
"Tunggu dulu....Apa yang kau maksud dengan 'siapa target mereka?'" Bao Fang bertanya dengan alis dikerutkan penuh curiga. Beberapa warga lain juga mulai memandang ketiganya dengan curiga.
"Bukan urusanmu," jawab Huo Bing tak peduli, "Tapi itu memang pertanyaan yang bagus. Siapa target mereka?"
"Apa?! Bukuan urusanku kau bilang?!" Bao Fang bersama beberapa warga lain berteriak marah.
WHOSH!
"Benar. Bukan urusanmu. Sekarang diamlah." ucap Huo Bing mengeluarkan auranya dan menekan mereka yang memberikan pandangan curiga.
"Huaaa......kakak hantu......" Jun Si menangis melihat ekspresi menyeramkan yang ditunjukkan Huo Bing.
"Hm?" Mendengar tangisan itu wajah Huo Bing langsung berubah. Ia mendekati Jun Si dan berusaha menenangkannya dengan membuat wajah konyol.
"Menurutku.......mereka sama sekali tidak tahu apapun tentang kebaradaan kita," Xika berpikir dengan serius, "Terakhir kali kita bertemu mereka di makam. Setelah itu kita pergi ke kota menemui bajingan sialan itu lalu menemui para serigala."
Heiliao mengangguk, "Harusnya para ular tidak akan masuk ke dalam kota. Tapi kalaupun mereka masuk, mereka tidak akan bisa melewati para serigala."
"Kalau begitu target mereka sudah jelas," Huo Bing berbalik menatap para warga desa, "Mereka menargetkan kalian dan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kami."
"Apa? Tunggu, tunggu. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan sama sekali. Siapa yang kau maksud dengan 'mereka'? Dan kenapa kau begitu yakin ini tidak ada hubungannya dengan kalian?"
"Benar! Jelaskan pada kami!"
"Ceritakan dengan jelas!"
"Hah? Kalian tidak mengerti apa yang kuucapkan jadi kalian meminta penjelasan dariku? Apa kalian memberikan penjelasan ketika hendak membunuh kami? Apa kalian menjelaskan apa yang terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu hingga takut dengan kami? Heh. Lucu sekali."
Mendengar ucapan Huo Bing itu, Bao Fan dan para warga yang hanya diam tak bisa menjawab. Mereka menundukkan kepala.
"Huo Bing, ini bukan saat yang-"
"Baiklah! Kami akan menceritakan apa yang terjadi bertahun-tahun silam. Tapi-"
DRRRRRRT!!!!
BOOM!!!
Sebelum Kepala Desa menyelesaikan kalimatnya, tanah bergoncang dan langit bergetar. Beberapa warga yang tidak siap terjatuh dengan pandangan tidak percaya di mata mereka.
"Ck. Sudah kuduga," Xika menatap Kepala Desa, "Tidak ada waktu. Lakukan yang kuminta. Sisanya, bersiaplah bertarung."
BOOOM!!!!
DUARRR!!!!
Langit kembali bergetar. Raut wajah Xika semakin memburuk. Jelas, formasi ayahnya tidak dapat menahan kepungan ular itu. Meskipun begitu, setidaknya formasi ayahnya bisa memberikan sedikit waktu untuk bersiap. Xika berlari keluar desa.
"Heiliao!"
Serigala hitam itu berlari mengikuti Xika. Begitu juga dengan Huo Bing. Ketiganya menelusuri sudut-sudut terluar dari desa mencari hal yang bisa dijadikan senjata.
Kepala Desa melakukan apa yang diminta XIka, sementara sisa pria yang akan bertarung hanya memandang Xika dengan bingung.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Kenapa mereka berlari ke luar desa?"
__ADS_1
Para pria itu benar-benar tidak mengerti apa yang dilakukan Xika bertiga. Menurut mereka, tempat teraman adalah dalam desa. Jadi ketika melihat Xika dan lainnya berlari keluar desa mereka benar-benar bingung.
Apa yang dilakukan Xika bertiga adalah mencari racun. Keadaan alam di desa ini begitu subur sehingga menurut Xika pasti ada beberapa tanaman beracun yang dapat digunakan. Ia memang tidak salah. Setelah mencari beberapa saat, ia menemukan beberapa tanaman yang berguna.
Tapi bagaimanapun juga, jumlah tanaman yang mereka temui tidak cukup bila harus bertarung dengan ribuan ular. Ya, ribuan. Xika memperkirakan bahwa jumlah ular yang akan datang sekitar ribuan. Kelompok pengintai saja berjumlah ratusan, maka kelompok utamanya pasti lebih banyak. Dalam hati, ia berharap jumlah ular yang ada tidak mencapai puluhan ribu.
Huo Bing dan Heiliao juga tidak menemukan banyak tanaman. Jika ditotal, maka jumlah yang mereka bertiga kumpulkan hanyalah beberapa ratus. Sama sekali tidak cukup untuk melawan para ular yang memiliki perkiraan jumlah ribuan.
"Masih belum cukup. Pasti ada cara lain." Xika mengerutkan keningnya melihat jumlah tanaman yang dikumpulkan.
Mendadak ia teringat dengan kebun bunga kesukaan ibunya. Bunganya indah, daunnya dapat dijadikan racun sementara akarnya dapat dijadikan obat.
Tap!
Whush!
Xika berlari menuju kebun bunga Hydrangea. Ia menatap kebun itu selama beberapa saat sebelum menghela nafas dan berkata,
"Maafkan aku ibu. Aku harus meminjam bunga kesukaanmu."
Kemudian Xika memetik bunga-bunga itu dan memisahkan daun dengan akarnya. Huo Bing dan Heiliao yang baru datang cukup terkejut melihat Xika memetik bunga-bunga itu. Bagaimana tidak, sebelumnya Xika sangat menyayangi bunga-bunga itu dan tidak pernah memetiknya sama sekali.
Satu-satunya pengecualian hanyalah saat ia menunjukkan sulap pada anak-anak karena menurutnya bunga-bunga itu layak untuk senyum tiap anak.
"Xika.....kau yakin....?"
"Ya.....hanya saja jangan petik yang berwarna biru. Itu kesukaan ibuku."
Melihat wajah Xika yang tak lagi memiliki keraguan, Huo Bing dan Heiliao juga bergegas memetik bunga-bunga itu dan melakukan hal yang sama dengan Xika.
Para warga desa yang penasaran memutuskan untuk mengikuti kemana Xika dan lainnya pergi. Dan mereka terkejut sekaligus marah melihat apa yang Xika bertiga lakukan.
"Apa yang kalian lakukan?! Berhenti!"
Tapi Xika terlalu malas untuk menjelaskan. Ia menatap Heiliao dan serigala hitam itu menyeringai memperlihatkan taring buasnya membuat para warga mundur ketakutan. Berkat Heiliao, Xika dan Huo Bing berhasil memetik semua bunga Hydrangea selain warna biru.
"Sudah cukup. Ayo!" Xika menepuk Heiliao.
"Mm."
Heiliao berbalik dan tak lagi memperdulikan para warga. Ketiganya duduk melingkar kemudian mengeluarkan tanaman yang bisa dijadikan racun. Mereka mengolah tanaman itu menjadi bubuk atau cairan yang bisa digunakan dalam pertarungan langsung.
Tapi racun yang ada hanyalah racun tingkat rendah. Mungkin butuh beberapa racun untuk menjatuhkan ular tingkat Forming Qi 3 kebawah. Mengenai Forming Qi 4 keatas, pasti membutuhkan lebih banyak lagi.
BOOOM!!!!
Suara benturan kembali terdengar dan Xika tidak memiliki banyak waktu yang tersisa. Tangannya bergerak semakin cepat, begitu juga dengan Heiliao dan Huo Bing, keduanya meningkatkan kecepatan dalam mengolah tanaman racun.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan kebun kami! Apa kau tahu betapa berharga kebun itu?!" tunjuk salah seorang warga pada Xika. Ia tahu bahwa Heiliao dan Huo Bing hanya bertindak mengikuti Xika.
"Aku tahu!" teriak Xika.
"Aku tahu," kali ini lebih tenang, "Kebun itu memang berharga, tapi apakah kalian berpikir bahwa kebun itu lebih berharga daripada nyawa kalian?"
"I-itu......"
Tak ada yang bisa menjawab Xika. Tapi setidaknya mereka tahu bahwa yang dilakukan Xika adalah untuk membuat mereka bertahan hidup. Jadi mereka tak lagi mengganggu Xika.
__ADS_1
BOOOOMM!!!
Xika mendecakkan lidahnya kesal. Hantaman lain terdengar. Harusnya tak lama lagi formasi ayahnya akan hancur dan para ular itu akan menerobos masuk.
"Kemarikan senjatamu." pinta Xika pada Zheng Wei.
"E-eh?"
"Cepat!"
"Y-ya!"
Xika mengoleskan racu pada senjata Zheng Wei kemudian melakukan hal yang sama dengan senjata warga lainnya. Setelah semua senjata ia olesi, Xika membungkus racun itu ke dalam beberapa kantung. Ia membagi-bagi kantung berisi racun itu pada warga yang ada.
BOOOOM!!!!!
Xika menatap Huo Bing dan Heiliao. Sudah tak ada lagi racun yang tersisa. Ia menghela nafas berat. Apa yang bisa ia lakukan sudah ia lakukan. Sisanya ia serahkan pada langit.
BOOOOOM!!!!!
DUARRRR!!!
BLAAARRR!!!!
PRANGG!!!!
Setelah terdengar bunyi hantaman berkali-kali, akhirnya terdengar suara ledakan dan formasi yang dibuat Xing Taiyang hancur.
Xika melihat langit yang seolah hancur menjadi ribuan fragmen. Kemudian di bawah langit yang mulai hancur itu, ia melihat ribuan mahkluk berbadan panjang licin menyerbu tepat ke arahnya.
"Sssssss!!!!"
Ribuan ular melaju dengan kecepatan tinggi menggunakan perut mereka. Xika menatap ular-ular itu dengan pandangan penuh tekad di wajahnya. Cosmos melayang di sampingnya dan siap ia gunakan. Nexus sudah membungkus tubuhnya kecuali kepala. Space Shifter berbentuk tongkat tergenggam kuat di tangan kanannya.
Di sampingnya, Huo Bing mengepakkan sayapnya siap bertempur, Heiliao juga memperlihatkan taringnya dan mengambil posisi siap bertempur.
Ketiganya berdiri di depan para warga dengan tatapan yang berbanding terbalik. Di mata para warga hanya ada ketakutan penuh teror dan kenangan mengerikan yang kembali muncul. Tubuh mereka gemetar melihat kejadian bertahun silam terulang kembali.
Sebaliknya, tatapan Xika bertiga dipenuhi dengan tekad. Bohong kalau mereka bilang tidak takut menghadapi ribuan ular itu. Atau setidaknya Xika. Tapi akan jadi bodoh kalau mereka hanya diam saja. Memang benar, Xika takut.
Ia takut untuk melawan ular-ular itu. Ia takut untuk kalah dan mati. Ia takut ia tak bisa bertemu dengan orangtuanya lagi. Tapi justru karena hal itu ia harus maju dan bertarung. Kalau ia takut mati, maka ia harus berjuang agar tidak mati. Kalau ia takut tidak bisa bertemu orangtuanya lagi, maka ia harus berjuang agar bisa menemui orangtuanya lagi.
Ular-ular itu semakin mendekat dan Xika tahu apa yang ada di depan matanya hanya setengah atau bahkan kurang dari jumlah keseluruhan yang ada.
"Huo Bing?"
"Aku sudah mati sekali. Jadi mati kedua kali tak apa."
"Heiliao?"
"Aku tak memiliki penyesalan dalam hidup ini."
Xika tersenyum mendengar jawaban kedua saudaranya itu. Kalaupun mereka harus mati, setidaknya mereka mati bersama.
WHUSH!
Dan dengan itu, dimulailah pertarungan Xika melawan ribuan ular.
__ADS_1