
Mereka berdua pun akhirnya sampai di depan rumah keluarga Fabian, dan Aliya tiba-tiba saja menghela nafas panjang nya.
Fabian merasa Aliya yang memang sangat tidak nyaman sekali dengan keluarga nya termasuk Ayah nya.
Fabian pun membuka pintu mobil nya, dan Aliya turun dan memilih duduk di kursi depan rumah nya.
Fabian pun menghampiri salah satu pegawai yang ada di rumah nya.
"Tolong kamu datang ke rumah ini yaa, dan kamu bersihkan rumah nya. Sekarang juga karena besok rumah ini akan saya tempati bersama dengan istri saya."
Fabian memberikan alamat rumah berserta kunci nya, pegawai tersebut pun langsung pergi menjalankan perintah dari Fabian.
"Aku ingin secepatnya besok, aku tidak nyaman tinggal di rumah ini."
Aliya sampai harus menunggu Fabian untuk bisa masuk ke dalam rumah tersebut.
Aliya memegang tangan Fabian dengan sangat erat sekali, sehingga Fabian sangat jelas merasakan apa yang di rasakan oleh Aliya.
__ADS_1
Kedatangan mereka berdua di saat jam makan siang, dan mereka pun langsung menghampiri tempat tempat tersebut.
Ibu Fabian begitu sangat baik sekali kepada Aliya.
"Ayo sayang, kita makan siang dulu yaa bersama."
Aliya pun tersenyum manis sambil melepaskan genggaman erat tangan nya.
"Iya bu terimakasih banyak sudah menyiapkan makanan untuk kita berdua."
Suara Aliya terdengar sangat pelan sekali dan sedikit bergetar.
"Makan yang banyak ya sayang, kamu butuh asupan nutrisi yang cukup untuk tubuh kamu yaa."
Aliya tersenyum dan dia lebih memilih untuk menundukkan kepala nya untuk mengindari tatapan mata Ayah Fabian.
"Bu, besok seperti nya aku sudah mulai pindah bersama dengan Aliya ke rumah sederhana yang dekat dengan kampus Aliya. Jadi kita berdua lebih memilih untuk tinggal di sana mungkin sampai Aliya lulus kuliah."
__ADS_1
Mereka pun begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar Aliya dan Fabian lebih memilih untuk tinggal di rumah yang sederhana.
"Fabian, kenapa kamu tidak memilih untuk tinggal di hotel saja yang dekat dengan kampus Aliya. Kalian berdua bisa menggunakan mobil masing-masing kan untuk kamu pergi ke kantor dan juga Aliya untuk pergi ke kampus nya."
Ibu Fabian merasa sangat tidak setuju sekali ketika mereka berdua yang memilih untuk tinggal di rumah yang sederhana.
Karena merasa tidak memberikan fasilitas yang terbaik untuk Aliya.
"Tidak apa-apa kok Bu, aku merasa sangat nyaman sekali ketika aku tinggal di rumah itu. Di rumah itu aku seperti di ajarkan bagaimana jika yang harus bisa mensyukuri apa yang kita miliki karena sebuah kemewahan tidak menjamin sebuah kebahagiaan."
Ayah Fabian yang bernama Dokter Putra pun langsung terdiam ketika mendengar perkataan bijak Aliya.
"Aliya ibu tidak menyangka sekali, kamu yang terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan bisa berbicara seperti ini. Ibu sangat salut sekali ketika perjuangan kamu Nak."
Fabian pun memandang wajah ibu nya yang seperti ingin menangis di hadapan Aliya.
Semenjak Aliya yang lebih memutuskan untuk menjadi Dokter Specialis Anak, dia pun di usir oleh Mama nya dan sampai saat ini Aliya tidak pernah di berikan uang sama sekali untuk kehidupan nya sehari-hari. Karena untuk bisa kuliah di sana Aliya mendapatkan beasiswa."
__ADS_1
Fabian begitu sangat bangga sekali ketika dia menceritakan tentang perjuangan Aliya untuk mencapai cita-cita nya di depan ibu dan Ayah nya.