Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-135


__ADS_3

Kartu dan tugu batu itu bersinar selama beberapa menit. Heiliao sangat penasaran apa yang akan ia lihat kalau ia membuka matanya, jadi ia mengintip sedikit dan langsung menyesali tindakannya. Sinar itu begitu terang hingga menusuk mata. Meskipun ia hanya mengintip sedikit, tapi air matanya telah mengalir karena perih.


Huo Bing memang tidak kesakitan ketika melihat cahaya itu, tapi ia juga tidak bisa melihat menembus cahaya itu. Yang terlihat hanyalah cahaya putih disekitarnya. Selain itu, tidak ada apa-apa lagi. Tapi dari semua itu, yang paling aneh adalah Xika.


Ia membuka matanya dengan normal seolah tak ada cahaya menyilaukan yang menusuk mata. Bahkan, ia membuka matanya semakin lebar, seolah tak ingin cahaya itu memudar. Tapi sayangnya, selebar apapun ia membuka matanya, cahaya itu memudar dan semakin memudar sampai kembali seperti sebelumnya.


Huo Bing dan Heiliao langsung menoleh ke sana kemari mencari tahu apa yang berbeda. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa. Segalanya masih sama seperti sebelumnya. Tumpukan batu spasial, celah-celah yang mengarah entah kemana, dan tugu batu itu juga........


Tunggu. Di mana tugu batu itu?


"Xika, apa kau lih-"


Huo Bing langsung menghentikan ucapannya ketika melihat wajah Xika. Wajah yang begitu penuh dengan kerinduan. Burung itu mendadak membisu. Ia bahkan lupa apa yang ingin ditanyakannya ketika melihat wajah Xika itu. Ia sangat benci ketika melihat wajah Xika yang seperti itu. Karena hatinya juga ikut tersayat.


Tes!


Setetes air mata turun dari mata Xika ke tanah di bawahnya. Kemudian tetesan berikutnya, berikutnya, dan terus menetes hingga membentuk aliran air mata.


Bruk!


Xika jatuh berlutut. Ia tak mampu membendung air matanya. Butiran-butiran air itu terus mengalir meskipun ia berusaha menahannya. Berapa banyakpun tahun yang telah berlalu, ia tetap rindu mereka. Ia ingin kembali ke masa-masa dulu lagi. Masa di mana semuanya indah. Masa dimana ia tidak mengenal kata penderitaan. Masa dimana ia bersama orang tuanya.


"Hiks......hiks........"


Baik Huo Bing maupun Heiliao, keduanya tidak ada yang bicara. Mereka penasaran apa yang membuat Xika menangis seperti itu. Tapi mereka menahan diri untuk tidak bertanya. Setidaknya sampai Xika lebih baik. Mereka mendekat dan menepuk-nepuk punggungnya berusaha meringankan perasaannya.


Beberapa menit berlalu dan isakan Xika mereda. Nafasnya lebih stabil, meskipun air mata masih mengalir. Ia berdiri, mengusap air mata yang kembali mengalir, kemudian menatap kedua saudaranya. Ia tersenyum dengan air mata yang mengalir.


"Maaf........sudah membuat kalian khawatir."


"Tak apa.................kenapa kau menangis?"


Huo Bing langsung mendapat pelototan tajam dari Heiliao. Serigala itu membuat gerak mulut yang berarti 'Akankah kau mati kalau menanyakan itu nanti?' Huo Bing mengangkat kedua bahunya. Tapi Xika justru menatap mereka dengan bingung.


"Eh? Kalian..............tidak melihat gambar tadi?"


"Gambar? Gambar apa? Aku tidak melihat apa-apa selain cahaya terang yang menusuk mata."


"Kalian..............tidak melihat gambar orangtuaku..........?"


Heiliao dan Huo Bing saling menatap kemudian menggelengkan kepalanya bersamaan.


"Jadi................tadi kau melihat orangtuamu?"


"Ya.......sesuatu seperti gambar.......mereka berdua, tersenyum bersama." ucap Xika sambil tersenyum. Senyum yang mengandung kesedihan.

__ADS_1


"Kau akan bertemu dengan mereka lagi. Dan kau akan tersenyum sebagaimana mereka tersenyum." ucap Huo Bing.


Xika mengganti senyum sedihnya menjadi senyum penuh tekad kemudian mengangguk. Ia menutup matanya dan terlihat seolah memikirkan sesuatu.


"Ada apa?"


Xika tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya meminta mereka menunggu. Setelah beberapa saat penuh keheningan, ia kembali membuka matanya.


"Di sini........tidak ada mahkluk hidup. Hanya kita."


"Bagaimana kau tahu?"


Xika kembali menutup matanya.


"Entahlah. Informasi itu muncul begitu saja di kepalaku. Aku sudah mengeceknya beberapa kali, memang tidak ada mahkluk hidup di tempat ini selain kita."


"Bagaimana kau bisa mengeceknya? Apa yang terjadi?"


"Tunggu. Kau bilang hanya ada kita di tempat ini?"


"Benar."


"Mustahil! Kita sudah berada di tempat ini lebih dari satu jam. Harusnya para serigala sudah berada di tempat ini."


"Benar juga. Aku sampai melupakan keberadaan mereka ."


Xika mengangguk. Ia menutup matanya seperti sebelumnya. Beberapa saat berlalu dan ia membuka matanya sambil menggeleng. Raut wajah Heiliao semakin memburuk. Ia mengkhawatirkan nasib kaummnya. Ia berbalik dan memberikan punggungnya pada Xika.


"Ayo. Ada yang tidak beres. Aku harus memeriksanya."


Tapi Xika masih diam di tempatnya. Ia tidak bergerak sedikitpun.


"Cepatlah! Apa yang kau lakukan?" tanya Heiliao yang sedikit kesal karena Xika masih tidak bergerak.


"Tenanglah. Mereka baik-baik saja. Mereka masih menunggu kita di luar."


"Apa? Bukankah aku bilang hanya lima menit? Bagaimana kau bisa tahu?"


Xika mengambil tumpukan kartu yang sebelumnya bersinar. Ia melemparnya ke udara, tapi tidak terjatuh. Kartu-kartu itu melayang di udara membentuk sebuah persegi panjang yang memancarkan cahaya, tapi cahaya yang berbeda dengan sebelumnya. Xika melihat kartu-kartu itu seolah mencari sesuatu.


Kemudian ia menemukannya. Ia mengambil salah satu kartu dan melemparnya. Kartu itu berputar dan semakin membesar hingga seukuran celah yang mereka lalui ketika menuju tempat ini. Kemudian gambar kartu itu berubah menunjukkan Lang Yan dan serigala lainnya.


Mereka terlihat seperti menunggu sesuatu. Beberapa di antara mereka tampaknya sangat tidak sabar, tapi Lang Yan menenangkan mereka berkali-kali. Xika dapat melihat bahwa serigala tua itu juga sangat tidak sabar, tapi ia tidak bisa memperlihatkannya.


"Lao Yan! Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian masih belum masuk?" teriak Heiliao cukup lega karena mereka semua baik-baik saja. Tapi mukanya kembali bingung ketika Lang Yan dan lainnya tidak menjawab dia.

__ADS_1


"Heiliao, mereka tidak bisa mendengarmu. Apa yang kutunjukkan ini hanyalah gambar. Bukan celah yang sesungguhnya."


"Oh." Heiliao mengangguk mengerti. "Tapi kenapa mereka masih belum masuk? Lima menit sudah berlalu sangat lama."


"Benar. Tapi mungkin itu hanya berlaku di tempat ini." ucap Huo Bing sambil merasakan tempat ini dengan seksama. Ia tidak menyadari apa yang aneh di tempat ini saat pertama kali masuk. Tapi kini ia sadar. Aliran waktu di tempat ini berbeda dengan di dunia luar.


Heiliao memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian ia membuka matanya dan menyadari apa yang dikatakan Huo Bing memang benar. Aliran waktu berjalan lebih cepat di tempat ini.


"Kalau begitu aku akan memberitahu mereka."


"Tenang saja. Waktu berjalan lebih cepat, jadi kita masih bisa santai. Apa kau tidak mau menjelajahi tempat ini lebih lanjut?"


"Yah, sebenarnya itu tidak perlu. Aku sudah mengetahui seluk beluk tempat ini."


Huo Bing melotot dengan pandangan bertanya. Xika tidak menjawab. Ia memanggil kembali kartu yang sebelumnya ia lempar dan melengkapi bagian kosong dari persegi panjang yang ia buat di udara. Ia memberi tanda agar Huo Bing dan Heiliao mendekat.


Kemudian persegi panjang itu menampilkan gambar. Lebih tepatnya sebuah peta. Serigala dan arwah burung itu melihat peta Xika dengan seksama.


"Bagaimana kau bisa.......?"


"Entahlah. Itu muncul begitu saja di kepalaku. Dan kartu-kartuku menampilkan apa yang kupikirkan. Lihat, kira-kira ada tujuh ribu celah di tempat ini yang mengarah pada tempat berbeda. Dan batu spasialnya ada..............."


"Baiklah itu cukup. Kau tidak perlu menghitungnya. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Kalau kau bisa melihat tempat ini, berarti kau tahu di mana si Tangan Ungu bukan?"


Xika menatap peta itu dengan seksama. Kemudian ia menyentuh salah satu kartu. Dan tampilan persegi panjang itu menampilkan gambar dari kartu yang disentuh Xika sebelumnya.


"Ia ada disini." kata Xika sambil menunjuk titik yang berwarna ungu.


"Kau bilang hanya kita yang ada disini."


"Hanya kita mahkluk hidup yang ada di tempat ini."


"Itu berarti............"


"Ya. Dia sudah mati."


Huo Bing terdiam. Masalah besar yang selama ini mereka bicarakan dan membuat mereka kerepotan, ternyata sudah mati. Tapi ia tidak akan percaya sebelum melihat mayatnya dengan matanya sendiri.


"Ayo kita periksa. Aku harus melihat tubuhnya."


Xika mengangkat kedua bahunya. Kemudian ia membuka tangannya dan persegi panjang itu berkumpul kembali menjadi tumpukan kartu ke tangannya. Setelah itu ia berjalan memandu Huo Bing dan Heiliao ke tempat di mana mayat Tangan Ungu berada.


Mereka berjalan sepuluh menit sebelum Xika berhenti. Tapi mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Xika menoleh ke kanan dan kiri beberapa kali sebelum berhenti.


"Itu dia."

__ADS_1


Xika menunjuk sesuatu. Dan seketika itu juga Huo Bing melebarkan matanya.


__ADS_2