
Xika menatap bingung penjaga toko yang meneriakinya itu.
"Ehh...Aku tidak meminta uang ataupun roti...." katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kami tidak bisa memberikanmu pekerjaan. Saat ini tidak ada posisi penjaga yang kosong. Cari saja di toko lain."
"....aku juga tidak meminta pekerjaan....."
Penjaga itu mengerutkan alisnya dan bertanya,
"Lalu apa yang kau mau?"
"Menjual bagin tubuh Spirit Beast tentu saja. Kukira ini toko yang menjual dan membeli bagian tubuh Spirit Beast, sepertinya aku salah."
Selesai berkata, Xika membalikkan badannya hendak pergi, namun penjaga toko itu segera memanggilnya.
"Ah! Ternyata kau mau menjual ya. Maafkan sikapku sebelumnya, kau tahu banyak anak yang....."
Penjaga toko itu melihat pakaian Xika dan menghentikan ucapannya.
"Tidak apa. Bisa kau memberikanku harga yang setimpal untuk benda-benda ini?"
Penjaga itu cukup terkejut melihat benda yang dikeluarkan Xika ternyata cukup berharga, jadi ia mengajak Xika masuk ke dalam tokonya dan membicarakan harganya lebih lanjut.
"Masuklah dulu. Kita bisa membicarakan masalah ini di dalam."
Kemudian Xika mengikuti penjaga itu dan sampai ke sebuah ruangan yang berisi sofa yang empuk dengan meja yang tersedia makanan dan minuman di atasnya.
"Duduklah selagi aku memeriksa barangmu. Ah, hidangan ini juga boleh kau makan."
Setelah bicara begitu, penjaga toko itu keluar dari ruangan dengan membawa barang-barang Xika.
"Tunggu!"
Penjaga toko itu berhenti dengan wajah kebingungan.
"Ada apa?"
"Bagaimana aku bisa yakin bahwa kau tidak membawa barangku dan lari?"
Penjaga itu bengong sesaat kemudian tertawa kecil.
"Aduh, astaga.... Baiklah, kalau kau tidak yakin dengan toko kami, kau pegang dulu barangmu sementara aku akan memanggil tuanku untuk memeriksa."
Kemudian penjaga toko itu meletakkan barang-barang Xika dan pergi meninggalkan Xika yang merasa cukup malu karena curiga dengan penjaga toko itu.
Xika menunggu penjaga toko itu sambil memakan hidangan yang tersedia. Tidak lama kemudian, penjaga toko itu datang bersama dengan seorang pria yang terlihat berusia 60 atau 70 tahun.
Pria tua itu mengangguk sedikit ke arah Xika kemudian mengambil barang Xika dan memeriksanya dengan teliti.
Xika membalas anggukan itu dengan anggukan juga, namun terlihat agak kaku karena bingung dengan sapaan pria tua itu.
Setelah beberapa saat, pria tua itu melihat Xika dan berkata,
"Kuku ini bernilai 20 koin perak, taring itu bernilai 95 koin perunggu sementara mata itu bernilai 7 koin perak satunya, karena ada dua maka 14 koin perak. Total semuanya 34 perak dan 95 koin tembaga. Tapi karena kudengar bawahanku ini sudah menyinggungmu maka akan kuberikan 35 koin perak. Bagaimana?"
Xika sebenarnya tidak merasa tersinggung karena dikira meminta uang atau pekerjaan, tapi karena pria itu memberinya bonus maka ia tidak keberatan.
"Baiklah."
Pria tua itu mengangguk kemudian menyerahkan sekantung kulit yang berisi koin perak.
Xika menerimanya dan memeriksa isinya, kemudian ia melangkah pergi dari toko itu. Tapi pria tua itu memanggilnya.
"Hei nak, kemana tujuanmu berikutnya?"
"Ehh...aku berniat membeli baju baru, kau tahu....." kata Xika sambil melihat bajunya dan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Saranku, pergilah ke ujung gang ini kemudian berbelok kanan dua kali dan ke kiri sekali. Kau akan menemukan sebuah toko yang cukup besar namun tidak memiliki pelanggan. Katakan lah bahwa Tuan Qin menyuruhmu ke sana, kau akan mendapatkan diskon."
Xika berterima kasih kepada pria tua itu kemudian pergi dan mengikuti instruksi pria tua itu.
Penjaga toko itu bertanya pada tuannya.
"Tuan, kenapa kau mengirim anak itu ke toko senjata? Bukankah dia berkata ingin membeli baju?"
"Kau akan tahu."
Setelah berkata seperti itu, pria tua itu meninggalkan penjaga toko dengan muka yang kebingungan.
Xika menuju toko yang disarankan pria tua itu.
Ia sampai di depan toko itu dan terpana melihat betapa besar toko tersebut. Namun seperti yang pria tua itu katakan, toko ini tidak memiliki pelanggan satupun.
Xika mengetuk pintu namun tidak ada balasan. Jadi ia melangkah masuk ke dalam toko itu begitu saja.
Di dalam, toko itu sangat gelap. Xika tidak bisa melihat apa-apa. Bila belum pernah ke lubang hitam Heiliao, maka Xika akan mengatakan bahwa tempat ini adalah tempat tergelap yang pernah ia kunjungi.
Mendadak terdengar sebuah suara.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang mengutusmu?"
"Ehhh....Tuan Qin yang menyuruhku kesini. Mungkin saya salah toko. Permisi."
"Si tua Qin ya..... Kau tidak salah toko."
"Eh?"
"Kemarilah."
Lampu menyala sebagian dan terlihat sebuah meja beserta dua buah kursi.
Seorang pria tua yang usianya juga sekitar 60 atau 70 tahun duduk di salah salah satu kursi.
Xika mendekat dan duduk di kursi lainnya. Ia menatap bingung pria di depannya sedangkan pria itu mengeluarkan sekotak kartu dan mengocoknya.
Pria itu tidak menjawab Xika. Ia membagikan kartu itu dan mengambil salah satu tumpukan, kemudian menyusun kartu itu.
Xika mengikuti tindakan pria itu dengan tatapan yang masih bingung.
Pria itu mengeluarkan dua buah kartu yang bertuliskan angka 3.
Xika melihat kartunya sebentar kemudian mengeluarkan dua buah kartu angka 7.
Pria itu mengeluarkan 2 buah kartu dengan tulisan J di atasnya.
Xika dan pria tua itu sedang bermain saat ini.
Setelah beberapa saat, Xika memenangkan permainan dengan pria tua yang masih memliki 5 kartu di tangannya dan salah satunya memiliki angka 2 di atasnya.
Ia terdiam sebentar melihat kartunya. Matanya sedikit melebar tidak menduga bahwa ia akan kalah.
Kemudian ia mengumpulkan kartu-kartu yang berantakan di meja itu, merapikannya, dan mengocoknya lagi.
"Anu, senior? Mengapa kita bermain Capsah?"
Tapi pria itu tidak menjawab, melainkan hanya mengocok kartu kemudian membaginya.
Mereka bermain lagi dengan ronde kedua dimenangkan juga oleh Xika.
Setelah kalah, pria itu mengocok kartu lagi dan kembali membagikannya.
Kejadian ini berulang selama sepuluh kali dan Xika memenangkan semua permainan itu.
Pria tua itu melebarkan matanya memandangi hasil permainan di depannya.
__ADS_1
Akhirnya ia menghembuskan nafasnya dan berkata,
"Hahhh.........baiklah, baiklah. Kau diterima."
"Anu, apanya yang diterima?"
"Dirimu tentu saja."
"Ehhh... diterima kemana?" tanya Xika dengan pandangan bingung di wajahnya.
Kini pria tua itu memandang Xika dengan tatapan yang sama bingungnya.
"Apa si bodoh Qin itu tidak mengatakannya padamu?"
"Tuan Qin hanya menyaranku ke toko ini setelah aku memberitahunya hendak membeli baju."
Pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Dasar si bodoh itu...."
Ia menghela nafas kemudian penampilannya berubah. Ia bertambah muda dan terus bertambah muda.
Sebelum akhirnya wajah yang sebelumnya berupa pria tua itu kini menjadi wajah pemuda yang 4 atau 5 tahun lebih tua dari Xika.
Xika hanya terdiam menyaksikan perubahan itu. Ia tidak tahu yang mana wajah asli pemuda itu, apakah wajahnya memang tua hanya saja ia menggunakan sebuah pil untuk memudakan dirinya, atau ia memang muda namun menggunakan pil yang menuakan dirinya, atau bisa saja tidak keduanya.
Melihat pandangan bingung di wajah Xika, pemuda itu menjelaskan.
"Namaku Lian Minjie (链 敏 捷). Ini wajah asliku. Aku bersama dua kawanku yang lain membentuk sebuah kelompok yang berisi pemain capsah handal. Meskipun begitu, kegiatan kami tidak terbatas pada kartu saja."
Xika mendengarkan penjelasan tentang grup yang dibentuk Lian Minjie dengan wajah bingung.
"Hahhhh.........kau masih tidak mengerti juga ya? Kami kekurangan anggota, jadi kami menyamar menjadi pria tua untuk mencari anggota baru."
"Ehhh....kenapa harus menjadi orang tua?"
"Karena anak muda biasanya hormat pada orang tua. Yah, aku juga tidak terlalu tahu mengapa, ini ide si konyol Lin. Yang pasti, si bodoh Qin menyarankanmu menjadi anggota kita yang baru, jadi aku mengetesmu dengan Capsah karena memang itulah kriteria kami."
"........apa aku bisa menolak?"
"Dasar bocah sialan! Apa kau tahu berapa banyak anak muda yang ingin bergabung dengan kami?"
Xika diam sebentar kemudian menggeleng.
"Hahhh.....pokoknya, kau sudah mengalahkanku sebanyak 10 kali, jadi kau sudah diterima dan kau tidak bisa menolak."
Xika menggaruk kepalanya.
"Ini, ambillah. Ini kartu keanggotaanmu."
Lian Minjie melemparkan sebuah kartu pada Xika yang memiliki gambar empat bintang.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
Xika bingung sebentar. Ia curiga bahwa Lian Minjie atau kelompok di belakangnya merupakan kelompok sesat, tapi ketika ia melihat senyum dan binar di mata Lian Minjie, ia yakin bahwa mereka tidak berniat buruk.
"Xing Xika."
Kemudian gambar dalam kartu itu berubah, lebih tepatnya bertambah.
Di bintang pertama muncul tulisan Xing, bintang kedua Xi, dan bintang ketiga Ka. Sementara bintang keempat bertuliskan angka 4.
"Jaga baik-baik kartu itu. Sekarang, ayo ikut aku mengambil hadiahmu."
Kemudian Lian Minjie menyalakan lampu dan Xika melihat sekelilingnya yang ternyata penuh dengan senjata.
"Ayo, pilihlah. Kau boleh mengambil 2 benda yang kau mau dari sini. Apapun itu."
__ADS_1
"..............."
Xika hanya terdiam melihat semua senjata di sekelilingnya.