
Beberapa warga keluar setelah mendengar teriakan Xika.
Namun Xika tidak melarikan diri dari para warga itu. Sebaliknya, ia malah berkata,
"Disana, disana! Aku melihatnya! Mereka berjumlah empat orang. Semuanya berpakaian hitam!"
"Apa? Kalau begitu cepat kita kejar!"
Para warga segera berlari dipipimpin oleh Xika.
Pemilik toko obat yang dirampok oleh Xika juga keluar tanpa memperhatikan raknya.
Xika menuntun mereka menjauhi toko obat itu agar tiga orang lainnya dapat pergi dengan mudah.
Sekarang ia berada di pertigaan jalan.
"Paman, sepertinya pencuri itu berpencar. Aku dan beberapa orang lainnnya akan pergi ke kanan, paman pergilah ke kiri."
Orang yang Xika panggil paman mengangguk kemudian mengikuti arahannya.
Xika memimpin beberapa orang dan pergi ke sebelah kanan.
Setelah itu ia berkali-kali bertemu perempatan atau pertigaan sampai akhirnya tinggal ia sendiri.
"Rupanya kau cukup pintar ya." kata Lian Minjie yang bicara dari atap rumah di samping kanan Xika.
"Ah, kak Lian. Apa semuanya sudah keluar? Sekarang apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan kembali ke toko?"
"Tidak perlu. Kita akan pergi ke kota lain. Ayo, akan kutuntun kau. Qin Mo dan Lin Zhu sudah menunggu di gerbang kota."
Selesai bicara, Lian Minjie melompat pergi dengan Xika mengikuti di belakang.
Lian Minjie membawanya menuju sebuah tembok yang sangat tinggi.
"Bagaimana kita akan melewati tembok ini?" tanya Xika sambil melihat beberapa prajurit yang berjalan ke sana kemari di atas tembok.
Kalau mereka melompati tembok, maka akan langsung oleh terlihat oleh para prajurit. Selain itu, meskipun tidak kelihatan tapi sepertinya ada dinding penahan yang mencegah orang lompat terlalu tinggi atau terbang.
"Itulah gunanya si bodoh Qin. Kalau tidak kita pasti akan meninggalkannya sejak lama." kata Lian Minjie bercanda.
Kemudian ia berjalan menuju sebuah sudut tembok yang tidak terlihat dari atas. Di tempat itu terdapat sebuah terowongan tanah.
"Qin Mo menggalinya. Setelah kita keluar, ia akan menutup terowongan ini agar tidak ketahuan. Penjagaan di tembok memang bagus, tapi mereka tidak terlalu memperhatikan bawah tembok. Lagipula, memang tidak ada yang pernah berhasil menerobos tembok ini. Atau setidaknya, belum diketahui."
Kemudian Lian Minjie masuk ke dalam terowongan diikuti Xika.
Terowongan itu cukup panjang karena Qin Mo menggalinya langsung ke hutan agar tidak terlihat penjaga.
Setelah sekitar sepuluh menit berjalan melalui terowongan, Xika akhirnya keluar dan melihat Qin Mo serta Lin Zhu di luar.
Lin Zhu membantu Xika keluar sementara Qin Mo langsung menutup terowongan buatannya.
"Hoi Qin bodoh! Aku belum keluar sialan!" kata Lian Minjie yang ternyata masih di dalam terowongan. Di tengah jalan tadi, memang ia menyarankan Xika jalan duluan agar ia bisa berjaga-jaga bila ada yang mengikuti.
"Oh? Benar juga. Aku lupa."
Setelah keluar dari tanah, Lian Minjie langsung memukul kepala Qin Mo.
"Sekarang kita akan pergi ke mana?" tanya Lin Zhu sambil melihat kepala Qin Mo yang habis dipukul.
"Kota terdekat sekitar 420 kilometer. Tapi untuk berjaga-jaga, kita akan menuju kota yang lain. Jaraknya 720 kilometer. Kita dapat memotong jalan dari hutan ini." kata Qin Mo sambil mengelus kepalanya.
"A-anu......apakah tidak ada jalan lain selain hutan?" tanya Xika karena was-was akan bertemu ular lagi.
"Yah.....ini jalan tercepat. Hanya ini pilihan kita kalau mau sampai di kota secepat mungkin."
Akhirnya Xika mengikuti mereka bertiga masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
"Huo Bing. Apa yang harus kulakukan bila kita bertemu dengan ular?"
"Cobalah untuk mengubah penampilanmu sedikit. Setidaknya itu akan memperlambat para ular menemukan kita."
Xika mengangguk menyetujui usul Huo Bing.
"Ah, kak Qin. Tidakkah kita seharusnya mengubah penampilan kita sedikit? Untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada penduduk kota yang kemari." tanya Xika pada Qin Mo yang memimpin jalan.
"Yah, tidak ada salahnya kita berjaga-jaga." kata Lin Zhu sebelum Qin Mo sempat berbicara.
Jadi mereka berhenti sebentar. Qin Mo mengubah gaya rambutnya, Lin Zhu membiarkan rambutnya bebas, sementara Lian Minjie mengikat rambutnya (biasanya rambut kultivator cukup panjang, sepanjang rambut para samurai di jaman dahulu).
Hanya Xika yang memotong rambutnya dan mengubah gaya rambutnya (Xika memotong rambutnya setengah, tapi tidak sampai sependek pria saat ini, kurang lebih masih setengah punggung panjangnya).
"Apa tidak berlebihan? Sampai memotong rambutmu sendiri." tanya Qin Mo melihat Xika yang merubah rambutnya paling banyak diantara mereka semua.
"Ah, tidak apa-apa. Aku memang ingin mengganti gaya rambut sesekali." kata Xika
Setelah mengubah penampilan, mereka melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka berhenti dan memutuskan untuk beristirahat.
Malam itu, langit memang tidak secerah biasanya. Hal itu memang bagus untuk merampok, tapi tidak untuk bermalam di luar kota.
Qin Mo mengumpulkan beberapa kayu kemudian Lin Zhu membakarnya.
Lin Zhu adalah kultivator elemen api, sedangkan Qin Mo elemen tanah. Itulah sebabnya ia bisa menggali dan menutup terowongan dengan mudah.
Meskipun merupakan kultivator elemen api, Lin Zhu tetap membutuhkan kayu bakar untuk mempertahankan apinya. Kalau tanpa kayu, mungkin hanya beberapa jam sebelum qi nya habis dan api mati.
Setelah api menyala, mereka berempat duduk mengelilingi api itu karena cuaca memang cukup dingin.
"Omong-omong, Xika kutivator elemen apa? Kita akan lengkap bila kau kultivator elemen air." tanya Lin Zhu diakhiri tawa.
"Ehh......anu......"
Xika menggaruk-garuk kepalanya bingung harus menjelaskan.
"Aku......bisa memahami elemen angin, api, air, dan tanah."
Lin Zhu dan Qin Mo langsung menatap Xika dengan mata yang cukup lebar.
Mereka menatap Xika untuk memastikan dia tidak berbohong kemudian menoleh pada Lian Minjie meminta konfirmasi.
"Itu benar. Saat aku bertarung dengan Xika sebelumnya, ia menggunakan semua elemen itu."
"........."
"........."
Qin Mo dan Lin Zhu diam. Sementara Xika jadi bingung harus mengatakan apa.
Berbeda pikirannya, Qin Mo justru berkata hal yang diluar dugaanya,
"Sialan, kalau tahu kau bisa elemen tanah seharusnya kau menggali terowongan bersamaku. Lalu saat menutup terowongan juga, kau harusnya membantuku."
Xika hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa minta maaf.
Bukannya menatapnya dengan tatapan iri, benci, atau dengki. Sebaliknya, mereka bertiga tetap bersikap sama seperti sebelumnya, bahkan setelah mengetahui dirinya bisa empat elemen. Hal itu membuat Xika bersyukur dan yakin tidak salah masuk kelompok.
"Oh Qin Mo. Sudah berapa jauh kita berjalan? Berapa meter lagi kita dari kota tujuan?" tanya Lian Minjie pada Qin Mo yang merupakan kultivator elemen tanah. Hal itu wajar karena Qin Mo dapat berkomunikasi dengan tanah, ia dapat mengetahui seberapa jauh mereka berjalan dengan lebih akurat.
"Paling-paling hanya beberapa kilo. Masih jauh jarak yang harus kita tempuh."
Lin Zhu menguap kemudian berkata,
"Aaah.....aku jadi mengantuk. Dimana sebaiknya kita tidur?"
__ADS_1
"Di pohon saja. Itu yang paling aman." kata Lian Minjie yakin.
Jadi mereka berempat memanjat pohon dan tidur diatas sana.
Xika tidur dengan mengikat dirinya di pohon. Jadi ia tidak jatuh kebawah meskipun pose tidurnya berubah-ubah.
Tapi tidak dengan tiga orang lainnya.
Lian Minjie sempat jatuh tiga kali sebelum melihat Xika tidur dan menirunya. Tapi tidak dengan Lin Zhu dan Qin Mo.
Mereka jatuh cukup banyak malam itu karena tidak terbiasa tidur di pohon.
Paginya, Qin Mo dan Lin Zhu bangung dengan wajah serta beberapa bagian tubuh lainnya yang memar.
Mereka berdua langsung menatap Lian Minjie dengan tajam.
"Hohoho.....nyenyak sekali ya tidurmu, Lian Aneh sialan!"
"Siapa ya, yang tadi malam berkata bahwa tidur di pohon itu paling aman? Badanku memar semua dan aku tidak bisa tidur dengan nyaman berkat saran sialan itu."
"He-hei.....aku juga sempat jatuh beberapa kali. Itu semua ada caranya. Kalian harus meng-"
Belum sempat Lian Minjie menyelesaikan bicaranya, ia sudah mendapat pukulan di kepalanya.
Lin Zhu juga memukul kepala Lian Minjie.
Setelah dipukul beberapa kali, barulah mereka membiarkan Lian Minjie menjelaskan.
Sementara Xika yang tidurnya paling nyenyak malam itu, tidak menyadari perdebatan mereka dan baru bangun sekarang.
Ia meregangkan tangannya kemudian berkata,
"Selamat pagi kak Lian, kak Qin, kak Lin."
"""Ya......selamat pagi.....""" jawab mereka bertiga dengan lemas.
Xika turun dari pohon setelah melepaskan ikatan kemudian melihat mereka bertiga dengan bingung.
Qin Mo dan Lin Zhu menjawab dengan lemas karena memang tadi malam mereka tidak tidur dengan baik ditambah tubuh mereka yang penuh memar, sementara Lian Minjie menjawab dengan lemas karena pukulan yang ia terima akibat sarannya.
"Ayo kita mandi dulu. Sekaligus berburu ikan untuk sarapan." usul Xika agar mereka bertiga lebih segar.
Usul itu disetujui oleh ketiganya.
Tapi yang menjadi masalah, mereka masih belum menemukan satupun sungai setelah berjalan selama sepuluh menit.
"Hoi Qin bodoh, apa kau yakin ini arahnya?"
"Kau bisa terbang kalau tidak yakin Lian sialan."
Lian Minjie pun terbang. Kemudian ia berteriak melihat sungai beberapa meter dari posisinya saat ini.
Tapi sialnya, ia tidak memimpin jalan. Ia langsung terbang menuju sungai tanpa menunggu tiga orang lainnya.
Jadi mereka terpaksa mengandalkan Qin Mo yang berjalan berdasarkan tanah.
Katanya, bila tanahnya mulai lembab berarti mereka sudah di arah yang benar.
Tapi mereka masih membutuhkan sepuluh menit lagi untuk sampai di sungai.
Lin Zhu dan Qin Mo langsung melompat menuju Lian Minjie ketika sampai. Mereka memukulinya lagi.
Setelah itu mereka mandi dan membuat tubuh mereka lebih segar.
Sayangnya, ikan yang ada di sungai hanya ikan kecil, tidak bisa untuk dimakan. Jadi mereka terpaksa mencari hewan lain untuk sarapan.
Mendadak dari dalam sungai terdengar geraman hewan.
__ADS_1
Dan ketika berbalik, mereka menemukan kumpulan mahkluk berwarna hijau dengan tonjolan di seluruh tubuhnya.
"Ah, sepertinya aku melihat papan peringatan bahwa hutan yang kita lewati ini dihuni oleh Spirit Beast tingkat Red 2 ke atas."