Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-229


__ADS_3

Di tengah keheningan itu, suara tepukan tangan Liu Shang terdengar sangat jelas. Orang-orang memandangnya dengan aneh, tapi tak ada yang ikut bertepuk tangan.


"Anu......sebenarnya di tingkat berapa kultivasi pria tersebut?" tanya Xika pada seseorang yang berdiri tidak jauh dari arena.


"Eh?" Pria tersebut terkejut. Ia masih tidak percaya Xika yang hanya seorang Bocah Antah Berantah berhasil mengalahkan Ma Dong yang sudah bertahun-tahun bertarung di arena ini. Tapi melihat busa yang keluar dari mulut Ma Dong, sudah jelas bahwa Ma Dong memang kalah.


Apalagi Pengawas Arena tidak mengatakan apa-apa yang berarti bocah di depannya ini memang menang secara jujur. Dan ketika pemikiran itu datang, caranya menatap Xika mendadak berubah. Di matanya, Xika tak lagi seorang Bocah Antah Berantah, melainkan seorang monster yang menyamar dalam wujud manusia.


"T-tingkat 7......"


Mendengar jawaban pria itu, Xika mengernyit bingung. Tapi pria itu mengira Xika tidak puas dengan jawabannya, jadi tanpa berkata apa-apa lagi ia berlari pergi secepat mungkin.


"Aneh. Bukannya aku juga di tingkat 7? Kenapa serangan pria tadi tidak berdampak apapun padaku?"


"Bocah, kau tidak menyamakan dirimu dengan kultivator biasa bukan? Kau ini satu-satunya manusia yang memiliki banyak dantian."


"Eh? Benarkah? Aduh, aku jadi malu hehehe......"


"Bocah sialan! Aku tidak bermaksud memujimu. Yang kumaksud adalah tingkatmu berbeda dengan kultivator seperti pria barusan. Apalagi kau sudah menghadapi Hua Zhantian yang berada di puncak Forming Qi. Tentu saja hanya Foming Qi 7 belaka tidak akan bisa melakukan apapun padamu."


"Iya, iya. Jadi maksudnya aku memang spesial kan? Terima kasih, sungguh."


Di seberang arena, urat-urat muncul di sekitar leher Huo Bing. Bagi yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira burung itu sedang berusaha buang air besar.


Ketika pria yang Xika tanyai sebelumnya pergi, orang banyak mulai pulih dari keterkejutan mereka. Dan bisik-bisik tak percaya langsung terdengar. Semuanya sepakat bahwa Xika menang murni karena keberuntungan. Ma Dong terlalu meremehkan Xika makanya ia kalah. Mungkin Xika lebih kuat dari kelihatannya, tapi tetap saja ia tak mungkin bisa menang melawan Ma Dong bila bertarung dengan adil.


Dengan pemikiran seperti itu, bisik-bisik mulai berubah menjadi teriakan yang menghina Xika karena sudah berbuat curang.


"Bodoh! Curang apanya? Kalau ia kalah karena tidak waspada, itu salahnya sendiri. Jangan menyalahkan Xingli, dong!"


Liu Shang berteriak di tengah kerumunan. Tapi suaranya tertutup oleh hinaan-hinaan yang ditujukan pada Xika.


Pengawas Arena sendiri tidak melakukan apa-apa melihat penonton yang mulai berisik. Ia hanya menanyakan siapa lagi yang ingin menantang Xika dan mempersilahkan mereka untuk maju ke arena.


"Aku! Aku yakin Ma Dong kalah karena ia kurang waspada. Biar kutunjukkan tempatmu yang sebenarnya pendatang baru!"


"Aku juga! Aku tak bisa diam saja melihat pendatang baru duduk dengan sombong di atas arena!"


"Aku akan membalas kekalahan Ma Dong!"


Para penonton mulai ribut. Sebagian di antaranya adalah kultivator yang memang memiliki beberapa kemampuan. Dan mereka mulai berebut maju untuk mengalahkan Xika dan memberinya pelajaran.


Pengawas Arena menunjuk seorang pria bertombak. Ia yang pertama kali mengajukan diri untuk menantang Xika. Pria itu maju disertai sorak sorai dukungan untuknya.


Setelah Pengawas Arena memberikan aba-aba, pria bertombak itu langsung menerjang maju. Ia menusukkan tombaknya beberapa kali dan semuanya mengicar titik vital Xika.


Xika hendak membuat semacam pelindung angin ketika ia teringat perkataan Heiliao yang melarangnya menggunakan Qi di luar tubuh. Jadi ia menghindari tombak pria itu sambil sesekali menangkis dengan memukul bagian tongkatnya.


"Heh. Bagaimana? Tidak terlalu hebat setelah kemampuanmu terbongkar?"


Xika memilih untuk mengabaikan pria bertombak itu. Ia menutup matanya sesaat. Kemudian ketika membukanya lagi, tangannya sudah menggenggam sebuah tongkat.


Tongkat tersebut terbuat dari qi dan tidak jelas elemen apa yang terkandung di dalamnya. Xika memang sengaja seperti itu. Ia membuat tongkat murni dengan qi nya saja, tidak menambahkan elemen apapun. Ia berusaha untuk tidak menampilkan kekuatannya sedikitpun.


Ketika melihat tongkat yang dipegang Xika, pria bertombak itu terkejut. Beberapa saat yang lalu jelas Xika tidak memegang apa-apa. Tapi dalam waktu sesingkat itu ia bisa membuat tombak hanya menggunakan qi-nya? Firasat lelaki itu mengatakan bahwa kekalahan Ma Dong bukan karena keberuntungan. Tapi ia menolak untuk mewaspadai bocah di depannya ini.


Pria itu mengeratkan pegangannya pada tombaknya. Ia memutar tombaknya beberapa kali sebelum kembali menyerang Xika.


Kali ini bahkan sebelum pria itu berhasil mendekat, Xika sudah menangkis serangannya. Ia memutar tongkatnya dan menggunakan bagian yang berlawanan untuk menyodok dagu pria bertombak itu. Pria itu menghindar tapi serangan Xika masih berhasil menyerempet pipi pria itu.


Pria bertombak itu langsung menepis tongkat Xika dan menusuk Xika dengan bagian belakang tombaknya. Kemudian, adu serangan antara tongkat dan tombak terjadi.


Seharusnya, pria itu memiliki keuntungan dalam hal jarak karena biasanya tombak lebih panjang sedikit dibanding tongkat karena memiliki mata tombaknya. Tapi Xika membuat tongkatnya agar sama panjangnya dengan tombak lawannya, jadi keuntungan jarak itu dihapuskan.


Sisanya, hanya tergantung dengan kemampuan masing-masing menggunakan senjatanya. Mata tombak pria itu mulai terbakar.


"Tampaknya aku harus serius." ucapnya menggertak.


"Bagus, Luo Han! Beri dia pelajaran!"


Pria itu kembali memutar-mutar tombaknya hingga membuat beberapa lingkaran api secara sekilas. Tidak mau kalah, Xika juga memutar-mutar tongkatnya sambil berusaha mencari celah dari musuhnya. Kelihatannya, Xika memang hanya memutar tongkat biasa, tapi samar-samar, tiap kali tongkat Xika berputar, udara seolah bergerak menjauh.

__ADS_1


TAK!


WUS!


SYUT!


BUK!


Ketika tongkat Xika dan tombak pria itu saling beradu, perlahan-lahan api yang menyala-nyala di mata tombak tersebut mulai meredup.


"A-apa?!" Pria itu terkejut melihat apinya yang mulai meredup. Tak peduli berapa banyak qi yang ia berikan, api di mata tombaknya menolak untuk membesar. Ia menggertakkan giginya. Ia tak bisa kalah disini. Tidak pada seorang Bocah Antah Berantah yang menang hanya karena keberuntungan.


"HEAH!"


Ia menerjang dengan segenap kekuatannya, berharap dapat melukai Xika dan mengalahkannya dalam satu gerakan. Sayangnya, Xika memiringkan badannya dengan mudah dan menyandung kaki pria itu. Kemudian ia memberikan tusukan terakhir dan pria itupun jatuh keluar arena.


Bruk!


"E-eh?!" Pria itu bingung melihat dirinya sudah tak lagi di arena. Dan ucapan Pengawas Arena berikutnya berhasil membuatnya histeris.


"Luo Han kalah! Siapa lagi yang berniat menantang?"


"TIDAK!"


Beberapa orang menepuk-nepuk punggung Luo Han berusaha menghiburnya tapi pria itu masih menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Aku menolak mengakui ini! Kau pasti curang!"


Pengawas Arena mengernyit mendengar ucapan Luo Han.


"Maksudmu aku berlaku tidak adil? Atau maksudmu aku tidak kompeten sehingga tidak bisa melihat kecurangan yang berlangsung di depan mataku sendiri?"


"Ti-tidak......tapi....."


Tap!


Seorang gadis menepuk pundaknya.


"Tenang. Aku akan mengalahkannya untukmu."


"Aku, Luo Shan, menantangmu!" ucap gadis itu sambil memandang Xika.


Normalnya dalam situasi seperti ini Xika akan menjawab tantangan gadis itu sambil menyebutkan namanya juga. Tapi kalau Xika menyebut namanya sekarang, Liu Shang akan tahu siapa dirinya dan itu tidak akan seru. Jadi Xika hanya menunduk sopan sambil menggerakkan tangannya mempersilahkan gadis itu menaiki arena.


Set!


Luo Shan melompat ke arena. Ia menatap Xika dengan garang.


"Kau tidak layak mendapatkan perhatian sebanyak ini. Kau tidak layak mengalahkan kakakku. Tidak seharusnya pendatang baru berdiri di sini. Aku akan mengajarimu di mana tempatmu yang sebenarnya."


Gadis itu teringat dengan pengalamannya pertama kali mengikuti pertarungan di arena ini. Karena di arena ini hampir tidak ada peraturan, ia kalah di pertandingan pertamanya dengan menyedihkan. Yang bisa berdiri di arena itu hanyalah seorang veteran yang telah bertarung berkali-kali hingga layak memandang semuanya dari atas.


Xika yang hanya seorang pendatang baru sama sekali tak pantas berada di atas sana. Ia harus mengalahkan Xika secepatnya dan mengembalikan pria itu ke bawah, tempat dimana ia seharusnya berada.


Syut!


Dari cincin spasialnya, Luo Shan mengeluarkan sebilah pedang yang cukup menawan, serasi dengan penampilannya.


"Biarkan pedangku yang mengirimmu kembali ke tempatmu." ucap gadis itu dengan keinginan membara.


Xika hanya menatap Luo Shan dalam diam. Ia mencengkram tongkatnya cukup kuat, kemudian tongkatnya berubah menjadi pedang dengan panjang yang sama dengan pedang Luo Shan.


"Ukh!" Gadis itu terlihat kesal karena Xika merubah senjatanya menjadi sama dengannya.


"Huh! Yang palsu tidak akan bisa mengalahkan yang asli! Kita lihat seberapa kuat dirimu berhasil mempertahankan pedang itu."


Xika memutar-mutar pedangnya tidak menjawab. Ia tidak tega memberitahu gadis itu bahwa ia bisa membuat puluhan pedang seperti ini seharian. Karena dantiannya lebih banyak daripada orang biasa, kapasitas qi yang dimilikinya melebihi rata-rata qi yang dimiliki para kultivator.


"Hiah!"


Gadis itu menendang lantai dan langsung menebaskan pedangnya. Ia tidak berhenti setelah melihat Xika berhasil menghindari serangannya. Pedangnya terus berayun kesana kemari berharap dapat mengenai Xika.

__ADS_1


Xika harus mengakui bahwa Luo Shan ini lebih hebat dari kakaknya. Gadis itu menyerang dengan baik dan hanya memiliki sedikit celah. Tapi Xika juga bukan orang biasa. Di antara sekian banyak senjata, tongkatlah yang paling sering ia gunakan.


Tapi pedang adalah senjata yang paling umum di kalangan kultivator. Keahlian berpedangnya tidak kalah dengan keahliannya memainkan tongkat.


Setelah menerima serangan beberapa kali (Xika berusaha memberi wajah pada gadis itu dengan menerima serangannya beberapa kali tanpa memberikan balasan), Xika mulai membalas.


TRING!


TRANG!


WUSH!


SING!


Luo Shan hampir tidak berhasil menghidari serangan Xika. Rambutnya terpotong beberapa helai dan itu membuatnya semakin kesal.


"Hei! Kau tidak tahu ya rambut itu nyawa seorang wanita?! Berani-beraninya kau memotong rambutku!"


'Kalau tidak mau rambutmu terpotong, ya jangan bertarung.' Xika ingin sekali mengatakan itu. Tapi sepertinya itu hanya akan membuat Luo Shan tambah kesal dan menggila. Pada saat itu akan semakin sulit mengalahkannya tanpa memberinya luka parah.


Sejujurnya, Xika berusaha mengalahkan gadis ini tanpa melukainya sedikitpun. Tapi itu cukup sulit karena gadis ini menyerangnya dengan ganas. Kalau ia tidak menggunakan pedang, pasti Luo Shan akan protes dengan alasan tidak menghormati wanita atau semacamnya.


Ia cukup tergerak melihat Luo Shan maju untuk membalaskan dendam saudaranya. Tentu saja, gadis itu menyebalkan karena terus-menerus berkata Xika tidak layak berdiri di sini, tapi ia menghargai ikatan persaudaraan mereka. Itulah sebabnya ia berusaha mengalahkan Luo Shan tanpa melukainya.


Luo Shan kembali menyabetkan pedangnya, tapi lagi-lagi ia hanya berhasil menebas angin. Xika berhasil menghindar dengan gesit, membuat gadis itu frustasi karena tidak berhasil menyentuhnya sama sekali. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyentuh pedang Xika.


"Sialan! Bukankah kau seorang laki-laki? Apa kau hanya tahu cara menghindar?"


Gadis sialan, umpat Xika dalam hati.


Ia mulai bergerak maju. Ia merubah sedikit keputusannya, luka sedikit tak apa untuk mengalahkan gadis itu. Pedang Xika kembali bergerak, kali ini dengan cara yang berbeda.


Luo Shan yang terkejut dengan perubahan gaya bertarung Xika tak mampu menahan rentetan serangan Xika. Luka gores terlihat cukup banyak di sekitar kulitnya. Tiap kali pedang Xika menggores Luo Shan, para penonton menyorakinya 'Boooo'.


"Hei! Kau ini harusnya bersikap lembut pada seorang gadis. Bagaimana bisa kau menyerangku dengan ganas seperti itu?"


'Dasar sinting!' Kini Xika tak lagi berniat menahan diri. Ia tak peduli lagi apakah gadis itu terluka atau tidak. Malahan, ia ingin sekali menjahit mulut gadis itu.


Bukannya melembut, serangan Xika malah semakin ganas. Bagi Luo Shan, serangan Xika tampak seolah datang dari segala arah. Karena gerakan Xika yang cepat, Luo Shan jadi bingung di mana Xika berada. Tanpa sadar, gadis itu memberikan punggungnya pada Xika.


'Bersyukurlah karena aku tak melukaimu cukup parah.' bisik Xika dalam hatinya sebelum menendang punggung Luo Shan keras-keras dan menjatuhkan gadis itu keluar arena.


Bruk!


"Aduh!" Luo Shan mengerang. Kemudian ia melihat sekelilingnya sambil melebarkan matanya, ekspresinya lebih sedap dilihat dibanding kakaknya, "Dasar menjijikan! Kau ini pria atau bukan? Beraninya kau menyerang dari belakang! Dan lagi, menendang punggung seorang gadis! Apa itu hal yang pantas dilakukan oleh seorang lelaki?"


Xika sudah menduga bahwa Luo Shan akan kembali menyemburnya dengan mulut pedas gadis itu. Jadi setelah menendang Luo Shan, Xika membalikkan tubuhnya dan menulikan telinganya.


Huo Bing, yang sudah berubah kembali menjadi manusia, melirik gadis itu dengan kesal kemudian bicara.


"Gadis sinting, sebaiknya kau menggunakan pedangmu lebih sering daripada mulutmu."


Sebelum Luo Shan sempat menjawab, sebuah suara merdu nan menggoda terdengar dari belakangnya dan membuat gadis itu menyungginggkan senyum lebar.


"Astaga~ Itu bukanlah hal yang pantas diucapkan pada seorang gadis, kau tahu."


"Hu Jie!" ucap Luo Shan girang.


Qing Hu berjalan dengan santai tapi berhasil menarik banyak perhatian. Huo Bing menatapnya dengan malas. Ia bertanya-tanya sebelumnya, siapa yang mengajari gadis ini hingga kepalanya bermasalah, rupanya rubah sinting ini.


-------------------------------------------------


Author note:


"Hu Jie!" di sini berarti Kak Hu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jiejie (姐姐) artinya adalah kakak perempuan. Panggilan ini dapat digunakan baik oleh pria maupun oleh wanita.


Saya ingin sedikit menginformasikan, setelah melihat beberapa bab lalu saya menemukan ada yang berubah. Penggunaan huruf miring atau italic kadangkala suka eror. Mohon maaf, saya juga baru tahu. Sepertinya masalah ini memang dari pihak mangatoon.


Beberapa kalimat yang saya tulis menggunakan huruf miring berubah menjadi tanda bintang (*).


Contohnya: Card Cultivation System.

__ADS_1


Namun berubah menjadi: *Card Cultivation System*


Jadi mohon dimengerti bila ada kalimat yang menggunakan tanda bintang, itu artinya menggunakan huruf miring. Saya sudah berusaha memperbaiki beberapa, tapi sepertinya masih ada yang terlewat. Ke depannya, saya akan berusaha lebih baik lagi. Terima kasih telah mendukung Card Cultivation System sampai saat ini.


__ADS_2