
Nadia merasa sangat sedih sekali ketika pernikahan Aliya yang baru hitungan bulan tapi sudah seperti ini.
"Miranda, usahakan Aliya jangan sampai tau tentang permasalahan ini. Karena dia harus fokus dengan kuliah nya dia tidak boleh banyak pikiran."
Nadia pun langsung mengingat dengan keluhan Aliya yang sering sakit berlebih-lebihan di saat dia datang bulan.
Tapi Nadia tidak mempertanyakan hal ini kepada Miranda.
"Aliya tampak sangat pucat sekali dan kurus, dia pernah datang ke rumah dan sampai tertidur pulas di kamar nya."
Mendengar hal tersebut Nadia merasa jika Aliya yang mulai merasakan rindu rumah.
"Kenapa Aliya tidak tinggal bersama dengan kamu saja, kalian tinggal bersama."
Miranda menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Jika hanya Aliya Saha tidak apa-apa, tapi jika dengan Fabian tidak akan pernah terjadi. Karena bagaimana pun juga aku dan Fabian pernah mempunyai hubungan."
Nadia merasakan hal yang sama jika dia di posisi Miranda, dia pasti melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Tapi Miranda apakah Aliya seperti ingin bicara dengan kamu, seperti ini menceritakan sesuatu dengan kamu?."
Miranda merasa tidak ada, tapi dia melihat tatapan mata Aliyaa yang berbeda.
"Ntahlah, mungkin ini hanya perasaan ku saja. Semenjak hari ulang tahun itu Aliya memeluk ku dengan sangat erat sekali dia juga sampai meneteskan air mata nya."
Nadia merasa jika dia harus bertemu dengan Aliya.
"Nanti aku akan bertemu dengan Aliyaa, karena aku merasa jika Aliya dia sedang mempunyai masalah pribadi dengan kesehatan nya. Ketika kamu bilang wajah Aliya yang pucat dan kurus tidak segar seperti biasanya."
Nadia melihat jam di handphone nya dia harus segera pergi.
Miranda pun merasa jika dia juga harus pergi ke kantor nya.
"Baiklah terimakasih banyak atas waktu nya, aku pun seperti nya harus kembali ke kantor."
Miranda dan Nadia pun keluar bersama dari Restoran tersebut, dan Nadia pun melambaikan tangan nya kepada Miranda.
"Aku merasa sangat malas sekali jika harus kembali ke kantor, tapi bagaimana lagi ini sudah tugas ku sebagai pemimpin perusahaan."
__ADS_1
Di perjalanan Miranda menyiapkan mental nya ketika dia bertemu dengan para pegawai nya.
"Jangan sampai hipertensi ku kambuh hanya karena masalah ini, Astaga kenapa Veronica harus berkerja di perusahaan ku sih."
Miranda berencana untuk menghubungi Rendy.
"Aku lebih baik bilang kepada Rendy, agar dia mau membawa Veronica ke perusahaan nya. Agar tidak ada lagi permasalahan di dalam kantor ku ini. Masalah Kania biar Rendy yang bertanggung jawab."
Miranda pun mengeluarkan handphone nya, dia sampai di depan perusahaan nya.
"Sebelum aku masuk ke dalam lebih baik aku mengirimkan pesan kepada Rendy, karena Rendy pasti sudah mengetahui kehadiran Veronica bersama dengan Fabian."
Miranda mulai mengetik pesan untuk Rendy.
*Rendy, Tante ingin bicara dengan kamu tenang Veronica Leticia.*
"Lebih baik aku ceritakan semuanya kepada Rendy, tentang ancaman dari Reno juga. Demi apapun aku merasa sangat tidak nyaman sekali dengan kehadiran Veronica di kantor ku ini."
Miranda mengatur nafas nya, dan baru membuka pintu mobil nya.
__ADS_1
Ketika Miranda berjalan menuju ke dalam kantor semua pegawai menundukkan kepalanya nya seakan tidak berani untuk menatap Miranda.