
Xika melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, ia mengangkat salah satu tangannya sejajar ke wajah Han Shan, kemudian menutup telapak tangannya. Tapi yang terjadi berikutnya tidaklah sama. Alih-alih kesulitan bernafas seperti yang dialami kedua murid dalam peringkat 53 dan 54, tubuh Han Shan menekuk secara tidak alami.
Mendadak Han Shan memeluk dirinya sendiri. Kemudian kakinya melipat secara tiba-tiba hingga ia terjatuh dengan posisi terduduk. Sama seperti Di He, Han Shan juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada saran apa yang harus kulakukan padanya?" tanya Xika mengabaikan Han Shan sepenuhnya.
"Tampar pipi kanan seratus kali," ucap Huo Bing.
"Dan pipi kiri seratus kali juga," sambung Heiliao. Setelah itu keduanya melakukan tos. Tapi sepertinya Xika tidak puas dengan ide itu.
"Tidakkah itu terlalu ringan? Sebelumnya ia hendak membuatku terbaring cukup lama di kasur, bukankah aku juga harusnya melakukan sesuatu, paling tidak, yang seperti itu?"
"Hmmm......" Huo Bing memicingkan matanya. Ia berjalan menghampiri Han Shan dan tiap langkahnya membuat gemetar Han Shan semakin hebat. Han Shan hanya melihat tangan Huo Bing yang semakin membesar sebelum dunia menggelap dan iapun tak sadarkan diri.
"Kalau membicarakan hal seperti itu harusnya jangan keras-keras. Anak ini jelas-jelas sampah, tapi kekuatan di belakangnya tidak bisa kita remehkan, setidaknya untuk saat ini. Lalu mengenai ucapanmu yang hendak membuatnya terbaring di kasur cukup lama......."
DUAK!
Huo Bing menendang kepala Han Shan untuk memastikan pria itu benar-benar pingsan. "Itu ide yang bagus," Huo Bing tersenyum.
"Tapi sebelum itu, kita harus berhati-hati dalam bertindak. Bisa saja ada mata-mata di dekat sini," Heiliao maju selangkah dan memberikan senyum pada Di He.
Di He yang melihat senyum Huo Bing hanya tersenyum gugup, "Y-ya.....?"
Grep!
Bruk!
Heiliao mencengkram bahu Di He keras-keras dan melemparkannya ke dalam kamar mereka. Ia masuk diikuti Xika, Xingli, dengan Huo Bing yang terakhir setelah burung itu membuat penghalang kedap suara di sekliling kamar mereka dan menyeret Han Shan ke dalam kamar mereka.
"A-anu......"
Di He terlihat kebingungan sekaligus kesakitan. Ia memegang bahu yang dicengkram Heiliao sebelumnya, sakitnya bukan main. Dan ekspresi kesakitan yang ditampilkan itu bukanlah samaran.
"Kau." Heiliao melirik Di He dengan dingin. "Apa tujuanmu?"
Xika melirik Heiliao dan Di He secara bergantian dengan tatapan yang agak bingung. Ia masih tak mengerti kenapa Heiliao memperlakukan Di He seperti itu, tapi ia juga tak akan meragukan keputusan Heiliao.
Di He mengernyit sekali, "M-maksudmu.....? A-aku tak mengerti apa yan-"
BUK!
Huo Bing menginjak perut Di He keras-keras. Ia mengangkat dagu Di He dengan kasar dan menatapnya dengan tatapan yang teramat tidak ramah. Setelah itu mendadak wajahnya berubah menjadi sangat ramah. Tangannya melayang dan.......
PLAK!
"Bicara." ucap Huo Bing masih dengan senyum di wajahnya.
"A-aku-"
__ADS_1
PLAK!
"Apa kau kira aku tak melihat perubahan ekspresimu? Awalnya kau melihat kami dengan tatapan biasa, tapi setelah melihat pertarungan Xika, kau menghilang sebentar dan muncul kembali di hadapan kami dengan ekspresi memuja Xika. Kau kira aku tak lihat itu?"
"........."
"Masih tak mau bicara ya....."
Set!
Di He melepaskan dagunya dari tangan Huo Bing sama kasarnya. Ia tersenyum mengejek, tapi alih-alih mengejek Huo Bing atau yang lain, senyumnya lebih ditujukan pada dirinya sendiri, seolah menghina betapa bodohnya ia bisa ketahuan secepat itu.
"Heh. Baiklah. Aku tak menduga akan ketahuan secepat ini. Seperti keinginanmu, aku akan bicara. Tapi sebelumnya, bisa singkirkan dulu kakimu?" Di He melirik Heiliao.
Heiliao menarik kakinya setelah menginjak Di He sekali lagi. Tatapan tajamnya tak lepas sedetikpun dari Di He, seolah siap menghajarnya kalau-kalau Di He melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"Tak usah menatapku seperti itu. Aku malas kabur. Lagipula, aku tak yakin bisa kabur."
"Tak perlu banyak omong kosong. Ceritakan saja tujuanmu mendekati kami atau kau bisa merasakan hidup yang lebih buruk dari kematian."
Di He tak terlihat takut. Ia tersenyum santai, entah karena dia percaya diri bisa lolos atau dia sudah menyerah. Xika memutuskan lebih baik berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk.
"Baiklah, baiklah. Kalau kau menanyakan tujuanku seorang, aku mendekati kalian hanya untuk mengamati kalian. Tapi kalau kau tanya tujuan yang lebih besar aku tak tahu."
"Apa maksudmu tujuan yang lebih besar?" Xika kebingungan.
"Maksudnya dia tidak bertindak sendiri. Tujuannya sendiri adalah untuk mengamati kita, tapi kalau tujuan pihak lain, atau bisa dibilang pihak yang mengutusnya, ia sendiri tidak tahu." jelas Huo Bing.
"Siapa yang mengutusmu?"
"Para Pelindung." ucap Di He tak berusaha menutup-nutupi.
"Siapa?"
"Pelindung Akademi. Mereka orang dengan posisi kedua setelah Kepala Akademi."
"Untuk apa mereka mengawasiku?"
"Sudah kubilang, aku tak tahu." ucap Di He masih tetap santai.
"Kenapa kau menyerah semudah itu? Dan kenapa kau bersikap sangat santai?" Heiliao menatap Di He dengan curiga sekaligus waspada.
"Yah, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan? Kau membuka penyamaranku dengan telak." Di He bertanya balik.
Heiliao masih terlihat tidak percaya dengan Di He.
"Lalu? Kenapa kau menerima misi itu?"
"Jujur, aku penasaran dengan kalian." Di He diam untuk menatap ekspresi Xika dan lainnya, hanya untuk mendapatkan tatapan orang aneh, kecuali Xingli tentu saja. "Bertahun-tahun hidup yang kujalani terlalu biasa, dan mendadak muncullah kalian yang tidak biasa.
__ADS_1
Anak kucing yang dikurung dalam rumah sekalipun akan tertarik ketika melihat kodok yang tak pernah dilihatnya sebelumnya."
"Itu masih tak menjelaskan kenapa kau bersikap sangat tenang." ucap Heiilao masih dengan rasa curiganya.
Di He tersenyum. Hidupnya memang tak bisa dibilang panjang, tapi kalau hidupnya yang terlalu biasa itu dapat diakhiri dengan cara yang tidak biasa, ia tidak keberatan.
"Yah, aku sudah menuruti permintaamu. Apa kau akan membunuhku sekarang?"
"Ho? Seingatku akademi melarang pembunuhan." ucap Huo Bing tertarik tidak menduga Di He akan sepasrah itu.
"Memang benar. Tapi ada lagi peraturan lain yang pastinya diketahui semua orang. Semuanya boleh asal tak ketahuan. Benar bukan?" Di He memberikan senyum pada Huo Bing.
"Jadi? Haruskah kita bunuh dia?" tanya Xika dengan santai.
Jujur, Di He melihat Huo Bing dan Heiliao sebagai orang yang lebih tua, dan hanya dari tatapan keduanya saja ia tahu mereka telah membunuh nyawa bukan hanya satu dua kali. Tapi Xika dan Xingli berbeda. Tatapan yang dimliki Xika tak seperti Huo Bing ataupun Heiliao.
Jadi ia terkejut mendengar Xika mengucapkan kata 'bunuh' dengan santai seperti itu. Xingli juga tak menunjukkan reaksi apapun. Entah gadis itu memang terbiasa dengan pembunuhan, atau gadis itu menyembunyikan ketakutannya.
Saat ini, seluruh pasang mata memandang Huo Bing. Ia yang paling sering mengeluarkan ide licik tapi jarang menimbulkan konsekuensi serius.
"Apa semua Pelindung berkumpul dan memintamu menjadi mata-mata, atau hanya salah satu saja?" Huo Bing tak langsung menjawab.
"Hanya salah satu saja. Tapi aku tak yakin apa hanya aku yang diutus atau masih ada yang lain. Yah, meskipun Pelindung Yan mengatakan mereka berempat sepakat bahwa hanya aku yang diutus."
"Heh," Huo Bing tersenyum, "Menarik." Ia menoleh pada Xika, "Menurutmu bagaimana Xika? Apa Pelindung Yan bicara jujur?"
Meskipun sebelumnya Xika bertanya padanya, Huo Bing malah bertanya balik. Dari awal ia memang tidak beniat menjawa pertanyaan Xika karena ia hendak membuat Xika berpikir dan berkembang. Lagipula ia merasa Xika sudah punya jawaban atas pertanyaannya sendiri, hanya saja anak itu ragu untuk mengucapkannya.
"Hmm...." Xika mengerutkan keningnya, "Jujur ataupun tidak, kita tidak bisa membunuhnya, setidaknya untuk saat ini. Itu terlalu berisiko. Kalau hanya dia yang diutus, maka hilangnya dirinya pasti akan langsung disadari oleh para Pelindung dan mereka tahu bahwa rencana mereka terbongkar.
Dan kalau masih ada yang lain, harusnya mereka juga tahu keberadaan satu sama lain. Hilangnya salah satu dari merekapun akan membuat para Pelindung itu waspada. Jadi sebaiknya kita tahan saja dia dulu."
Huo Bing tersenyum, begitu juga dengan Heiliao meskipun hanya samar. Keduanya tahu Xika memiliki pikiran yang tajam, hanya saja ia kadang ragu untuk mengutarakannya. Huo Bing bertanya seperti itu sebelumnya untuk memancing Xika bicara dan ia tidak salah, Xika memang memiliki jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Jadi? Apa kita kurung saja dia disini?" tanya Huo Bing lagi.
"Tidak," Xika menggeleng. "Kalau ia tak terlihat bersama kita padahal sebelumnya ia sudah bersama kita, itu juga akan menimbulkan kecurigaan."
"Kalau begitu apa yang akan kita lakukan?"
Xika berpikir sebentar sebelum menoleh pada Di He.
"Aku ingin mengajukan kerja sama denganmu. Kami tak akan membunuhmu. Kau bisa melanjutkan misimu mengawasi kami, tapi sebagai gantinya kau beritahukan pada kami tujuan para Pelindung itu mengawasi kami. Bagaimana? Kau bisa mengatakan kalau ada kondisi lain."
"Maksudmu agen ganda? Tidak buruk."
"Kau tentunya tak memiliki kondisi lain karena sadar bahwa hanya ini satu-satunya harapanmu hidup bukan?" tanya Huo Bing dengan senyum mengancam.
"Tidak perlu," Di He tersenyum sebelum menatap keempatnya satu-satu secara mendalam, "Kalian adalah kombinasi tidak biasa yang akan selalu menyajikan hal yang tidak biasa. Itu saja sudah cukup untuk menghibur hidup yang biasa."
__ADS_1
"Eh......apa itu artinya kau setuju?" Xika mengulurkan tangannya.
"Ya." Di He menerima uluran tangan Xika, dan kerja sama di antara merekapun tercipta.