Wanita Kesepian (Pecinta Brondong) Season 2

Wanita Kesepian (Pecinta Brondong) Season 2
Episode *122*


__ADS_3

Sore hari pun tiba, Siska yang lebih memilih datang dengan Om Irfan. Dan kedatangan mereka berdua pun di susul oleh Rendy dan juga Dokter Nadia.


Dokter Nadia tidak pernah menyangka jika dirinya bisa bertemu kembali dengan Irfan terlihat wajah mereka berdua seperti malu-malu saat saling bertatapan.


"Wah, kita datang dengan saling berpasangan yaa."


Rendy menarik tangan Siska agar mendekati dirinya, dan Dokter Nadia mengabaikan perkataan Rendy.


"Rendy jaga ucapan kamu, jangan sampai Dokter Nadia merasa tidak nyaman dengan perkataan kamu itu."


Siska yang merasa kesal dengan sikap Rendy dia pun memilih untuk langsung masuk bersama dengan Dokter Nadia.


Kedatangan Dokter Nadia pun langsung di sambut hangat oleh Miranda.


"Akhirnya kamu datang juga Nadia, senang sekali kita bisa bersama-sama kembali."


Miranda pun begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Irfan dan juga Rendy yang hadir.


"Wahhhh, sebuah kejutan yang sangat luar biasa sekali. Ternyata banyak sekali yang datang ke sini."


Irfan dan Rendy pun berjalan menghampiri Miranda.


"Di mana Aliyaa,? apakah kondisi nya sudah pulih seperti biasanya?."


Tanya Irfan dengan wajah yang begitu menghawatirkan kondisi Aliyaa.


"Aliya ada di kamar sebentar yaa, nanti saya panggil kan. Lebih sekarang kalian semua langsung duduk di meja makan dengan makanan yang sudah di siapkan."


Miranda berjalan menuju ke kamar Aliyaa, dan Dokter Nadia pun mulai berani berbicara.


"Apakah ini pertanda jika Miranda sudah seperti dulu lagi,? dia peduli kembali dengan Aliyaa?."


Pertanyaan Dokter Nadia seperti yang di pikirkan juga oleh Irfan.


"Yaa, aku pun berpikir ke sana. Semoga saja ini pertanda bahwa mereka berdua akan bersama kembali dengan kasih sayang."


Rendy melirikan mata nya kepada Siska, dia yang seperti merindukan sekali Siska.

__ADS_1


Merasa dirinya di perhatikan oleh Rendy. Siska lebih memilih untuk fokus pada handphone nya.


Miranda mengetuk pintu kamar Aliyaa, dia ingin sekali Aliyaa segera ke turun.


Tapi ketukan pintu itu tidak ada balasan suara dari Aliyaa, dan Miranda pun memilih untuk langsung membuka pintu kamar Aliyaa.


Terlihat Aliyaa yang sedang duduk di tempat tidur sambil memegang foto kebersamaan keluarga nya.


Miranda pun menghampiri Aliyaa, dia mengambil foto tersebut dan membuat Aliyaa begitu sangat terkejut sekali.


"Mama."


Terdengar suara Aliyaa yang begitu sangat lembut sekali.


Miranda menghapus air mata Aliyaa dan memegang tangan nya yang terasa sangat dingin sekali.


"Kamu kenapa Nak,? kenapa kamu menangis seperti ini sayang. Kamu jangan seperti ini kamu jangan selalu bersedih kamu harus semangat kamu harus cerita seperti Aliyaa yang dulu."


Aliya menundukkan kepalanya nya dia seakan tidak berani untuk menatap wajah Mama nya.


Miranda menarik tangan Aliyaa agar bisa segera berdiri dan berjalan menuju ke ruangan makan.


"Aku kangen Papa, ntah mengapa aku merindukan sekali Papa. Aku merasa Papa datang dan memeluk ku Mam dan itu sangat terasa sekali seperti nyata."


Miranda merasa sangat sedih sekali ketika dia mendengar perkataan Aliyaa.


"Besok kita ke Papa ya sayang, kamu jangan sedih seperti ini yaa sayaaaaang."


Miranda memeluk erat tubuh mungil Aliyaa yang masih sangat lemah sekali, dia pun menghapus air mata Aliyaa yang terus menerus mengalir membasahi pipinya.


"Jangan menagis yaa, di bawah banyak sekali orang yang menuggu kamu. Orang-orang yang mencintai mu Aliyaa."


Aliya pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis dan berjalan dengan genggaman erat tangan nya kepada Mama nya.


Pemandangan indah tersebut membuat Dokter Nadia begitu sangat bahagia sekali, akhirnya Miranda dan Aliya yang bisa bersama kembali seperti dulu lagi.


"Aku begitu sangat bahagia sekali ketika bisa melihat mereka berdua seperti ini, semoga selama nya Miranda akan selalu ada di samping Aliyaa."

__ADS_1


Irfan pun merasakan hal yang sama dia yang mengetahui semuanya dari sejak awal bertemu dengan mereka berdua.


"Hallo semuanya, terimakasih banyak yaa kalian semua bisa datang ke sini. Aku bahagia sekali melihat nya."


Aliya pun duduk dan pandangan mata mereka semua tertuju pada wajah Aliyaa yang terlihat sangat pucat sekali dan juga badan nya yang kurus.


Tapi mereka semua tidak mau membahas tentang hal tersebut, mereka tidak ingin membuat Aliyaa sedih.


"Aliya sayang maafkan Tante yang tidak tahu jika kamu di rawat di Rumah Sakit yaa, tapi Tante begitu sangat senang sekali ketika bisa melihat Aliyaa yang sehat kembali."


Dokter Nadia pun menghampiri Aliyaa dengan mencium kening Aliyaa, di saat ini Aliyaa begitu sangat bahagia sekali ketika dia kelilingi oleh orang-orang yang begitu sangat sayang sekali dengan nya.


Seketika Aliyaa pun berpikir semoga saja kebahagiaan ini akan selalu menghampiri hidup nya dan berharap besar jika dia bisa selalu bersama dengan mereka semua nya.


Mereka semua pun mulai menikmati hidangan yang sudah di siapkan, tapi Aliyaa terus saja melihat pintu utama dia berharap ada seorang yang berlari dari balik pintu tersebut berlari menuju ke meja makan dengan berkata maaf aku datang telat.


Aliya begitu sangat berharap besar suaminya bisa datang dan bergabung dengan mereka semuanya.


Melihat Aliyaa yang Lagi-lagi melamun, Miranda pun memegang tangan Aliyaa.


"Kenapa sayang, jangan melamun seperti ini yaa. Pikiran kamu jangan kosong seperti ini yaa."


Miranda begitu sangat menghawatirkan sekali kondisi Aliyaa yang lebih banyak diam.


Rendy merasa jika Aliyaa yang sedang menunggu kedatangan suaminya, tapi apakah mungkin Fabian akan datang ke rumah ini.


"Hmmmm, Aliya kamu sedang memikirkan sesuatu yaa ? apa sih yang kamu pikirkan Al. Tugas kampus pasti yaa, tenang saja aku siap membantu kamu Aliyaa."


Siska mencoba untuk mencarikan suasana walaupun Siska mengetahui jika Aliyaa yang pasti sedang memikirkan suaminya dan berpikiran negatif terhadap suaminya.


"Terimakasih banyak Siska kamu baik sekali, tapi sepertinya besok aku tidak bisa langsung masuk ke kampus besok aku akan melihat Almarhum Papa ku bersama dengan Mama. Karena aku sekarang merasa jika Papa yang selalu dekat ku dia seperti selalu ada di samping ku."


Sebuah ungkapan kerinduan seorang anak terhadap Papa nya, Irfan merasa tidak bisa berkata-kata apa-apa jika Aliyaa yang sudah membicarakannya tentang Papa nya.


Tidak tega melihat Aliyaa, Rendy mengeluarkan handphone dia mengirimkan pesan kepada Fabian.


*Fabian sekarang aku, Siska, Dokter Nadia dan Om Irfan sedang berada di rumah Aliyaa. Tapi sepertinya Aliyaa seperti sedang menunggu kedatangan suaminya. Sesibuk apapun cobalah untuk memberikan kabar kepada istri mu ini. Karena dia sangat mengharapkan kehadiran suaminya*

__ADS_1


__ADS_2