Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-227


__ADS_3

Xika berjalan kembali dari Gedung Utama dalam diam. Ia masih memikirkan serangan Jing Wei sebelumnya. Meskipun banyak orang sudah menganggapnya kuat karena berhasil mengalahkan Hua Zhantian, ia masih merasa lemah. Kekalahan Hua Zhantian hanyalah keberuntungan.


Salah satu teknik terkuatnya adalah simbol elemen. Biasanya, simbol itu menjadi serangan sekaligus pertahan yang bagus. Sayangnya, simbol tersebut tidak mampu bertahan barang sebentarpun ketika diserang oleh Jing Wei. Tentu saja, ada banyak alasan.


Ia hanyalah seorang murid, sementara Jing Wei adalah Kepala Akademi. Dia berada di Foming Qi 6 sementara Jing Wei berada entah di tingkat apa. Ia baru berusia belasan tahun sementara Jing Wei mungkin saja sudah berusia puluhan tahun. Jing Wei memiliki lebih banyak pengalaman dibanding dirinya. Semua itu alasan yang masuk akal.


Tapi alasan hanya untuk orang lemah. Ia tak mau menjadikan alasan itu sebagai hambatannya untuk bertambah kuat. Kalau setiap kali ia kalah ia berpikir 'Tentu saja aku kalah, dia lebih tua, lebih hebat dan lebih berpengalaman dariku' maka dirinya tak akan pernah bertambah kuat.


Selagi Xika berpikir, Huo Bing dan Heiliao saling berbisik di belakangnya. Mereka mencapai kesepakatan entah apa lalu berubah. Huo Bing berubah menjadi burung dan hinggap di bahu Xika sementara Heiliao melebur ke dalam bayangan Xika.


Xika tak terlalu memperhatikan sekitarnya jadi ia tidak sadar bahwa Huo Bing dan Heiliao sudah tak lagi berjalan di sampingnya. Ia baru sadar akan sekelilingnya ketika ia sudah dikepung oleh gadis-gadis berbaju hijau dan beranting pisau.


Salah seorang gadis itu maju dan Xika mengenalinya. Lu Bei.


Ia menghela nafas lelah. Apa yang gadis ini ingin lakukan? Apa ia ingin membalas dendam pada Xika karena sudah mengalahkan Hua Zhantian yang harusnya gadis itu kalahkan?


"Kudengar kau mengalahkan Hua Zhantian dengan telak."


"Yah, tidak juga. Apa kau kesini karena itu? Hendak membalasku karena telah mengalahkan Hua Zhantian?"


"Begitulah," jawab Lu Bei. Aneh. Biasanya ia bicara sambil memberikan senyum menggoda sebelum mencabik-cabik mangsanya. Tapi kali ini tak ada senyuman di wajahnya.


Lu Bei memberi tanda pada seluruh gadis yang bersamanya. Xika langsung siaga. Tubuhnya tidak dalam kondisi yang baik untuk bertarung saat ini. Ia menoleh ke belakang dan baru menyadari bahwa Huo Bing dan Heiliao tak lagi bersamanya.


Tepat ketika Xika berpikir Lu Bei akan menyerangnya, gadis itu melakukan sesuatu yang mengejutkannya. Gadis itu membungkuk kepadanya. Bukan. Bukan cuma gadis itu. Tapi juga seluruh gadis yang bersamanya. Mereka semua membungkuk kepadanya.


Xika terdiam kebingungan. Apa ini sejenis taktik bertarung yang baru? Membungkuk untuk menghormati lawan sebelum menghabisinya?


"Terima kasih."


"Apa?"


Kalau ini sejenis taktik bertarung, Lu Bei mempraktikkannya dengan baik.


"Terima kasih sudah membalaskan dendam kami."


Xika mengerutkan alisnya. Ia mencerna baik-baik kalimat Lu Bei.


"Kami?"


"Kami. Semua gadis yang bersamaku saat ini memiliki........masa lalu yang kelam dengan Hua Zhantian. Kami berterima kasih padamu karena telah mengalahkannya."


Xika bingung harus menjawab apa. 'Sama-sama' tampaknya kurang tepat karena ia menghabisi Hua Zhantian murni karena keinginannya sendiri, bukan karena gadis-gadis ini.


Lu Bei beserta gadis-gadis lain mengangkat kepalanya dan melihat raut wajah Xika yang penuh kebingungan dan masih tersirat kewaspadaan.


"Tenang saja. Ini bukan tipuan." ucap Lu Bei sambil tersenyum. "Terlepas dari apa motifmu menghabisi Hua Zhantian, tetap saja kau menghabisinya. Dan kami berterima kasih karena hal itu."

__ADS_1


"Eh......sama-sama?"


"Ke depannya, aku tak akan menyerangmu lagi ketika bertemu. Begitu juga dengan teman-temanku. Sengaja atau tidak, kau telah membantu kami. Suatu hari nanti, kami akan membalas budi ini."


Setelah mengatakan itu Lu Bei pergi bersama dengan gadis-gadis hijau itu. Tanpa serangan, tanpa pisau melayang, tanpa cakar tajam. Hanya ucapan terima kasih.


Xika menggaruk kepalanya selama beberapa saat, masih bingung dengan apa yang terjadi. Kemudian akhirnya ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.


Ia menoleh ke samping dan melihat burung dwiwarna yang masih setia bertengger di bahunya.


"Burung Setengah Matang sialan! Kau sengaja berubah menjadi burung karena tahu mereka akan datang ya? Kutebak rencanamu untuk membiarkanku bertarung dengan mereka tidak berhasil?"


"Begitulah, kurang lebih." jawab burung sialan itu.


"Di mana Heiliao? Ia juga memiliki niat yang sama denganmu?"


Bayangan Xika berdesir dan terdengar geraman persetujuan.


Xika berdecak kesal.


"Lagi? Kenapa? Untuk membuatku kuat?"


"Tepat. Kaupikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan di jalan tadi? Tendangan Jing Wei itu masih membekas di kepalamu bukan? Aku memiliki beberapa motivasi untuk menyemangatimu, tapi tampaknya itu hanya akan terdengar seperti alasan. Jadi sebaiknya aku membantumu secara langsung saja daripada memberikan omong kosong tak berguna."


"Dengan membiarkanku bertarung sendirian melawan puluhan gadis gila bergaun hijau sementara tubuhku masih belum pulih sepenuhnya?"


"Sayangnya, ini masih di Akademi. Dimana pembunuhan dilarang. Bukan dunia luar."


"Memang bukan. Tapi ini bisa menjadi tempat latihan yang sempurna untukmu."


Xika menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa mendebat Huo Bing lagi. Ia melangkah menuju Halaman Utama. Beberapa saat yang lalu, ia baru mengetahui ternyata ada tempat khusus di mana para murid bisa bertarung satu sama lain dengan bebas. Dan letaknya tidak jauh dari Halaman Utama.


"Ah! Xingli!"


Butuh beberapa saat bagi Xika untuk menyadari bahwa dirinyalah yang dipanggil. Ia menoleh dan menemukan pria yang menanyakan keberadaan dirinya beberapa waktu lalu sebelum ia bertarung dengan Hua Zhantian. Pria yang mengenakan seragam dengan lambang aliran air tertera di atasnya.


"Hei, aku mendapat kabar mengenai Xing Xika beberapa saat yang lalu. Kabarnya ia mengalahkan Murid Dalam nomor satu? Hua siapalah itu namanya. Hebat ya?"


"Yah, begitulah." jawab Xika asal.


Huo Bing yang berbentuk burung kecil dengan dua warna menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Xingli, tidak sadar bahwa Xika-lah yang dimaksud pria itu.


"Kira-kira dia kemana ya? Setelah mengelahkan Hua Zhantian."


"Entahlah." jawab Xika tak peduli.


"Wah! Apa itu peliharaanmu? Indah sekali! Di mana kau membelinya?" ucap pria itu secara tiba-tiba sambil menunjuk Huo Bing.

__ADS_1


Xika mengikuti arah jari pria itu dan melihat Huo Bing yang pria itu maksud. Seketika dirinya tersenyum lebar.


"Benar. Ini adalah peliharaanku! Aku tidak membelinya. Aku menemukannya di hutan saat sedang sekarat." Xika mengatakan 'peliharaanku' dengan cukup keras seolah ingin semua orang mengetahuinya.


"Halo!" ucap pria itu hendak menyentuh Huo Bing. Tapi Cygnix itu langsung mematok jari yang mendekat itu dengan amat kesal.


"Aw! Dia cukup galak ya. Apa kau kesulitan menjinakannya?"


"Begitulah. Dia kurang ramah dengan orang asing."


"Oh! Benar juga!" Pria itu mengerti maksud Xika. "Maafkan aku. Aku lupa memperkenalkan diriku." Ia menyodorkan tangannya, "Aku Liu Shang."


Xika berjalan begitu saja mengabaikan tangan Liu Shang. "Aku sudah pernah memperkenalkan diriku (meskipun bohong)." ucap Xika sambil berlalu.


Melihat Xika yang berjalan pergi, Liu Shang kembali mengejarnya.


"Ah, hei! Xingli, apa kau tidak pernah melihat Xing Xika sebelumnya?"


"Pernah beberapa kali."


Huo Bing mengernyitkan alisnya mendengar Liu Shang memanggil Xika sebagai Xingli. Ia bertanya-tanya kepala siapa yang bermasalah, Xika atau Liu Shang.


"Seperti apa penampilannya? Bagaimana sikapnya? Apakah ia sombong seperti jenius lainnya? Atau ia berbeda?"


Jujur, Xika merasa tersanjung dipandang setara dengan jenius, padahal beberapa tahun yang lalu dirinya hanyalah sampah yang tak bisa berkultivasi. Tapi kemudian ia teringat Tian Yin, dan pastinya pria itu disebut jenius juga, jadi ia tak jadi merasa senang. Lebih baik ia disamakan dengan sampah daripada jenius seperti Tian Yin.


"Entahlah. Aku tak terlalu memperhatikannya."


Xika tidak bohong. Ia memang jarang memperhatikan sikap atau penampilannya.


"Begitu ya...." Liu Shang berjalan sambil mengangguk-ngangguk. Meskipun begitu, ia tetap mengikuti Xika.


Akhirnya ia sampai di arena pertarungan. Xika menyebutnya begitu karena tak ada papan nama atau semacamnya di tempat itu. Hanya ada beberapa platform semacam panggung dimana para murid sedang bertarung.


"Wah! Tempat apa ini?"


"Semacam arena pertarungan yang legal."


"Wow!"


Liu Shang melihat sekelilingnya dengan kagum. Xika berusaha untuk tidak terlihat seperti itu sekalipun ini juga pertama kalinya ia datang ke tempat ini. Ia bermaksud pergi perlahan sementara Liu Shang sedang mengagumi tempat ini. Tapi begitu ia mengangkat kakinya, Liu Shang kembali memanggilnya. Memanggil Xingli sih, sebenarnya.


"Xingli! Kau bilang ini tempat pertarungan yang legal bukan? Apa ada syarat khusus untuk bisa berpartisipasi di sini?"


"Entalah. Tampaknya tidak." jawab Xika. Ia sendiri juga baru tahu keberadaan tempat ini beberapa saat yang lalu dan tidak tahu-menahu sama sekali tentang peraturan yang ada di tempat ini.


"Begitu ya. Bagaimana kalau kita bertarung? Kau dan aku. Ada yang bilang kau tidak akan mengenal seseorang sampai kau bertarung dengannya. Bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2