
Ular itu bergerak dengan gelisah. Jaraknya sudah tidak jauh lagi dengan gerbang buatan Xika. Ia berusaha keras untuk melepaskan diri, atau setidaknya berhenti mendekati gerbang itu.
Tapi tali yang mengikatnya berasal dari pikiran Xika. Dan saat ini Xika tidak goyah sedikitpun, jadi ia tidak bisa melepaskan diri. Lagipula energi jiwanya sudah tinggal sedikit jadi tidak banyak perlawanan yang bisa ia lakukan.
Ular itu semakin dekat dan semakin dekat dengan gerbang Xika. Sementara itu, wajahnya semakin memburuk tiap detik.
Tepat di pinggir gerbang itu, ular itu berhenti. Kali ini pikirannya sangat kuat jadi tali pikiran Xika tidak bisa membawanya ke sana.
"Hm? Kenapa kau berhenti? Ayo maju!"
Kemudian setelah mengatakan itu, Xika menendang ular itu hingga masuk ke dalam gerbangnya.
Duak!
Whusshh!
Selama beberapa detik, gerbang Xika menyala dengan sangat terang. Kemudian setelah sinarnya meredup, ular itu tidak terlihat di manapun.
Ketika Xika masih menoleh ke kiri dan kanan mencari ular itu-hal yang sangat bodoh karena ini adalah alam jiwanya sendiri-berbagai gambar muncul.
Sepertinya gambar-gambar itu adalah ingatan dari jiwa ular tua yang Xika serap tadi. Tapi ada sesuatu yang mengganggu Huo Bing.
"Tunggu dulu," katanya, "Kalau memang benar ini adalah ingatan ular sialan itu, tidakkah ini terlalu sedikit?"
"Apa maksudmu?" tanya Xika yang tidak mengerti.
"Ular itu harusnya sudah hidup selama beberapa ratus tahun. Kenapa memori yang terlihat hanya sedikit? Aku berani bertaruh ini bahkan tidak sampai seperempat dari hidupnya."
"Benar juga."
Heiliao juga mulai menyadarinya. Apa yang dikatakan Huo Bing masuk akal. Gambar yang ia tunjukkan pada Xika waktu pertemuan pertama mereka saja jauh lebih banyak dibanding gambar yang ada saat ini.
"Hmmm........."
Xika berpikir sebentar.
"Apa mungkin.........karena yang kita serap tadi hanya sebagian kecil jiwanya jadi memori yang ada juga hanya sebagian kecil?"
Huo Bing dan Heiliao diam. Mereka berpikir sebentar.
"Sepertinya hanya itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal."
"Kalau begitu, apa kita bisa memberi energi pada formasi itu untuk membangkitkan jiwanya, kemudian kita serap untuk mengambil memorinya?"
"Sepertinya tidak bisa. Mungkin kehilangan memori ini juga salah satu efek samping dari formasi yang digunakannya. Kebanyakan formasi jahat biasanya memiliki konsekuensi yang jahat juga."
Xika mengangguk-angguk. Kemudian ia tersadar sesuatu.
"Tunggu. Kalau begitu, tidakkah teknik yang diberikan Heiliao juga memiliki efek samping?"
"Benar juga."
Huo Bing dan Heiliao juga baru ingat akan hal itu.
"Kira-kira apa efek sampingnya ya? Apa mungkin jomblo selamanya?" tanya Huo Bing sambil menakut-nakuti Xika.
"Sialan! Jangan bercanda!"
Kemudian Heiliao menatap ke satu sosok.
"Sepertinya itu."
"Apa?"
"Efek sampingnya."
Xika dan Huo Bing mengikuti arah pandangan Heiliao. Dan mereka menemukan kabut hitam yang membentuk sosok samar.
"Apa itu?"
"Mungkin energi negatif yang tertinggal dari jiwa yang tidak rela meninggal."
__ADS_1
"Apa itu berbahaya?"
"Mungkin."
"Bisakah ia melukaiku?"
"Mungkin."
"Dengan adanya kalian berdua?"
""Tentu saja tidak mungkin!"" jawab keduanya bersamaan. Kemudian serigala dan burung itu saling pandang selama beberapa saat sebelum mengalihkan pandangan mereka pada kabut hitam yang mendekat.
"Apa sosok itu bisa dikalahkan? Atau dimusnahkan?"
"Tidak ada yang tidak bisa dikalahkan." jawab Huo Bing dengan percaya diri diikuti anggukan setuju Heiliao.
"Termasuk kalian berdua?"
"Tentu saja tidak!" Keduanya berbicara dengan nada yang lebih keras tapi dalam waktu yang bersamaan.
Xika menggaruk-garuk kepalanya. Cukup aneh melihat burung dan serigala ini bisa menyetujui hal yang sama. Biasanya mereka selalu memiliki pandangan yang berlawanan.
Kemudian Xika membayangkan pedang Bai Feng. Tapi kali ini dengan ukuran yang lebih kecil sehingga terlihat seperti pisau.
Ia melemparkannya ke kabut itu.
Pisau itu mengenai kabut itu. Tapi sosok itu tidak terlihat terluka atau kesakitan. Pisau yang dilemparkan Xika hanya menembus tubuhnya seperti itu saja.
Xika saling pandang dengan Heiliao dan Huo Bing. Kemudian ia mengambil kartunya.
Ia melempar satu kartunya menuju sosok yang terbuat dari kabut itu.
Whush!
Kartu Xika menembus sosok itu juga, tapi kali ini ia kelihatan kesakitan. Ketika Xika hendak melempar kartu berikutnya, Huo Bing menghentikannya.
"Tunggu. Kau sudah mencoba kartumu dan itu terbukti berhasil. Benda itu bisa melindungi dirimu. Jadi aku mau mencoba api dan esku juga."
Huo Bing membuka mulutnya kemudian keluarlah hawa beku yang mengarah menuju kabut-kabut hitam itu.
Beberapa bagian dari kabut itu yang terkena hawa dingin Huo Bing berubah menjadi kaku kemudian membeku. Setelah itu pecah berkeping-keping kemudian menguap.
Huo Bing mengangguk melihat esnya berhasil. Sekarang ia ingin mencoba apinya.
Ia kembali membuka mulutnya, tapi kali ini yang keluar adalah semburan api. Apinya mengenai setengah dari kabut itu dan langsung menguap terbakar.
Huo Bing tersenyum puas melihat serangannya berhasil. Ia berdiri dengan ekspresi yang sombong.
Tanpa ia sadari, Heiliao juga mencoba serangannya. Serigala itu berjalan sampai cukup dekat dengan kabut itu. Kemudian ia membuka mulutnya dan mneyerap kabut hitam itu sampai tak bersisa.
Ketika Huo Bing menoleh dan menemukan Heiliao yang sedang mengisap kabut hitam itu, senyumnya membeku.
Selesai menghisap, Heiliao berbalik dan menatap Huo Bing dengan ekspresi meremehkan.
Melihat Huo Bing yang hendak maju dan menyerang Heiliao, Xika segera menghentikan mereka berdua. Ia tidak peduli bila Huo Bing dan Heiliao saling bertarung di dunia luar, tapi ia tidak bisa membiarkan mereka bertarung di alam jiwanya sendiri.
Setelah berusaha kerasn untuk menahan keduanya agar tidak bertarung, ia menatap sekelilingnya.
"Jadi tempat ini adalah alam jiwaku?" tanyanya.
Heiliao menjawabnya dengan anggukkan.
"Sepi sekali ya......" kata Xika mengomentari alam jiwanya sendiri.
Heiliao dan Huo Bing menatap anak itu dengan tatapan aneh. Ini kan alam jiwanya sendiri, untuk apa ia mengomentarinya?
"Ah, ngomong-ngomong, bagaimana cara keluar dari tempat ini?"
Huo Bing dan Heiliiao menatap Xika dengan pandangan yang semakin aneh.
"Apa?"
__ADS_1
Kedua mahkluk itu tidak menjawab. Mereka hanya diam, kemudian menghilang. Meninggalkan Xika sendiri di alam jiwanya.
"Dasar sialan!" umpatnya.
Kemudian ia berpikir keras bagaimana caranya keluar.
Ia berusaha memikirkan dunia luar, langit biru yang jernih, hamparan rumput luar dengan kupu-kupu yang beterbangan, kota dan desa yang penuh dengan kehidupan. Eh, sepertinya ia membayangkan terlalu jauh.
Kali ini ia mencoba lebih fokus. Ia membayangkan ruangan yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama setahun ini. Ruangan yang penuh dengan formasi di dindingnya dan ada sebuah mayat dari ular tua.
WHUSH!
Xika merasa dirinya seolah tersedot. Dan tanpa tahu bagaimana, ia sudah kembali ke badannya di dunia luar.
Ia menatap sekelilingnya. Kemudian tubuhnya dan memeriksa semua perlengkapannya. Mulai dari Space Shifter, pisau pemberian Lian Minjie dan pisau yang ia tempa sendiri, serta pelindung punggungnya. Semuanya ada. Lengkap dan tidak kurang satupun.
Ia menghela nafas lega.
Kemudian ia mengambil cincin spasial Bai Feng. Ia menatap artefak pedang yang sebelumnya dimiliki Bai Feng. Kini artefak itu miliknya.
Xika agak bingung tentang apa yang harus ia lakukan pada pedang itu. Ia bukan pengguna pedang. Memang Huo Bing dan Heiliao telah mengajarinya berbagai macam senjata dan salah satunya adalah pedang, tapi ia tetap bukan pengguna pedang. Pedang bukanlah senjata favoritnya. Kalau keadaan mendesak, ia bisa menggunakan pedang, tapi ia hanya akan menggunakannya dalam situasi tertentu.
Senjata favoritnya adalah tongkat. Tongkat memiliki ukuran yang lebih panjang dibanding pedang. Beratnya seimbang, pas di tangannya dan itu bukanlah senjata untuk membunuh. Ia memang tidak berniat menjadi pembunuh, karena itulah ia putuskan untuk memilih tongkat sebagai senjata utamanya, dan kartu tentu saja.
Setelah berpikir beberapa saat, Xika berniat menghadiahkan pedang itu pada Xingli. Wanita cantik dengan paras bagaikan dewi yang tidak memiliki ekspresi. Xika sering menyebutnya gadis cacat karena ia hampir tidak memiliki ekspresi. Tentu saja tanpa sepengetahuan Xingli.
Ia bertanya-tanya di mana dan apa yang gadis itu lakukan sekarang.
"Serigala gosong, kau lihat muka itu? Itu adalah muka manusia bodoh yang sedang memikirkan gadis yang perasaanya saja masih belum ia ketahui."
"Sialan!"
Xika berdebat dengan Huo Bing selama beberapa saat dengan Heiliao menyaksikan dari samping dan mengangguk-angguk seperti orang bodoh.
Selesai berdebat-karena ekspresi bodoh Heiliao sangat menganggu mereka berdua-Xika membahas mengenai formasi itu.
"Apakah formasi itu sudah tidak berguna lagi sekarang?"
"Sepertinya begitu."
Kemudian Xika langsung melesat cepat dan menahan rahang Heiliao.
"A-akha yang kau lakukan?" katanya dengan mulut yang setengah terbuka.
"Aku butuh kadal itu." jawab Xika dengan pandangan tajam.
Heiliao menghela nafas kemudian membiarkan Xika mengambil kadal yang hampir ia makan.
Xika membawa kadal itu ke depan mayat ular tua itu. Kemudian ia melemparkannya ke tengah formasi.
Pluk!
Kadal itu langsung melarikan diri dari ketiga mahkluk yang menangkapnya.
Huo Bing, Xika dan Heiliao saling berpandang-pandangan. Mereka tersenyum karena formasi itu tidak lagi bekerja.
Kemudian mereka berjalan ke tengah ruangan itu.
Xika meletakkan piringan bulat yang merupakan inti formasi teleportasi.
"Kau siap?"
"Ayo!"
Huo Bing beserta kedua klonnya menembakkan serangan mereka ke arah piringan itu.
Piringan itu bersinar, kemudian pola-pola di dekatnya bersinar dan mulai menyebar ke pola-pola lainnya.
Segera, dalam beberapa saat, semua formasi dalam ruangan itu menyala.
WHUSH!
__ADS_1