Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-275


__ADS_3

Set!


Ketika Xika membuka matanya, matahari sudah bersinar terang di atas sana dan nampak akan turun beberapa jam lagi. Di depannya, tampaklah Yun  Xingzhao dan Han Feng yang saling berhadapan seolah tak lama lagi akan bertarung. Atau mungkin memang itu yang keduanya inginkan.


Srek!


"Apa yang terjadi?" tanya Xika sambil mendekati Zhen Fang yang kebingungan menghentikan keduanya.


"Saudara Xing! Akhirnya kau bangun. Saudara Han berniat mendekat padamu karena katanya ada sesuatu yang hendak ia bicarakan secara pribadi denganmu tapi Saudara Yun menolak membiarkan Saudara Han mendekat. Mereka berdebat selama beberapa saat sebelum, yah kau bisa lihat sendiri. Tak lama lagi sepertinya mereka akan bertarung."


"Saudara Yun, ini bukan saatnya kita bertarung. Masih ada banyak musuh di luar sana yang harus kita hadapi. Daripada bertarung antar sesama sebaiknya kita mengatur strategi untuk mengalahkan lawan."


Sayangnya, sebelum Yun Xingzhao sempat menjawab Xika, Han Feng sudah bicara duluan.


"Heh, bedebah sialan! Berani sekali kau mengabaikan kata-kataku?!"


Xika menghela nafas kesal. Ia bahkan tidak peduli pada apa yang pria api itu katakan. Kenapa pria ini selalu mencari masalah dengannya sih? Tidak, kenapa masalah selalu datang pada dirinya?


"Aku tidak ingat dan tidak peduli apa yang kau katakan. Tapi apapun itu aku berharap kita dapat menyelesaikannya nanti di babak ketiga. Untuk saat ini lebih baik kita berfokus untuk melewati babak kedua ini dulu."


Han Feng nampaknya masih ingin bicara lagi, tapi mulutnya mendadak menutup bersamaan dengan angin dingin yang muncul di belakang Xika. Tanpa perlu menoleh, Xika sudah tahu siapa yang ada di belakangnya dan mengapa Han Feng langsung menutup mulutnya. Benar juga, jadi itu alasan Han Feng marah-marah. Yah, terserahlah.


Xika berbalik dan menemukan Liang Jihua tengah menatapnya. Kepalanya lebih tepatnya. Gadis itu memperhatikan luka yang Xika dapatkan beberapa jam yang lalu. Tapi sebelum Liang Jihua sempat mengajukan pertanyaan dan membuat Han Feng semakin marah, Xika buru-buru berjalan mendekati Zhen Fang.


"Saudara Zhen, perkiraan kasar jumlah musuh 400. Kemarin malam aku dan Saudara Li kurang lebih berhasil menghabisi lima puluh orang. Ada saran bagaimana kita menghabisi sisa 350 orang?"


"Terima kasih atas kerja keras kalian, Saudara Xing dan Saudara Li. Pertama-tama, kita-"


"BRENGSEK! Untuk apa mengatur rencana lagi? Lebih baik kita serang saja mereka langsung. Mereka hanya berasal dari sekte kecil dan menengah yang tak bisa melakukan apapun kalau tidak bergabung!" Di sebelah kiri, terduduklah Di Lang yang sedang menyender ke sebatang pohon. Wajahnya masih kesal. Terlihat jelas bahwa ia masih tidak terima dikalahkan oleh kelompok lawan.


"Ide bagus. Sungguh. Itu rencana sempurna untuk membuat kita semua tersingkirkan. Ada lagi yang setuju?" ucap Xika sarkastik.


"Bajingan! Jangan kau pikir aku berhutang padamu hanya karena kau sudah menyelamatkanku sekali, brengsek!" umpat Di Lang tidak terima.


"Oh?"


Xika berjalan secara perlahan menuju Di Lang. Kemudian di tengah jalan, ia mendadak menghilang dan muncul kembali di hadapan Di Lang dengan kaki yang terangkat.


DUAK!


"Kenyataannya memang begitu, bajingan sialan." Xika berjongkok dan menatap sejajar pada mata Di Lang. "Kalau bukan aku, Yun Xingzhao dan Li Tang yang datang tepat waktu kau dan satu idiot lagi sudah tersingkir dari babak ini sejak lama."


"Brengsek!" Di Lang mengangkat tangannya dan sulur-sulur tumbuhan muncul mengikat tubuh Xika. Kemudian sebuah duri raksasa muncul hendak menyerang Xika, namun mendadak semua sulur beserta duri itu meledak.


"Sampah. Kau ingin mengikatku? Biar kutunjukkan cara yang benar." Xika balas mengangkat tangannya dan membuat gerakan mencengkram. Seketika itu juga Di Lang merasakan tekanan dari berbagai arah tubuhnya. Ia bahkan sampai dipaksa meringkuk saking kuatnya tekanan tersebut.

__ADS_1


"Si....a...l-HK!" Tekanan bertambah semakin kuat sampai mencekik Di Lang.


"Saudara Xing!" Zhen Fang berteriak dan Xika membiarkan Di Lang bernafas, namun masih dalam posisi meringkuk. "Saudara Xing, seperti yang kau katakan sebelumnya, lebih baik kita mengatur strategi untuk mengalahkan lawan daripada bertarung dengan sesama. Bisakah kau melepaskan Saudara Di?"


"Aku minta maaf, Saudara Zhen, tapi menyelamatkan dua idiot ini sungguh menghabiskan waktu dan tenaga. Dan sekarang ia datang dengan idenya yang sempurna untuk membuat kita semua tersingkir. Jadi sampai kita mendapatkan rencana sempurna aku tidak akan melepaskan idiot satu ini."


"Breng......sek....." Di Lang mengumpat dengan susah payah. "KHEK!"


"Bicara sepatah kata lagi dan kupastikan kau tidak akan bisa bernafas lagi." ucap Xika sambil menatap Di Lang dengan tajam.


"Saudara Xing\, tolonglah. Tidak bisakah kau memberiku sedikit wajah? Kita semua harus fokus dalam menyusun rencana dan tentunya pemandangan Saudara Di dalam pose yang *ekhem* tampaknya akan mengganggu."


"Dia benar, brengsek. Cepat lepaskan Di Lang atau kau akan rasakan akibatnya."


Xika menatap Han Feng dalam diam selama dua detik. Di detik ketiga ia mengayunkan tangannya dan melemparkan Di Lang menabrak pohon dengan keras, kemudian tersungkur ke tanah, setelah itu Xika menariknya kembali dan membantingnya ke bawah lalu menduduki Di Lang.


"Baiklah, sudah kulepaskan. Sekarang sebaiknya kita fokus. Saudara Zhen, kau punya ide?" tanya Xika dengan senyum ramah di wajahnya.


"BRENGS-"


Tap!


"Saudara Han, tolong. Biarkan aku bicara dengan Saudara Xing." Zhen Fang menepuk pundak Han Feng. Pria api itu terlihat masih tidak terima tapi ketika ia mendapati rauh wajah serius di wajah Zhen Fang yang belum pernah ditunjukkannya, Han Feng mengangguk mundur.


"Saudara Xing, bisa kau lepaskan Saudara Di? Aku memiliki beberapa hal yang perlu dibahas denganmu."


"Apa kau memiliki perkiraan kasar mengenai kekuatan lawan? Dibanding kita tampaknya kaulah yang paling banyak berurusan dengan kelompok lawan." tanya Zhen Fang setelah keadaan akhirnya tenang.


"Aku sempat mendeteksi kekuatan lawan dan rata-rata merupakan kultivator Forming Qi 9 dengan jumlah 350-an. Sekalipun aku percaya diri dengan kekuatan kelompok kita, tapi tampaknya menerobos benteng lawan bukanlah ide yang bagus."


Zhen Fang mengerutkan keningnya. Ia memang sudah berurusan sekali dengan kelompok lawan tapi ia tidak menyangka jumlah mereka sebanyak itu dan sekuat itu. "Apa pertahanan mereka sekuat itu? Kau tidak menemukan titik lemahnya? Bagaimana kalau kita memberikan serangan menyelinap?"


"Sejujurnya, pertahanan mereka tidak sebagus itu. Dan tidak ada titik lemah, namun kurang lebih kekuatan di seluruh sisi sama. Tapi serangan menyelinap tak akan berguna karena tiap sisi dijaga oleh berbagai kelompok dengan anggota yang paling sedikit berjumlah sepuluh orang. Kecuali kita bisa menjatuhkan sepuluh orang dalam sekejap tanpa menimbulkan keributan, serangan menyelinap tak mungkin."


"Bagaimana kalau kita menyamar? Berpura-pura menjadi salah satu anggota mereka." usul Liang Jihua yang ikut bergabung dalam diskusi.


"Betul! Menyamar! Itu ide yang bagus, kita bisa melakukannya!"


Usulan Liang Jihua itu langsung disetujui oleh Han Feng seolah itulah usulan paling bagus. Yang tentu saja dibalas dengan tatapan risih dan terganggu dari Liang Jihua.


Xika menggeleng. "Mustahil. Mereka sudah menghafal jumlah dan wajah kita. Kalau berkurang satu saja maka mereka akan langsung curiga dan segera mengirim pesan ke kelompok lain untuk memeriksa."


"Kalau begitu........bagaimana kalau kita memecah mereka? Kalau terlalu kuat ketika bersatu, maka pecah saja mereka. Setelah itu baru kita kalahkan mereka sedikit demi sedikit." ucap Zhen Fang setelah diam beberapa saat.


"Itu juga yang kupikirkan sejak awal. Dan aku sudah berusaha melakukannya namun gagal. Bisa dibilang usahaku yang paling sukses adalah menghabisi lima puluh orang bersama Saudara Li.

__ADS_1


Kurasa mereka sadar bahwa mereka lemah bila terpecah, jadi mereka selalu bersatu. Apakah kau menyadarinya Saudara Zhen? Sekalipun kita terluka parah dan membuka celah besar, namun mereka tidak pernah bergerak terlalu jauh dari sarangnya. Paling-paling hanya mengirim beberapa kelompok pengejar. Setelah itu mereka berhenti dan tidak maju lagi.


Hal yang sama juga terjadi ketika aku sedang menyelamatkan dua idiot-ekhem-orang itu. Kurang lebih mereka mengirimkan lima kelompok pengejar dengan perkiraan kasar tiap anggota berjumlah sepuluh orang. Setelahnya, tidak peduli apakah pengejaran itu berhasil atau gagal, mereka berhenti dan tidak mengirimkan kelompok lain."


"Tidak bisa menyerang secara langsung, tidak bisa memecah juga. Kalau begitu apa yang harus kita lakukkan?" tanya Liang Jihua menyimpulkan hasil diskusi mereka.


"Hmm......Saudara Xing, bisa kau jelaskan bagaimana tepatnya markas mereka?" tanya Zhen Fang masih kebingungan menentukan langkah.


"Yah, mereka tidak memiliki bangunan tentunya, mereka hanya berkumpul di sebidang tanah yang cukup luas. Kira-kira luasnya sekitar enam atau lima kilometer. Namun akan cukup berbahaya bila kita berniat mengintai markas mereka, karena berbagai kelompok dan anggota tersebar di mana-mana dalam rentang lima atau enam kilometer.


Sekalipun jarak kelompok satu dan kelompok lainnya tidak terlalu dekat, tapi masih dalam jarak yang dapat dilihat mata. Jadi kalau kita menyerang salah satu kelompok maka kelompok lain pasti akan menyadarinya."


"Hei, anu....kalau misalkan ada sebuah serangan cukup besar dijatuhkan tepat ke tengah-tengah mereka, apakah itu cukup untuk membuat kelompok lawan terpecah belah?" tanya Yun Xingzhao yang sudah bergabung entah sejak kapan.


"Hm, yah mungkin saja." jawab Xika. "Tapi itu tergantung sebesar apa serangan yang diberikan. Dan kalaupun serangan itu berhasil memecah belah mereka, kelompok lawan akan tersebar secara acak. Sekalipun kita berjaga di tiap sisi, pasti tidak akan merata."


"................"


Hening. Suasana kembali tenang. Kali ini tak ada yang bicara. Semua sibuk memikirkan rencana lain yang lebih baik tapi tak berhasil. Sampai pada akhirnya Xika angkat suara.


"Yah, kurasa...........itu rencana terbaik yang kita miliki saat ini. Bagaimana menurutmu, Saudara Zhen?"


Setelah menghela nafas penuh perhitungan, Zhen Fang menjawab, "Tampaknya kau benar, Saudara Xing. Hanya ini rencana yang kita miliki saat ini. Kalau tidak ada yang keberatan, maka sebaiknya kita kembali beristirahat. Ketika semuanya sudah memulihkan luka dan energi masing-masing, disaat itulah kita akan menyerang mereka."


"Tunggu dulu! Jangan bilang kalian semua sepakat dengan idenya?" Ucap Han Feng sambil menunjuk Xika.


"Itu benar, Saudara Han. Apa ada masalah? Atau mungkin kau memiliki rencana yang lebih baik?" ucap Zhen Fang.


"Aku tidak ada masalah dengan rencananya, tapi siapa yang tahu apa yang ia sembunyikan?"


"Saudara Han, apa maksudmu?"


"Begini, Saudara Zhen. Kau ingat bahwa kita sebelumnya masih mencari anggota dan salah satu kandidat utamamu adalah peserta dari Akademi, bukan? Kita semua bersusah payah mencarinya namun tidak menemukannya.


Kemudian ketika kedua elder menyerang, rencana berubah dan pencarian terhadap peserta Akademi itu dibatalkan. Setelah beberapa saat, yang tersisa hanya tinggal kita dan kelompok lawan yang terdiri dari sekte kecil dan menengah.


Kurasa satu-satunya asumsi yang kita miliki saat itu adalah peserta Akademi itu telah tersingkir, bukan?


Namun tidakkah menurutmu itu aneh, Saudara Zhen? Peserta yang berasal dari Akademi kalah di rumahnya sendiri?"


"Ya.......itu memang cukup aneh, tapi kurasa itu bisa saja terjadi bukan?"


"Pada saat  itu, aku mulai berpikir, bagaimana kalau sebenarnya peserta Akademi itu menipu kita dan berpura-pura telah tersingkir padahal sebenarnya belum? Bagaimana jika peserta Akademi itu memang sudah ada bersama kita hanya saja kita tidak menyadarinya?"


"Tunggu. Saudara Han, maksudmu Saudara Xing adalah......"

__ADS_1


"Tepat sekali, Saudara Zhen. Xing Xika, dialah peserta yang berasal dari Akademi!" ucap Han Feng sambil menyeringai.


__ADS_2