
Xika jadi penasaran bagaimana wajah Han Feng. Itu pasti menarik untuk dilihat, sayangnya waktu tidak berpihak padanya saat ini. Mengesampingkan Han Feng, ia mulai memikirkan bagaimana caranya untuk melawan kelompok musuh sambil mempercepat langkah.
Waktu terus berlalu. Pada saat itu, kira kira hari sudah gelap dan bulan sudah memancarkan sinarnya. Xika merasakan keberadaan lain. Karena kepalanya terlalu pusing memikirkan bagaimana langkah berikutnya, ia jadi tidak terlalu waspada pada keadaan sekitar.
Entah mengapa, otaknya langsung menganggap keberadaan itu adalah Li Tang dan Yun Xingzhao. Sayangnya, nasib tak sebaik itu padanya. Ketika Xika mendekat yang muncul malah beberapa sosok berpakaian hitam. Sudah tentu bukan Li Tang dan Yun Xingzhao.
Xika kembali tersadar. Cepat-cepat ia menyatu dengan angin sebelum lawan menyadari keberadaannya.
Srak!
"Huh?"
"Hei, apa yang kau lakukan di sana?"
"Entahlah, rasanya aku merasakan keberadaan seseorang barusan."
"Di malam hari sepeprti ini? Apa kau pikir lawan kita itu orang gila?"
Suara yang lain menjawab,
"Tunggu, bukankah mereka memang gila? Hanya beranggotakan delapan orang, berniat melawan kita semua? Dan lagi, bahkan tidak dengan kekuatan penuh mereka dan sebelum mengetahui kekuatan kita."
"Pfftttt..... Kau benar. Orang-orang yang disebut jenius itu nyatanya bukan apa-apa. Mereka hanya jenius dalam bicara. Kalau mereka memang mau datang, biarkan saja. Kita perlihatkan pada mereka siapa jenius yang sebenarnya."
Kalimat terakhir itu dibalas dengan sorakan persetujuan yang penuh semangat sekaligus ejekan pada mereka yang disebut jenius. Xika sendiri, tidak merasa keberatan dengan hinaan yang ia dengar karena memang ia tidak menganggap dirinya jenius. Tidak, levelnya berbeda dengan mereka.
Mendadak Xika tersadar sesuatu. Bukankah orang-orang itu sempat membahas kelompok Zhen Fang? Apa itu artinya mereka baru bertemu dengan anggota kelompoknya yang lain? Xika mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih untuk mengamati keadaan sekitar.
Tekniknya saat ini, menyatu dengan angin, sebenarnya cukup efektif. Tubuhnya tak terlihat dan ia bebas menjelajah kemana-mana. Sayangnya, semua teknik tak ada gunanya di hadapan kekuatan mutlak. Jadi kalau ada individu yang cukup kuat hingga mampu mendeteksi dirinya dalam angin, maka tamatlah riwayatnya.
Srrrr.....
"Angin malam ini rasanya lebih dingin, ya?"
"Masa? Perasaanmu saja mungkin."
Xika menemui cukup banyak anggota musuhnya. Untunglah malam ini angin memang berhembus cukup kencang sehingga ia bisa menjelajah lebih luas. Namun, semakin jauh ia menjelajah, semakin banyak musuh yang ia temukan. Memang, ia telah mendeteksi keadaan musuh dengan anginnya kemarin, tapi melihat musuh sebanyak ini dengan mata kepalanya sendiri adalah dua hal yang berbeda.
Di saat Xika hampir menyerah dan berbalik pergi karena mengira ia tak akan menemukan informasi mengenai kelompok lainnya, ia mendengar sebuah percakapan.
"Bagaimana dengan keadaan mereka?"
"Masih melawan. Bodohnya, kedua orang itu mengira jumlah kita tinggal sedikit lagi dan masih terus memaksakan diri untuk menyerang. Setiap kali mereka mengira akan menang, beberapa anggota kita keluar lagi dan membuat keputusasaan kembali datang pada mereka. Kau harus melihat ekspresi wajah mereka! Hahahahaha!"
"Hahahahaha! Sebaiknya aku pergi menonton mereka!"
Xika mengikuti salah seorang yang mengatakan hendak menonton pertarungan. Firasatnya mengatakan bahwa yang bertarung adalah Di Lang dan Tian Li. Tentu saja, ia memahami kebanggaan kedua orang itu. Apa yang dikatakan lawannya itu cocok sekali dengan keduanya.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, Xika merasa sedikit menyesal. Ia sudah tiba ke markas lawan, tapi tidak bisa menjatuhkan setidaknya satu atau dua lawan untuk mengurangi jumlah mereka. Mau bagaimana lagi? Jumlah musuh mencapai empat ratusan. Kalau ia nekat dan membuat keributan, maka bisa-bisa ia tak kembali lagi.
Serangan menyelinap? Sergapan? Begini, kurang lebih semua musuhnya berkumpul dalam kelompok yang jumlahnya cukup banyak. Kelompok yang paling sedikit berisikan sepuluh orang. Keributan sekecil apapun pasti akan menarik perhatian kelompok-kelompok lainnya yang pada akhirnya akan membuat masalah semakin besar, kecuali ia bisa menghabisi sepuluh orang dalam sekejap.
Samar-samar, Xika mendengar suara pertarungan. Semakin lama suara-suara itu semakin jelas hingga akhirnya ia melihat dari mana asalnya.
Tanah itu sebelumnya adalah hutan yang penuh dengan pepohonan, tapi kini sudah banyak pohon yang tumbang sehingga tidak pantas bila dikatakan hutan lagi. Di sana, berdirilah dua orang bodoh, Di Lang dan Tian Li, melawan enam atau tujuh orang. Di samping mereka terkaparlah beberapa tubuh yang tampaknya merupakan lawan sebelumnya yang berhasil dijatuhkan Di Lang dan Tian Li.
Kondisi keduanya bisa dikatakan cukup parah, dan keduanya menjadi bulan-bulanan lawan mereka. Meskipun begitu, keduanya masih menolak untuk mundur. Sungguh kebodohan yang patut dikagumi.
Xika melirik sekitarnya. Pria yang ia ikuti itu kini terpisah jauh dari kelompoknya, dan masih ada jarak beberapa belas meter lagi dengan pertarungan Tian Li dan Di Lang. Haruskah ia menjatuhkannya?
"Hm? Kenapa anginnya semakin dingin?"
"Psst! Hua Shao! Kemana saja kau?"
Tepat di saat Xika hendak menjatuhkan pria yang bernama Hua Shao, sebuah suara memanggil targetnya. Dan ketika Xika menyadari darimana asalnya suara itu berasal, ia bersyukur ia belum sempat menyerang.
Tidak jauh dari tempat Hua Shao berdiri, berdirilah belasan orang di tempat yang tertutup sedang menonton pertarungan Tian Li dan Di Lang. Tidak jauh dari kelompok itu, masih ada beberapa kelompok lainnya yang berjumlah sama kurang lebih.
Itu artinya, sekalipun Xika bisa menjatuhkan kelompok pertama dalam sekejap, masih ada kelompok kedua, ketiga, dan lainnya yang harus ia hadapi. Apa sebanyak ini juga kelompok yang menontonnya saat ia bertarung kemarin?
"HEAH!"
WHUSH!
JLEB!
Kini tinggal tersisa enam orang. Dengan kondisinya saat ini, Xika percaya diri dapat menjatuhkan keenamnya dengan mudah. Tapi yang menjadi masalah bukanlah mereka melainkan kelompok-kelompok lainnya yang tengah bersembunyi.
Bagaimana bila kelompok-kelompok itu keluar ketika ia baru mengalahkan keenam orang sebelumnya? Kini Xika jadi menyadari betapa beruntungnya ia bisa kabur di pertarungan sebelumnya. Dan kini ia harus memikirkan bagaimana caranya membawa kedua sampah ini kabur. Dasar sampah tidak berguna.
Xika memandang keenam orang yang melawan Tian Li dan Di Lang bergantian dengan kelompok-kelompok lain yang tersembunyi (dalam mode angin). Ia tidak bisa memprediksi kelompok-kelompok tersembunyi itu. Kalau mereka juga memiliki kesombongan yang tak berguna dan membiarkan keenam orang itu mengejar Di Lang dan Tian Li melarikan diri, ia masih punya kesempatan.
Tapi kalau mereka tetap waspada kepada kedua idiot itu sekalipun sudah sekarat, maka kecil kemungkinannya ia bisa membawa keduanya kabur. Apa yang harus ia lakukan?
Ia mencoba mendekat untuk mengetahui bagaimana reaksi kelompok-kelompok itu menonton pertarungan dua idiot. Respon yang didapat cukup beragam. Ada yang tak peduli dan asik mengobrol sendiri, ada yang tidak sabar dan berniat ikut bertarung, ada juga yang menikmati betapa bodohnya dua orang dari sekte besar itu.
Setelah mengetahui respon-respon itu, Xika malah semakin bingung. Semakin banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Tapi pertama-tama, yang akan ia waspadai adalah mereka yang berniat ikut bertarung. Kalau ada sesuatu yang tidak beres, mereka pasti akan segera bergabung. Itulah yang ingin Xika hindari.
Tepat di saat Xika kehabisan cara, ia menemukan dua sosok yang tak asing tengah bersembunyi di balik pepohonan dan menonton pertarungan dua idiot di bawah sana. Namun, kedua sosok ini berbeda dengan kelompok lawannya. Mereka adalah temannya.
Cepat-cepat Xika menghampiri mereka.
WHUSH!
"Kalian datang di saat yang tepat."
__ADS_1
"Uwah! Sejak kapan kau ada di belakangku?" tanya Yun Xingzhao yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Xika.
"Sekitar sedetik yang lalu. Ngomong-ngomong, kalian menghemat waktuku. Aku tidak perlu mencari kalian lagi. Dan," Xika mengamati keadaan keduanya dari atas sampai bawah dengan baik, "untunglah kalian menuruti saranku. Atau kalian akan berakhir seperti dua orang idiot di bawah sana."
Yun Xingzhao hanya bisa saling pandang dengan Li Tang. Terus terang, ia juga awalnya agak ragu ketika Xika meminta mereka mundur. Bagaimanapun juga, kelompok mereka memiliki kekuatan di atas rata-rata, kalau bukan yang paling kuat. Tapi kini ia bersyukur menuruti saran Xika.
"Dengar, Liang Jihua, Han Feng, dan Zhen Fang sudah menunggu. Mereka tengah memulihkan diri. Kita harus bersatu untuk mengalahkan kelompok sinting ini. Karena itu kita harus menyelamatkan dua idiot di bawah sana, sekalipun aku tidak mau, dengan segala cara."
Yun Xingzhao dan Li Tang mengangguk bersamaan. Mereka sudah pernah bekerja sama dengan Xika sebelumnya, jadi mereka tahu bahwa mengatur strategi adalah tugas Xika. Tugas mereka hanyalah melaksanakan rencana Xika dan berharap bahwa rencananya berjalan lancar.
Jadi Xika mulai menjelaskan situasi sekitar dan rencananya pada Yun Xingzhao dan Li Tang.
".....yang jadi masalah bukanlah keenam orang itu, tapi berbagai kelompok yang tengah bersembunyi. Kalau mereka sombong dan tak menganggap kita, itu bagus. Tapi kalau mereka mewaspadai kita, itu baru bahaya."
Setelah sekitar lima belas menit membahas rencana mereka, Xika dan lainnya siap untuk bergerak. Sementara itu, di bawah sana, Tian Li dan Di Lang sudah hampir tidak bisa bertahan. Mereka terus-menerus menerima serangan sementara serangan mereka sendiri dari tadi tidak ada yang mengenai lawan.
Xika kembali menyatu dengan angin kemudian mendekati pertempuran di bawah sana. Sebelumnya, ia sudah setuju untuk mengambil langkah yang pelan namun pasti. Ia berniat mengumumkan kehadirannya pada Di Lang dan Tian Li dengan cara menahan pergerakan lawannya. Kalau keduanya masih punya sisa tenaga, harusnya mereka bisa menghabisi lawan dengan cepat.
WHUSH!
Xika berhasil menahan tiga dari enam musuh. Kebetulan ketiganya sedang dalam posisi bersantai jadi diamnya mereka tidak akan dicurigai kelompok lain. Selain itu, ia berhasil mengunci bibir musuhnya (Xika memberikan tekanan angin di sekitar bibir lawannya, sehingga mereka tidak bisa bicara), teknik yang kapan-kapan akan ia coba pada Qing Hu.
Sayangnya, sekalipun jumlah musuh sudah berkurang setengah, Tian Li dan Di Lang masih tidak menyadari keberadaannya. Mereka bahkan tidak berhasil membalikkan situasi.
Kalau sudah begini, maka apa boleh buat mereka harus melaksanakan langkah selanjutnya. Kalau langkah aman tidak berhasil, maka gunakan langkah nekat. Itu ide Xika ngomong-ngomong.
SWUSH!
Xika mengirimkan sekelebat angin kencang pada Yun Xingzhao dan Li Tang sebagai aba-aba untuk memulai langkah berikutnya.
Li Tang menarik nafas dalam-dalam sebelum melayangkan serangannya. Ia menaruh kedua tangannya di bawah tanah, kemudian mencuatlah duri-duri bayangan yang cukup banyak dan berhasil menusuk keenam lawan Tian Li dan Di Lang.
JLEB!
JLEB!
CRAT!
BRET!
TES!
Dan sekarang, tibalah di langkah yang paling berbahaya. Saat dimana Xika harus membawa Tian Li dan Di Lang yang babak belur kabur dari jangkauan lawan.
SYUSH!
Angin kencang kembali berhembus, tapi kali ini cukup kencang sehingga dapat menerbangkan Tian Li dan Di Lang ke balik pepohonan dan menghilang ke dalam kegelapan.
__ADS_1
Xika berhasil membawa Tian Li dan Di Lang beberapa meter ke dalam hutan tepat ketika kelompok lawan mulai keluar dan mengejar mereka.
SYUT!