
Fabian pulang ke rumah nya dan Aliya yang menunggu kedatangan Fabian, Aliya melihat wajah suaminya dengan tatapan mata yang tajam.
"Kamu pulang telat,? sudah dari mana saja?."
Tatapan mata Aliya seperti tatapan yang penuh dengan kecurigaan.
"Iya, aku telat pulang karena aku yang mengantarkan dulu teman. Hujan yang sangat deras dan dia yang tidak punya kendaraan jadi aku merasa kasihan dan mengantarkan nya pulang."
Selama Fabian berkerja dia tidak pernah sampai peduli seperti itu kepada orang lain, tapi Aliya yang tidak mau berdebat dia memilih untuk menyuruh suaminya untuk mandi.
"Oh, seperti itu yaa. Yasudah silahkan mandi dan makanan sudah di siapkan. Aku kembali mau meneruskan untuk mengerjakan tugas-tugas ku."
Fabian pun mengikuti apa yang di katakan oleh Aliya dia merasa sangat beruntung sekali ketika Aliya yang tidak membahas kembali pertanyaan nya.
"Semoga saja Aliya tidak lagi menayakan hal tersebut, bagaimana cara nya aku bisa jujur kepada Aliya sedangkan aku pulang telat mengantarkan Veronica saja dia langsung curiga."
Fabian pun langsung mandi dia merasa sangat capek sekali selesai makan dia memilih untuk tidur menghindari pertanyaan dari Aliya.
"Aliya tidak apa-apa kan, aku tidur duluan sangat capek sekali."
Aliya hanya menganggukkan kepalanya sambil fokus dengan pekerjaan nya.
Handphone Aliya tiba-tiba saja bergetar dan Aliya melihat ada pesan masuk ke handphone nya.
"Nomber handphone siapa yaa, ini nomber handphone baru deh."
Aliya yang merasa penasaran dia langsung membuka pesan tersebut.
*Aliya Mutiara, ini nomber saya. El-Rivan.*
Aliya merasa sangat terkejut sekali ketika mendapatkan pesan dari Dokter El-Rivan.
"Aku harus balas apa yaa, aku bingung sekali jadi nya."
Aliya sampai menghentikan pekerjaan nya, dia membalas pesan dari Dokter El-Rivan.
*Iya Dokter El-Rivan, terimakasih sudah mau menyimpan nomor handphone saya.*
Aliya pun kembali mengerjakan pekerjaan nya sampai dia tidak sadar tertidur di meja belajar.
Aliya menyimpan handphone nya, dia meja belajar dan Fabian yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya dia melihat Aliya yang ketiduran sambil belajar.
Fabian berniat untuk memindahkan Aliya ke kasur tapi ntah mengapa Fabian terfokus pada Handphone Aliya.
__ADS_1
"Kenapa yaa, coba aku lihat."
Fabian memegang Handphone Aliya dan membaca isi percakapan pesan dengan Dokter El-Rivan.
"Dokter El-Rivan, siapa dia. Kenapa Aliya tidak pernah bercerita tentang lelaki ini."
Fabian mulai sedikit emosional dia pun menyimpan kembali handphone Aliya dan memindahkan Aliya ke kasur nya.
Fabian seketika langsung memikirkan siapa lelaki tersebut.
"Sejak kapan Aliya mempunyai teman lelaki seorang Dokter, apakah itu adalah temannya Dokter Nadia. Baiklah aku akan mencari tahu tentang siapa lelaki itu kepada Dokter Nadia langsung."
Fabian pun memilih untuk pura-pura tidak tahu tentang isi pesan singkat tersebut.
Dia memilih untuk tidur karena besok harus bagun pagi ke kantor.
*Keesokan harinya nya*
Fabian bangun lebih awal dari Aliyaa dia yang membuatkan sarapan untuk Aliyaa.
Aliya yang terbangun dari tidurnya dia melihat jika suaminya yang sudah tidak ada di samping nya.
"Mas Fabian, apakah dia sudah pergi ke kantor."
Aliya masuk ke kamar mandi dan Fabian membuka pintu kamar untuk membangunkan Aliyaa.
"Aliya ternyata dia sudah bangun yaa, yasudah aku tunggu dia di meja makan."
Fabian kembali ke meja makan dan akhirnya Aliyaa keluar dengan Handphone di tangan nya.
Mata Fabian terus saja memandangi handphone Aliya, mengingat tentang pesan dari seorang Dokter lelaki.
"Selamat pagi suami, maafkan yaa istri mu yang bangun kesiangan sehingga kamu yang harus menyiapkan sarapan pagi."
Fabian tersenyum manis dan Aliya menyimpan handphone di meja.
Aliya menikmati makanan nya sedangkan Fabian fokus pada handphone Aliya.
Fabian terus saja memandangi Handphone Aliya dan Aliya pun melihat nya.
"Mas, kamu kenapa lihat-lihat handphone aku. Apa kamu butuh sesuatu?."
Fabian yang merasa malu dia pun langsung tertawa saja.
__ADS_1
"Handphone kamu bagus, apa aku juga ganti handphone sama seperti kamu. Tapi mungkin beda warna gitu."
Fabian pun mengambil handphone Aliya, dia berpura-pura melihat Handphone isteri nya tersebut padahal dia memastikan bahwa tidak ada lagi pesan dari Dokter El-Rivan.
"Bukan kah handphone biasa saja yaa, lebih mahal handphone kamu."
Aliya pun langsung mengambil handphone nya kembali.
"Hmmmm, tapi Handphone kamu itu unik Aliya. Tidak terlalu besar sekali seperti punya ku."
Aliya pun selesai menghabiskan sarapan nya, dan dia langsung berdiri dari tempat duduk nya.
"Seperti nya, aku pulang malam deh. Karena ada kegiatan di kampus juga."
Pikiran Fabian pun seketika langsung negatif terhadap Aliya.
"Apakah harus wajib mengikuti kegiatan itu,? kamu jangan terlalu capek Aliya. Tidak perlu ikutan kegiatan-kegiatan yang seperti itu."
Aliya merasa jika suami nya mendadak menjadi overprotektif sekali kepada nya.
"Itu wajib loh, aku harus ikut. Kamu boleh ko mengantarkan lagi teman kamu karena aku yang tidak ada di rumah."
Aliya pun langsung pergi ketika mengatakan hal tersebut dan membuat Fabian langsung merasa panik mendengar nya.
"Apakah Aliya tau jika aku mengantarkan Veronica, tapi aku merasa tidak ada yang mengetahui nya karena saat itu sepi di luar kantor karena hujan deras."
Fabian pun mulai memikirkan hal tersebut, dia merasa tidak Semangat pergi bekerja.
"Fabian lebih baik kamu jujur saja sama Aliya, tapi Aliya pun juga tidak jujur siapa itu Dokter El-Rivan. Astaga saingan ku seorang Dokter."
Fabian masuk ke dalam mobil nya, dan dia tidak melihat Aliya yang bisa nya sedang bersama dengan Siska di gerbang kampus.
"Dimana Aliya, apakah dia langsung masuk ke kelas yaa. Ahhhhhh pikiran ku selalu saja negatif terhadap Aliya."
Fabian pun menyalakan mesin mobil nya, dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang lambat karena dia yang sedang memikirkan Aliya.
"Bagaimana jika Aliya, berselingkuh dengan lelaki lain. Dengan dokter itu ahhhh pikiran ku selalu saja negatif seperti ini."
Melihat suaminya yang sudah pergi jauh dari rumah nya, Aliya yang bersembunyi di pinggir rumah dia memilih untuk pergi ke kampus nya.
"Apa sih maksudnya dia melihat handphone aku sampai seperti itu, jangan-jangan dia punya niat mau memberikan handphone kepada teman nya itu. Ahhhhh menyebalkan sekali sebenarnya siapa sih teman nya itu."
Siska melihat ekpresi wajah Aliya yang tidak seperti biasa nya, Aliya kelihatan cemberut dan bibir seperti sedang membaca mantra-mantra.
__ADS_1
Siska pun memilih untuk diam karena dia tau jika teman tidak sedang baik-baik saja.