
Aliya merasa sangat kesakitan sekali sampai akhirnya Aliya jatuh pingsan di hadapan Siska.
Siska yang melihat Aliya pingsan dia pun langsung berteriak-teriak sehingga banyak orang yang menghampiri Aliya.
Aliya pun langsung di bawa ke klinik kampus, Siska dengan sangat setia sekali dia menemani Aliya.
"Al, kamu kenapa sih Al."
Siska kelihatan sangat ketakutan sekali dia takut terjadi sesuatu dengan Aliya.
"Siska sebelum nya apakah Aliya pernah mengeluh sakit atau apa dengan kamu."
Siska pun langsung mengingat jika Aliya pernah mengeluh sakit di saat di menstruasi dia merasakan sakit yang luar biasa sekali.
"Hmmmm, Aliya itu pernah cerita kalau dia sering merasa sakit di bagian perut nya. Dan dia juga kalau sedang menstruasi dia selalu merasakan kesakitan seperti mules yang luar biasa tidak seperti biasa nya."
Dokter yang menangani Aliya di kampus pun langsung menyarankan sesuatu kepada Aliya yang bisa di sampaikan oleh Siska.
"Lebih baik Aliya di bawa ke Dokter Specialis, untuk melakukan USG di bagian perut nya. Supaya kita bisa mengetahui jika terjadi sesuatu pada Aliya."
Mendengar perkataan tersebut Siska pun seketika langsung menagis, Siska yang begitu sangat sayang sekali kepada Aliya dia menghawatirkan kondisi Aliya.
"Aliya, semoga saja kamu tidak apa-apa yaa. Tidak ada penyakit serius."
Siska terus saja memikirkan Aliya.
Setelah beberapa menit kemudian Aliya pun terbangun dia melihat Siska yang sedang menangis di pinggir nya.
"Siska, kamu kenapa nangis begitu. Kenapa aku ada di klik kenapa aku bukan ada di dalam kelas."
Aliya memegang perut yang sudah lumayan tidak terasa sakit.
__ADS_1
"Aliyaaaa kamu pingsan di depan aku, kamu sebenarnya sakit apa sih Aliya aku hawatir sekali sama kamu."
Aliya pun memang merasakan sakit yang semakin hari semakin terasa sangat sakti sekali.
"Aku sering sekali merasa sakit di bagian bawah perut ku ini, aku merasa rasa sakit ini yang semakin kuat sekali setiap hari nya."
Aliya pun meneteskan air mata nya dan mencoba untuk duduk menyender tubuh nya.
"Yaudah Aliya, ayo kita periksakan yaa. Ini tidak boleh di biarkan Aliya kamu harus tau sebenarnya kamu ini sakit apa."
Aliya pun langsung memeluk erat Siska dia menangis histeris di pelukan Siska.
"Aku takut Siska, aku takut terjadi sesuatu yang menyebabkan aku tidak bisa memiliki keturunan aku takut sekali jika harus kehilangan suami kuu."
Siska pun mencoba untuk menenangkan perasaan Aliya.
"Semua penyakit pasti akan ada obat nya, semua penyakit pasti akan sembuh. Asalkan kita yang mau berusaha untuk berjuang sembuh."
"Besok kita pergi ke Rumah Sakit berdua saja, aku berjanji tidak akan ada yang tahu ini menjadi rahasia kita berdua saja yaa."
Aliya merasa sangat beruntung sekali ketika dia mendapatkan sahabat baik seperti Siska.
"Baiklah Siska aku mau, besok kita pergi ke Rumah Sakit yaa. Kamu temani aku yaa."
Siska pun tersenyum manis sambil mengangguk kan kepala nya.
"Yasudah, masukkan obat pereda nyeri nya. Sekarang jika kamu sudah mulai membaik kita pergi ke kelas yaa."
Siska dengan setia dia merangkul Aliya sampai di dalam kelas.
Ketika Aliya yang sedang merasakan sakit, Fabian yang masih sangat emosional sekali dengan Miranda dia mencoba untuk menunggu kedatangan Miranda.
__ADS_1
Fabian lebih menunggu Miranda di ruangan nya, dan akhirnya setelah menunggu beberapa menit akhirnya Miranda pun datang.
Fabian membiarkan Miranda masuk ke dalam ruangan nya, dan Miranda juga melihat Fabian yang sudah berada di ruangan sendiri.
Miranda tersenyum tipis ketika melihat Fabian yang hanya sendirian di ruangan nya.
Miranda duduk dan memeriksa hasil dari pekerjaan Fabian dan juga Aliya, Miranda merasa sangat terkejut sekali ketika melihat hasil yang sangat sempurna.
"Aliya dia sebenarnya memang lebih berpotensi untuk menjadi pemilik perusahaan ini, dia bisa membuat perusahaan ini mungkin jauh lebih baik dari sekarang tapi sayang nya dia yang masih saja berjuang dengan beasiswa nya."
Miranda merasa ada yang aneh dengan meja kerja dia langsung merasa sangat panik sekali ketika foto kebersamaan nya bersama dengan Fabian hilang.
Melihat Miranda yang mulai merasa panik, Fabian pun langsung berjalan menuju ke ruangan Miranda.
"Apa yang sedang kamu cari,? kenapa sampai sepanik itu."
Fabian berdiri di hadapan Miranda dan membuat Miranda merasa jika Fabian yang mengambil foto kebersamaan mereka berdua.
"Miranda, apa maksud kamu menyimpan foto kebersamaan kita berdua di atas meja kerja kamu itu. Kamu benar-benar tidak menghargai perasaan Aliya. Kita berdua yang baru saja menikah kenapa harus seperti ini."
Miranda menundukkan kepalanya dia terdiam karena memang dia merasa salah.
"Lupakan aku Miranda, LUPAKAN."
Fabian mulai tidak bisa mengendalikan emosi nya, dia sampai berteriak di hadapan Miranda.
Miranda pun hanya bisa memejamkan mata nya, dia tidak berani untuk menatap wajah Fabian yang begitu sangat emosional sekali kepada nya.
Fabian pun memilih untuk pergi dari ruangan Miranda dan kembali masuk ke ruangan pribadi nya.
Miranda tidak kuasa meneteskan air mata nya ketika Fabian yang dengan tega nya membentak keras dirinya seperti tidak mempunyai kekuasaan di perusahaan nya.
__ADS_1
Karena tidak kuasa menahan air mata nya, Miranda pun memilih untuk keluar dari ruangan nya.