


Aliya sedikit binggung ketika Fabian menceritakan hal tersebut.


"Rendy, lelaki yang dulu pernah ingin di jodohkan oleh Mama Miranda untuk kamu Aliya."


Suara Fabian terdengar sedikit emosi dan Dokter Nadia pun langsung tersenyum manis kepada mereka berdua.


"Sudah yaa jangan bertengkar karena masa lalu yaa, lebih baik sekarang kalian makan siang dulu yaa. Kita makan bersama yaa."


Aliya pun langsung memandangi wajah suami nya, Aliya sebenarnya masih merasa sangat betah bersama dengan Dokter Nadia dia tidak mau kembali ke rumah Fabian karena sikap Ayah nya yang selalu cuek kepada nya.


"Hmmmmm, maaf yaa Tante. Saya harus kembali ke rumah karena mulai besok kan saya dan juga Aliya sibuk dengan kegiatan kita masing-masing."

__ADS_1


Aliya dengan sangat terpaksa dia mengikuti apa yang di katakan oleh suami nya.


"Baiklah, kalian berdua hati-hati yaa."


Aliya dan Fabian berpamitan pergi dengan Dokter Nadia.


Dokter Nadia mengabaikan tangan nya sambil tersenyum.


"Terlihat jelas sekali Aliya seperti tidak nyaman tinggal bersama dengan Fabian, dan kenapa yaa aku juga memikirkan kondisi Aliya tadi aku sangat hawatir sekali Aliya mempunyai penyakit yang serius."


Dokter Nadia memilih untuk masuk ke dalam rumah nya, dan dia yang hanya sebagai seorang Dokter umum bukan Specialis Kandungan tapi dia merasa gejala yang di alami oleh Aliya tidak wajar.


***


Di perjalanan menuju ke rumah nya, Aliya pun memegang perut nya dan Fabian juga memegang perut Aliya.


"Papa menunggu kedatangan mu yaa sayang, semoga bulan depan yaa sayang."


Fabian mengelus-elus perut Aliya sambil tersenyum manis.


"Aku memegang perut karena aku sangat lapar sekali, dan masalah kehamilan kita tunggu saja sampai kita berdua di beri kepercayaan yaa."


Aliya merasa sangat tertekan sekali ketika Fabian yang terus menerus berkata seperti itu kepada nya, sedangkan sekarang dia pun sedang mengalami datang bulan.


"Iyaa sayaaaaang, maafkan aku yaa. Tapi jika berharap besar kan boleh yaa."


Aliya pun hanya tersenyum tipis saja kepada Fabian.

__ADS_1


__ADS_2