
Xika berjalan tertatih-tatih ke luar Kota Yuan. Ketika tidak ada orang lagi yang melihat, Heiliao langsung keluar dan memperbesar tubuhnya. Serigala itu mengangkat Xika ke atas tubuhnya dan berlari pergi menembus hutan.
"Heiliao.........kemana kau membawaku?"
"Ke tempat aman di mana tidak ada ular maupun manusia."
Di atas Heiliao, Xika membuat dirinya senyaman mungkin, dan serigala itu tidak keberatan, kelihatannya. Bulu Heiliao cukup lebat namun lembut. Xika menggosok-gosokkan kepalanya ke bulu serigala itu, menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
"Bulumu enak juga Heiliao........"
"Hmph, tentu saja." balas Heiliao sambil tersenyum senang sekaligus sombong.
Huo Bing langsung membentuk tubuhnya dan protes.
"Apa? Lalu bagaimana denganku? Kau sudah pernah terbang beberapa kali denganku. Jangan bilang kau lebih menikmati menunggangi serigala ini."
Saat ini Huo Bing mengepakkan sayapnya hingga kepalanya sejajar dengan Xika. Dan anak itu menatanya dengan pandangan yang seolah meragukan akal sehatnya.
"Tentu saja aku lebih menikmati dibonceng Heiliao. Jangan menatapku seperti itu. Kau pikir aku akan mengatakan apa setelah kau menerbangkanku dengan biaya paksa dan menjatuhkanku?"
Huo Bing tidak menjawab. Burung dwiwarna itu tampaknya masih tidak terima bahwa Xika lebih menikmati berada di punggung Heiliao dibanding punggungnya, tapi ia tidak bisa menjawab ucapan Xika tadi. Akhirnya ia melaksanakan satu-satunya ide yang ia miliki.
"Kalau begitu coba lagi."
Kemudian Huo Bing mencengkram pundak Xika dan melemparnya ke atas. Ia menangkap Xika dengan punggungnya yang sudah membesar dan siap untuk terbang jauh.
Bruk!
Xika tidak bisa mengatakan bahwa ia mendarat dengan nyaman, tapi perlakuan Huo Bing kali ini lebih baik dibanding sebelum-sebelumnya.
"Bagaimana? Lebih nikmat daripada mahkluk berbulu berkaki empat itu bukan?"
Xika membuka mulutnya, tapi belum sempat ia menjawab, sebuah mulut besar membawa dirinya kemudian melemparnya ke atas dan ia mendarat di bulu lembut nan nyaman yang ia rasakan beberapa saat lalu.
"Jangan merebut penumpangku!" ucap Heiliao mulai berkompetisi lagi dengan Huo Bing.
"Hah! Ia sudah lebih dulu menjadi penumpangku!"
Kemudian Huo Bing kembali 'mengambil' Xika.
"Tidak kali ini!"
Dan mereka bermain lempar tangkap beberapa kali dengan Xika sebagai bolanya.
"Permisi, aku sedang terluka saat ini, kalau kalian tidak keberatan, bisa kalian berhenti?"
Sayangnya, atau mungkin untungnya, Xika sedang berada di punggung Heiliao saat itu. Perkataan Xika sukses menghentikkan Huo Bing yang ingin mengambil 'bola'nya.
Akhirnya Xika bisa tenang, meskipun di sebelahnya masih ada Huo Bing dengan wajah cemberutnya.
Untuk beberapa saat, tak ada yang bicara. Entah bagaimana, mereka bertiga memikirkan hal yang sama. Pertempuran Xika beberapa saat yang lalu. Tanpa ada yang sadar, suasana berubah menjadi hening. Hanya suara gesekan angin dengan bulu Heiliao yang terdengar.
"Xika.......kalau kau memperbolehkanku memberikanmu saran, bocah sombong itu pasti sudah terkapar."
Xika tersenyum mendengar perkataan Huo Bing. Dan Huo Bing tahu dari ekspresi yang ditunjukkan Xika, bahwa anak itu tidak menyesal sama sekali.
"Biarlah.........Lagipula itu adalah pertarunganku. Aku cukup puas dengan hasilnya, meskipun agak memalukan di bagian akhir."
Heiliao mendengus kemudian tersenyum.
"Aku berani bertaruh tak ada satu orangpun yang menyaksikanmu akan berpikir bahwa kau memalukan."
Huo Bing yang kini berdiri di samping Xika diatas Heiliao, mengangguk.
"Kerjamu bagus. Kau tidak menundukkan kepalamu sampai akhir bahkan meskipun berhadapan dengan kekuatan besar. Kau sudah layak menjadi teman Phoenix."
__ADS_1
Xika kembali tersenyum.
"Sejak awal, aku memang teman Phoenix. Dan bukan Phoenix biasa. Phoenix yang bercampur dengan Cygnus."
"Lalu bagaimana denganku?"
Xika menepuk-nepuk punggung Heiliao dengan tangannya.
"Kau juga, kawan. Sayangnya aku tidak tahu apa jenismu."
"Bukankah ia memang tidak punya jenis?"
"Burung setengah matang, aku memiliki jenis."
"Apa? Bukankah Penguasa Ruang tidak termasuk ke dalam ras apapun? Begitu juga dengan Penguasa lainnya bukan?"
"Aku adalah keturunannya. Menurutmu bagaimana ia menghasilkanku?"
"Emm......membelah diri?"
Xika langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Huo Bing itu. Meskipun setelahnya ia batuk-batuk dan memuntahkan darah. Heiliao memberikan geraman sebagai tanggapan.
"Menikah, tentu saja. Dasar bodoh."
Di sampingnya Huo Bing berbisik pada Xika.
"Aku masih yakin Penguasa Ruang membelah diri."
"Aku dengar itu, sialan!"
"Aku tidak bilang apa-apa." jawab Huo Bing dengan muka polos.
Heiliao kembali memberinya geraman, tapi kali ini lebih keras dan lebih menyeramkan.
"Jadi apa rasmu?"
Xika berusaha mencari tahu ras itu, tapi hal itu tidak ada dalam kepalanya.
"Bagaimana dengan keturunan yang lain? Apakah semuanya berasal dari ras yang sama?"
"Tidak juga. Penguasa Ruang itu menikah beberapa kali, jadi tentu saja ia punya banyak anak. Dan masing-masing berasal dari ras yang berbeda. Para Penguasa yang lain juga begitu.
Xika menganggukkan kepalanya. Tapi Huo Bing tahu anak itu masih bingung. Burung itu mematuk Heiliao beberapa kali sampai serigala itu berteriak.
"Hentikan, sialan! Apa yang kau lakukan?"
"Berhenti membuat anak ini bingung, bodoh! Katakan saja kau adalah pewarisnya."
Heiliao tidak menjawab. Diatasnya, Xika semakin bingung.
"Kalau kau tidak mau jelaskan, aku yang akan menjelaskan."
Heiliao menggeram pelan.
"Keturunan kurang cocok untuk menggambarkan diriku, Xika. Aku memang keturunannya, tapi aku adalah pewarisnya. Orang akan salah paham bila kau mengatakan keturunan, tapi tak akan ada yang salah paham bila kau mengatakan pewaris."
Xika mengerutkan alisnya, semakin bingung.
"Seperti yang tadi kukatakan, Penguasa Ruang memiliki banyak keturunan. Masing-masing mewarisi kekuatannya secara alami. Tapi mereka tidak akur satu sama lain. Kekuatan mereka rata-rata masih sama. Memang ada beberapa yang lebih kuat sementara beberapa lebih lemah tapi perbedaannya tidak sejauh itu. Sebelum Penguasa Ruang menghembuskan nafasnya, ia memilih seorang pewaris dari salah satu keturunannya itu.
Nantinya, yang terpilih menjadi pewaris akan mendapat kekuatan langsung darinya dan membuat pebedaan yang jelas dengan keturunan-keturunan lainnya. Hal itulah yang menyebabkan sesama keturunan saling tidak akur."
"Jadi singkatnya, kau terpilih menjadi pewarisnya?"
"Yah, bukan yang pertama."
__ADS_1
Xika mengerutkan alisnya semakin dalam dan Heiliao tahu itu. Ia melanjutkan,
"Ketika Penguasa Ruang meninggal, ia memilih seorang pewaris. Kemudian ketika pewaris itu hendak meninggal, ia memilih pewaris yang lain. Begitu seterusnya."
"Kalau begitu kau yang keberapa?"
"Kesembilan."
"Baiklah, karena serigala ini tidak mau bicara, aku yang akan bicara." Huo Bing masuk di tengah-tengah percakapan. "Xika, untuk menjadi pewaris dari seorang Penguasa tidaklah mudah. Serigala ini harus mendaki jalan yang penuh dengan darah untuk bisa menjadi salah satunya. Dan darah yang digunakan adalah darah saudaranya."
Raut wajah Heiliao terlihat kesal. Tapi Xika dan Huo Bing berada di atasnya jadi mereka tidak bisa melihat ekspresinya. Serigala itu juga tidak mengatakan apa-apa.
"Apa itu alasannya kau membenci Xingli? Eh, gadis yang mengacungkan pedangnya padamu."
"Ya dan tidak."
Kali ini tidak hanya Xika yang bingung. Huo Bing di sebelahnya juga ikut mengerutkan kening.
Heiliao berhenti berlari. Huo Bing tahu maksudnya. Burung itu membawa Xika turun pelan-pelan.
"Ini tempatnya? Kelihatannya tidak berbeda dengan hutan biasa."
Heiliao kembali menggeram, tapi kali ini bukan pada Xika maupun Huo Bing. Ia menggeram pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bersembunyi di hutan ini.
Heiliao menunggu selama beberapa saat namun tidak ada jawaban. Kemudian ia melolong. Lolongannya tidak sama dengan serigala lain. Begitu kuat dan perkasa. Xika tidak pernah mendengar lolongan seperti itu.
Kali ini ada jawaban. Terdengar beberapa lolongan dari tempat lain. Kemudian beberapa menit kemudian berbagai sosok mendekat. Dan mereka adalah........
Serigala.
Beberapa serigala muncul dalam ukuran dan jenis yang berbeda. Mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya menunduk pada Heiliao. Heiliao menggeram pada mereka yang dibalas juga dengan geraman. Sepertinya mereka sedang berbicara.
Tapi Xika tidak tahu apa yang dibicarakan. Di makam, Huo Bing dan Heiliao memang telah mengajarinya berbagai bahasa, tapi ia tidak pernah diajarkan bahasa serigala.
Mereka berbincang selama beberapa saat. Dari penglihatannya, Xika dapat melihat bahwa serigala-serigala itu memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang menggeram dengan pelan dan sopan, ada yang menggeram dengan ragu, ada juga yang menggeram dengan kasar. Seperti apa geramannya, Xika tidak bisa mengingatnya lagi di kemudian hari. Tapi untuk saat ini ia cukup menikmati sekaligus mengagumi percakapan yang hanya berisi "Grrr....."
Setelah selesai berbicara (sepertinya), serigala-serigala itu pergi lagi.
"Apa yang kau bicarakan Heiliao?"
"Urusan keluarga. Untuk sementara kita aman disini. Tidak ada mahkluk lain yang dapat mendekati tempat ini. Ular, manusia atau mahkluk lainnya.
"Bagaimana dengan serigala?"
"Mereka akan menjaga kita."
Sepertinya percakapan mereka tadi mengenai hal ini. Tapi Heiliao tidak tertarik untuk membicarakannya, jadi Xika juga tidak bertanya.
Setelah yakin bahwa mereka aman, Huo Bing akhirnya meletakkan Xika di tanah. Selama Heiliao bicara tadi, Huo Bing terus membawanya, khawatir kalau-kalau percakapan Heiliao tidak berakhir baik.
Xika menatap sekelilingnya. Tempat ini benar-benar tidak jauh berbeda dari hutan biasa. Kenapa Heiliao bisa dengan yakin mengatakan bahwa tidak ada mahkluk lain yang akan mendekati tempat ini?
Heliao mendekat.
"Xika, berikan cincin spasialmu."
"Yang mana?"
"Semuanya."
Xika menyerahkan semua cincin spasialnya dengan wajah tidak rela.
"Santai saja. Aku hanya mengambil bahan-bahan untuk membuat pil."
Kemudian Heiliao mengeluarkan beberapa tanaman dari cincin Xika dan mengembalikannya. Bagaimana cara serigala itu memegang dan mengeluarkan benda dari cincin spasial masih menjadi misteri bagi Xika. Heiliao selalu membelakanginya saat ia melakukan itu. Tapi untuk saat ini ia tidak akan memikirkan hal itu.
__ADS_1
Heiliao mulai meracik pil. Sementara Huo Bing menemani Xika di samping. Mereka berbincang sebentar dan akhirnya Xika tertidur.
Beberapa jam berlalu. Dan ketika Xika membuka matanya, ia merasakan ribuan pendatang baru. Dan mereka kini sudah mengepungnya.