Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-211


__ADS_3

Ekspresi para murid disekitarnya membuat wajah wanita itu semakin buruk. Ia benar-benar dipermalukan.


"DIAM! Kau masih berani membantah?"


Xika menatap wanita itu dengan aneh.


"Aku tak tahu apakah kepalamu tidak bekerja dengan baik, atau kupingmu yang memiliki gangguan. Atau mungkin saja keduanya."


Sekali lagi, ucapan Xika berhasil membuat para murid yang hadir tertawa geli. Xingli sekalipun menampilkan senyum tipis.


WHOSH!


BLAR!


BRAK!


Sebuah bola api jatuh dari langit. Kemudian bola itu berubah menjadi seorang pria paruh baya dengan wajah garang yang mengenakan jubah merah.


"Wah wah wah......Jarang sekali aku melihat Pelindung Lan kesulitan. Butuh bantuan?"


Di kepala Xika, suara Huo Bing kembali terdengar.


'Pria tua itu juga memiliki aura yang sama dengan mereka yang mengawasi kita sebelumnya. Berhati-hatilah. Aku yakin kedatangannya tidak berniat baik.'


Wajah Pelindung Lan terlihat kesal. Dari semua pelindung yang ada, kenapa harus pria ini yang datang? Tapi setidaknya dia berniat membantu. Semoga saja begitu.


Melihat Pelindung Lan tidak menjawab, pria tua itu memalingkan pandangannya pada Xika.


"Hei, nak. Aku sudah mengawasimu sebelum ini. Aku tahu kau yang salah. Ayo sujud minta maaf kalau kau masih ingin berada di akademi ini."


Penatua Lan terkesiap.


"Penatua Yan!"


Tapi yang dipanggil tidak menjawab. Ia hanya menatap Xika dan menunggunya berlutut.


Xika tersenyum. Seperti yang dikatakan Huo Bing, pria tua ini tidak datang dengan niat baik.


"Hm? Datang lagi satu orang bodoh."


Kali ini hanya Huo Bing, Heiliao, dan Xingli saja yang tertawa. Sisa murid yang ada sebenarnya ingin tertawa juga, tapi mereka tidak berani, mengingat reputasi Pelindung Yan Xiaolu yang terkenal kejam.


"Apa? Kau berani menyebutku bodoh?"


"Tentu saja. Kalau kau sudah mengawasiku sebelumnya, dan kau sudah menyaksikan segala yang terjadi, maka harusnya kau tahu siapa yang benar. Tapi kau malah menuduhku bersalah. Kalau bukan bodoh, apa lagi itu?"


Hidung Penatua Yan kembang-kempis. Wajahnya memerah, bukan karena kehabisan nafas, tapi karena terbakar amarah. Sebagai Pelindung Api, ia dikenal sebagai pria ganas. Semua murid, bahkan para elder takut padanya. Tak ada yang berani menghinanya secara terang-terangan seperti ini. Apalagi menyebutnya bodoh dua kali.


"Nak, harus kuakui kau memiliki nyali. Tapi nyalimu tidak berada di tempat yang tepat." Penatua Yan menyeringai. Ia tidak akan membiarkan orang yang menghinanya pergi begitu saja. Tidak akan.


"Masa?" sahut Xika tanpa takut.


"Aku sudah melihat betapa tajamnya mulutmu itu, nak. Biar kulihat setajam apa setelah aku membakarnya."


Penatua Yan membakar tubuhnya. Kemudian berlari menerjang Xika.


"Aku mengandalkanmu." Xika tersenyum sambil memandang Huo Bing. Burung itu mengangguk yakin.


Huo Bing memang bilang tak akan membantu Xika. Tapi saat ini masalahnya sudah diluar perkiraan. Lagipula lawannya saat ini adalah seorang Penatua yang, menurut Huo Bing, pangkatnya lebih tinggi dari seorang elder.


Ketika Penatua Yan mendekat, Huo Bing merentangkan kedua tangannya. Kemudian sebuah siluet burung terbentuk mengelilinginya. Burung yang sama dengan wujud aslinya.


Ia terbang dan menggunakan kedua cakar tembus pandangnya untuk membawa Penatua Yan terbang.


Di bawah, Xika tersenyum melihat Huo Bing. Sepertinya burung itu menemukan teknik baru. Sementara Xika tersenyum, Penatua Lan memandang sosok Huo Bing yang semakin mengecil dengan keterkejutan di matanya. Ia tidak pernah melihat teknik yang dipakai Huo Bing itu sebelumnya.


Kemudian Penatua Lan menurunkan pandangannya dan menatap Xika yang tengah tersenyum. Detik berikutnya, Xika sudah menghilang.


Indra Penatua Lan mengatakan bahwa Xika muncul kembali tidak jauh di dekatnya. Namun ia tak menyangka Xika muncul dengan pisau di tangannya untuk membunuh Lu Bei.


Segera, ia melesat menghentikan Xika. Namun sayangnya, Huo Bing muncul di belakangnya dan mengatakan,

__ADS_1


"Ups, ketinggalan."


Kemudian dengan cakar kanannya, Huo Bing mencengkram bahu Penatua Lan sebelum kembali terbang di langit sementara cakar kirinya tengah mencengkram Penatua Yan.


"Apa-"


Xika tak tahu apa lagi yang hendak dikatakan Penatua Lan karena wanita itu kini sudah membumbung tinggi di atas.


Sementara itu, Lu Bei yang berada di depannya kini telah membuka matanya dan melihat pisau Xika yang hendak membunuhnya. Gadis itu langsung bersalto kebelakang.


Xika mendecakkan lidahnya kesal karena gagal membunuh Lu Bei. Ia kembali menerjang Lu Bei. Sayangnya gadis itu tak berdiam diri.


Lu Bei bersiul dan semua gadis bergaun hijau dan mengenakan anting pisau bergerak maju. Termasuk Lu Bei, total ada tujuh orang. Ia berdiri di belakang mereka sementara enam orang lainnya menodongkan senjata mereka pada Xika.


Ada yang menggunakan tombak, pisau, pedang, selendang, rantai, dan kipas. Sementara Lu Bei sendiri, melapisi kukunya dengan angin.


"Oh? Apa ini? Pertarungan jarak dekat?" Bukannya takut, Xika malah terlihat bersemangat.


Ketika ketujuh gadis itu berlari menuju Xika, Xika juga ikut berlari menyambut mereka. Tapi ia tidak sendiri. Di sampingnya, berdiri si gadis es yang setia menemani.


Swush!


Xika melempar beberapa kartu untuk memecah para gadis itu. Tiga orang ke samping untuk menghindari kartu Xika. Xingli menyambut ketiga orang itu. Sementara empat orang sisanya termasuk Lu Bei dihadapi Xika.


Lu Bei menghadiahi Xika dengan cakarnya, sementara di sampingnya gadis lain menghujankan pisaunya.


Xika menangkis kuku Lu Bei dan mendorongnya ke arah lain. Untuk si gadis pisau, sebelum pisaunya mengenai Xika, Xika sudah terlebih dahulu memuku kepalanya hingga hilang keseimbangan. Langsung saja Xika menambahkan tendangan pada gadis pisau itu.


Gadis pisau meluncur terbang. Tapi gadis lain datang dengan pedangnya mengincar kepala Xika dari belakang. Xika merunduk dan menyapu gadis pedang hingga terjatuh. Xika hendak memberikan serangan lain, namun sebuah selendang menahan tangannya.


Sekalipun sudah ditarik, tangannya tetap tidak mau bergerak. Itu pasti selendang yang bagus. Xika melayangkan tangan satunya namun selendang lain kembali menahan tangannya.


"Bagus!"


Didekat kakinya, si gadis pedang berdiri dan mendekati Xika. Lu Bei juga datang dari arah lain.


"Apa selendangmu tahan panas?" tanya Xika pada gadis berselendang yang berada di belakangnya. Belum sempat menjawab, Xika sudah membakarnya.


"Yah, kalau begitu tidak ada cara lain." Xika menghela nafas.


Lu Bei datang dengan kukunya mengincar wajah Xika, sementara si gadis pedang mengincar kakinya. Mungkin ia hendak membalas dendam.


Xika melompat menghindari pedang sambil memberikan tendangan telak pada wajah Lu Bei. Selendang di tangannya kembali di tarik hingga membuatnya gagal mendarat dengan kaki.


Di dalam selendang yang membalut tangan Xika, celah pada ruang muncul dan mengeluarkan tangan Xika dari selendang itu. Setelah bebas, Xika langsung menangkap selendang itu dengan kedua tangannya dan menariknya kuat-kuat.


Gadis pemilik selendang itu tertarik maju dan akan menghantam kaki Xika, kalau saja Xika tidak menghentikan serangannya untuk menghindari lemparan pisau.


Ia berbalik dan menatap gadis pisau yang ia tendang telah berdiri meskipun kakinya masih gemetar. Sepertinya tendangan Xika cukup kuat. Gadis itu berjalan dengan satu pisau di tangannya.


Melihat konsentrasi Xika yang terganggu, si gadis berselendang memutar kedua selendangnya hendak membanting Xika. Namun sayangnya, Xika menyadari gerakannya, alhasil dirinyalah yang berputar sebelum menghantam tanah alih-alih Xika.


Di samping, Heiliao hanya berdiri dalam diam. Ia membuat keputusan yang sama dengan Huo Bing. Tak akan membantu Xika kecuali situasi mendesak. Huo Bing sudah mengatasi dua Pelindung. Jadi ia tidak akan turun tangan. Lagipula sekumpulan gadis tidak dapat dianggap situasi mendesak.


Jadi daripada Xika, Heiliao memfokuskan pandangannya pada Huo Bing. Burung itu bertarung dengan baik.


Sebelumnya, siluet Huo Bing tidak berwarna. Kini, siluet itu berwarna sama persis seperti wujudnya ketika ia hidup dahulu. Biru dan merah. Kemudian kedua warna itu meresap kedalam tubuhnya sementara siluetnya menghilang.


Huo Bing sudah terbiasa bertarung menghadapi lawan yang lebih banyak dirinya. Hal itu terlihat jelas dari gerakannya menghadapi Penatua Yan dan Penatua Lan. Sementara untuk para Penatua itu, keduanya tidak dapat bekerja sama dengan baik.


Ketika Penatua Yan melemparkan bola apinya, Penatua Lan menyemburkan air bertekanan tinggi. Itu harusnya bisa jadi gerakan yang bagus kalau Huo Bing tidak menghindar. Semburan Penatua Lan memadamkan bola api Penatua Yan.


Di tengah kebingungan,  Huo Bing menghantam wajah Penatua Yan bersamaan sambil menendang perut Penatua Lan. Heiliao tersenyum melihat itu. Baik Xika maupun Huo Bing bukan tipe yang akan mengalah hanya karena lawan mereka adalah wanita.


Pria ataupun wanita, sama saja. Dan Heiliao bersyukur gerakan Xika dan Huo Bing sama ganasnya tidak peduli menghadapi pria atau wanita.


Penatua Lan melayang mundur. Ia mengarahkan kedua telapak tangannya dan sebuah gelembung air muncul menyelimuti Huo Bing. Maksudnya hendak membuat burung itu tidak bisa bernafas. Setelah burung itu pingsan, barulah Penatua Yan maju dan menghajar Huo Bing.


Tapi Penatua Yan tidak bisa membaca rencana Penatua Lan. Ia sama sekali tidak pandai membuat rencana. Alih-alih menunggu Huo Bing habis nafas dalam gelembung Penatua Lan, pria paruh baya itu malah langsung menghantamkan tinjunya dan menguapkan gelembung itu.


"Bodoh! Kenapa kau meninju gelembungku?"

__ADS_1


"Kupikir gelembung itu akan meledak ketika kutinju!"


"Itu gelembung air! Apa yang kau harapkan?"


Penatua Yan tidak sempat membalas karena dari balik uap air, kaki Huo Bing muncul menghtam perutnya keras-keras. Tapi Penatua Yan bukanlah tipe yang akan diam saja ketika musuh berhasil menyerang dirinya. Ia juga harus membalas.


Setelah berhasil menghentikan dirinya, Penatua Yan menembakkan bola-bola api bersuhu panas. Sayangnya, Huo Bing dapat dengan mudah menghindari gerakan itu. Ia mengepalkan tangannya, dan bola-bola api itu langsung membeku.


Di belakang Huo Bing, Penatua Lan membuat tali dari air dan hendak mengikat burung itu. Tapi Huo Bing menyadari hal itu. Ia membuka kepalan tangannya dan bola-bola api yang telah membeku itu pecah menjadi serpihan es yang tajam mengarah pada Penatua Lan.


SYUR!


Layar air muncul menahan serpihan es itu. Tapi Huo Bing masih belum selesai. Ia melambaikan tangan kanannya dan serpihan es dalam jumlah yang lebih banyak kembali muncul menyerang Penatua Lan.


Set!


BLAR!


Penatua Yan maju dengan tongkat api di tangannya. Huo Bing menyambutnya tanpa rasa takut. Tangan kanannya yang terlapisi es, dengan tangan kirinya yang terbakar api berhasil membuat Penatua Yan kerepotan.


Ketika Penatua Lan selesai menangkis serpihan es Huo Bing, ia bergabung dengan mereka. Tapi Penatua Lan tidak berhasil menghindari seluruh serangan Huo Bing. Jubahnya yang biru kini dipenuhi dengan robekan-robekan yang memperlihatkan kulit putihnya.


Huo Bing memainkan es dan api di tangannya dengan santai. Kadang api di tangan kanan, kadang api di tangan kiri. Tergantung kondisi.


Setelah pertarungan singkat, Penatua Yan dan Penatua Lan menjauh dari Huo Bing untuk mengambil nafas. Dari pertarungan singkat itu, mereka kalah. Hal yang sulit dipercaya, tapi mereka harus mengakui bahwa pria di hadapan mereka memang luar biasa kuat.


Padahal baik aura maupun tingkat kultivasinya sama dengan mereka berdua. Selain itu, mereka menang jumlah. Tapi kenapa ia bisa menang sementara mereka kalah? Jawabannya sederhana, karena Huo Bing lebih berpengalaman dibanding mereka berdua. Tapi tentu saja keduanya tidak tahu hal itu.


Di mata mereka, Huo Bing hanyalah remaja lelaki yang memiliki kekuatan luar biasa. Bukan burung setengah matang, ups, burung ajaib yang berumur ratusan tahun.


"Teman, kau berhasil melukai kedua pelindungku sampai seperti itu. Kau luar biasa."


Sebuah suara muncul membuat Huo Bing maupun kedua Penatua tersebut terkejut. Huo Bing menoleh ke samping kanannya.


Awalnya tak terlihat apa-apa disitu. Tapi beberapa saat kemudian, terlihat seorang pria botak yang bermandikan cahaya matahari.


"Kau bahkan menyadari keberadaanku. Sekali lagi, kau luar biasa." Pria tua itu tersenyum.


Di bawah, Heiliao juga menyadari kemunculan pria botak yang tidak wajar itu. Dalam sekejap, ia menghilang dari tempatnya berada.


Ketika Huo Bing menatap pria botak itu dengan waspada, Penatua Yan menganggap itu sebagai kesempatan untuk menyerang Huo Bing. Jadi ia membuka mulutnya dan menyemburkan api.


Sayangnya, lubang hitam muncul dan menelan apinya beberapa saat kemudian. Lubang hitam yang lain muncul di dekat pria botak itu dan memuntahkan semburan api.


Pria botak itu mengangkat tangannya dan api itu menari-menari di sekelilingnya, sebelum menghilang secara perlahan.


"Kau punya teman yang luar biasa juga. Aku tak akan menyadari keberadaanya kalau bukan karena lubang hitam ini."


SYUT!


Di samping Huo Bing, Heiliao muncul. Ia menatap pria botak itu sama waspadanya dengan Huo Bing. Sementara pria yang ditatap hanya tersenyum ramah.


Xika yang melihat Heiliao menghilang beberapa saat sebelumnya tahu bahwa sesuatu pasti terjadi. Huo Bing lebih dari mampu menghadapi kedua Penatua itu. Kalau Heiliao juga ikut bergabung, pasti ada yang tidak beres.


SRET!


Ia melemparkan kartu-kartunya dan membuat semua gadis Green Viper yang masih sadar merunduk. Kemudian ia mendekati Xingli sambil mengulurkan tangan.


"Xingli!"


Sekali ini, gadis itu tidak menolak uluran tangan Xika dan menggapai tangannya.


WET!


Sayap transparan muncul di belakang punggung Xika. Ia mengepakannya dan terbang menuju Huo Bing bersama dengan Xingli.


WHUK!


Xika muncul di samping Heiliao dengan pinggang Xingli di tangannya. Entah sejak kapan pegangan tangan berubah menjadi pelukan. Mungkin menurut Xika lebih mudah membawa Xingli terbang dengan cara ini. Sepertinya Xika sendiri tidak menyadari hal itu. Tapi Xingli menyadarinya. Hanya saja sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk bicara.


Pria botak itu menatap kemunculan Xika dan Xingli dengan senyum yang sama.

__ADS_1


"Wah, wah. Sekarang, keempat murid ajaibku sudah berkumpul."


__ADS_2