
Aliya menunggu kedatangan Mama nya, dengan memakai kacamata hitam Miranda masuk ke dalam mobil nya.
"Aliya kenapa kamu tidak mau menemui suami mu,? kamu cemburu dengan Veronica?."
Miranda langsung saja mengucapkan hal tersebut.
"Nanti sore pun aku akan bertemu dengan suami ku di rumah, itu jauh lebih baik kan."
Wajah Aliyaa terlihat seperti sedang menahan rasa kesal nya.
"Aliya, kamu tidak percaya dengan suami mu?. Tidak mungkin Fabian berpaling dari kamu."
Aliya pun tersenyum tipis kepada Mama nya.
"Tapi wajah wanita itu sangat cantik dan seksi sekali, boleh kah aku merasa hawatir."
Aliya mulai berani mengungkapkan perasaan hati nya kepada Miranda.
"Ya, Veronica memang sangat cantik sekali dan seksi. Tapi ingat Fabian itu adalah suami Aliyaa sudah jangan berpikiran negatif terhadap semua ini yaa."
Aliya pun mencoba untuk diam ketika Mama nya mengatakan hal tersebut kepada nya.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya sampai di pemakaman umum, bunga mawar-putih yang mereka bawa.
Menghiasi tempat terakhir lelaki yang mereka cintai.
"Papa, aku datang bersama dengan Mama. Sekarang hubungan ku semakin membaik dengan Mama dan aku merasa tidak sendirian lagi. Aku merasa ada yang sayang kembali dengan ku."
Aliya mengusap batu nisan almarhum Papa nya, dia merasa sangat ingin menangis di hadapan Papa nya.
Aliya ingin sekali bercerita tentang penyakit yang sedang dia rasakan sekarang, Aliyaa memejamkan mata nya.
Dia seperti berbicara di dalam hati nya, dia ingin sekali bisa sembuh dengan kebahagiaan nya sekarang.
Dia ingin sekali bisa memberikan keturunan untuk suami nya, seperti keinginan nya yang ingin sekali mempunyai banyak anak di dalam rumah tangga nya.
"Aliya, kamu jangan seperti ini Nak. Kamu harus kuat yaa semua penyakit itu pasti ada pengobatan untuk sembuh yaa."
Miranda mengusap air mata Aliya yang membasahi kedua pipinya.
"Papa, aku ingin bahagia Pap. Bahagia dengan kehidupan mu sekarang, aku tidak mau ada kesedihan atau tangisan di hari-hari ku ini."
Aliya membuka mata nya, dia kembali menaburkan bunga-bunga indah.
__ADS_1
"Papa, aku pergi dulu yaa Pap."
Aliya berdiri dan berniat untuk segera pergi, Miranda pun mengikuti Aliyaa.
"Kenapa aku merasa Aliyaa begitu sangat sedih sekali yaa, aku merasa di saat Aliyaa memejamkan mata nya dia seperti meluapkan semua di hadapan Papa nya."
Miranda pun mulai merasa menghawatirkan kondisi Aliyaa.
"Aliya sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mu Nak."
Miranda pun berjalan menuju ke mobil nya, dan Aliya memilih untuk duduk di kursi belakang.
"Mam, antarkan aku ke rumah ku yaa. Aku ingin beristirahat di sana karena besok aku yang mulai kuliah."
Miranda pun mengikuti apa yang di katakan oleh Aliyaa, tapi dia memilih untuk membelikan buah-buahan dan makanan untuk Aliyaa di rumah nya.
Miranda tidak mau Aliyaa yang kekurangan nutrisi pada tubuhnya.
Aliya melihat begitu banyak sekali yang di belikan Mama nya untuk dirinya.
"Apakah aku harus menghabiskan nya dalam waktu yang dekat, apakah harus makan seperti ini setiap hari."
__ADS_1
Aliya melihat jika makanan yang di belikan oleh Mama nya adalah makanan sehat semua nya.
Miranda melakukan seperti ini karena ingin Aliyaa yang selalu hidup sehat.