Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-191


__ADS_3

"Heh. Lumayan juga."


Xika berbalik dan melihat pria yang menyerangnya. Pria itu mengenakan jubah merah. Di sampingnya masih ada tiga pria lain yang mengenakan jubah hijau, biru, dan kuning.


"Sekarang kau mengerti kenapa aku begitu kesal denganmu?" tanya Xika tanpa menoleh.


"SIALAN! Jangan bicara seperti itu pada Dewi Qing, kau bajingan sialan!" Pria berjubah kuning berteriak dengan marah.


"Ha? Bajingan sialan? Heh, memangnya kenapa kalau aku bicara begitu? Kau mau apa hah?" ucap Xika memprovokasi lawannya.


"Lihat baik-baik apa yang akan kulakukan!" Pria berjubah kuning itu menyiapkan kuda-kudanya bersamaan sambil membentuk beberapa gerakan tangan aneh.


Set!


"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Xika yang sudah menempelkan pedang di leher pria berjubah kuning itu.


"A-apa?"


"Ba-bagaimana bisa dia bergerak secepat itu?"


Pria-pria yang berjubah aneka warna itu terkejut dengan betapa cepatnya Xika. Bahkan Qing Hu dan Wu Liaopun terkejut. Wu Liao merasa Xika yang ada di hadapannya ini sama sekali berbeda dengan Xika yang ia temui dulu. Tapi Xingli, Huo Bing, dan Heiliao sudah menduga akan hal itu.


"Di-dia hanya cepat....dia pasti tidak kuat. Se-serang dia sama-sama!" Pria berjubah merah memberi perintah. Dua pria lainnya ikut maju bersama dia.


"Kalian tidak takut aku membunuhnya? Yah, sudahlah." Xika menendang pria berjubah kuning itu kemudian menyambut serangan dari ketiga pria tersebut.


Xika tidak berniat membunuh satupun dari mereka. Bukan karena ia berbelas kasih, tapi karena lawannya memang tidak bermaksud membunuhnya. Beda ceritanya kalau mereka hendak membunuhnya.


"Meskipun kalian tidak punya otak, kalian masih punya hati. Jadi kumaafkan kali ini."


"Pria ini pasti sudah gila!"


"Cepat hajar dia!"


Serangan pertama datang dari pria berjubah merah berupa kepalan yang membara. Xika menangkap kepalan itu dengan tangan kosong, kemudian membanting pria tersebut dengan mudah. Serangan kedua berupa beberapa panah angin dari pria berjubah hijau.


Xika mengibaskan tangannya beberapa kali dan panah-panah itu berbalik kembali pada pemiliknya. Pria ketiga tidak sempat berbuat apa-apa karena terlalu terkejut. Sebelum ia sadar siapa lawannya, Xika sudah menghajar wajahnya sampai pingsan.


"Yah, cukup mengecewakan." ucap Xika memandangi empat pria yang kini terkapar tak sadarkan diri.


"Bukankah kau bisa mengurus mereka dengan mudah? Kenapa harus protes?"


"Karena mereka terus datang seperti semut yang tak ada habisnya." Xika menatap belasan murid pria yang kini menghadang jalannya.


"Aku tak peduli siapa kau. Tapi kau tidak layak berjalan bersama mereka. Jadi sebaiknya kau menyingkir sebelum menyesal."


"Apa akademi melarang muridnya bertarung satu sama lain?" tanya Xika pada Xingli. Gadis itu menjawabnya dengan gelengan pelan namun cukup untuk membuat sebagian besar murid yang ada cemburu pada Xika.


"Kalau membunuh?" Kali ini Xingli diam sesaat, kemudian mengangguk.


"Hmm....boleh bertarung tapi tak boleh membunuh ya.....baiklah."


WHUSH!

__ADS_1


Selesai bicara, Xika melambaikan tangannya dan menciptakan api besar yang memakan para murid yang menghadang jalannya.


"Hooo....rupanya kau memang punya kemampuan. Tapi tetap saja kau tak layak bersama mereka."


Muncul sepuluh pria yang berdiri di atap bangunan akademi. Mereka semua mengenakan pin yang sama yang dikenakan Xingli. Mereka adalah Murid Dalam.


"Mereka?" Xika mengikuti arah pandang pria yang berbicara itu dan menemukan Wu Liao serta Qing Hu, "Ah, ya. Jadi kau ingin aku berpisah? Tidak masalah. Memang itu yang kuinginkan dari tadi."


Xika berbalik pergi bersama Huo Bing dan Heiliao. Qing Hu serta Wu Liao menatap Xika dengan pandangan rumit. Wu Liao terutama. Ia tak menyangka keberadaanya dapat membuat Xika diserang secara terus-menerus. Ia merasa sangat bersalah. Padahal yang ia inginkan hanyalah berjalan bersama mengelilingi akademi.


Qing Hu juga tak bisa bicara. Ia tahu siapa sepuluh murid yang berdiri ini. Meskipun bukan murid paling kuat, tapi juga bukan murid paling lemah. Mungkin terlalu berlebihan bagi Xika yang baru masuk untuk bertarung melawan kesepuluhnya. Lagipula ia tak punya alasan untuk meminta Xika melawan mereka agar bisa berjalan dengannya.


Tapi apa yang membuat Qing Hu dan Wu Liao terkejut adalah kalimat Xika berikutnya.


"Ayo kita pergi, Xingli."


Sementara Xingli berjalan mengikuti Xika, kesepuluh pria tersebut melotot hebat. Tidak percaya pada mata mereka sendiri.


Syut!


Clep!


Sebuah pisau menancap tidak jauh dari kaki Xika.


"Tampaknya kau tak mengerti apa yang kukatakan. Kubilang kau tak layak bersama mereka, jadi menyingkirlah sebelum aku menghabisimu!" Kali ini pria itu menatap Xingli juga.


"He? Xingli juga? Yah, apa boleh buat."


Kesepuluh pria tersebut tersenyum puas karena mengira Xika akan menyingkir layaknya seorang pengecut. Tapi apa yang dilakukan Xika berikutnya mengejutkan mereka semua. Ia memutar-mutar Space Shifter yang kini berwujud tongkat di tangannya.


Setelah tertegun beberapa saat, kesepuluh pria tersebut tertawa seolah melihat orang bodoh. Tapi dimata mereka Xika memang orang bodoh. Seorang murid baru yang bergabung dengan akademi dua hari lalu berani menantang mereka? Apalagi menantang mereka semua sekaligus.


"Heh. Mu Fen, kau saja yang maju. Ajari anak ini sopan santun."


Pria yang dipanggil Mu Fen itu tertawa kecil sebelum maju selangkah.


"Tiga gerakan. Tidak akan lebih dari itu." Selesai bicara, Mu Fen menghilang dari tempatnya dan muncul di hadapan Xika.


Whush!


Ternyata Mu Fen adalah kultivator tipe angin. Ia menekan tubuh Xika dengan angin hingga membuatnya sulit bergerak, kemudian melayangkan sebuah tebasan yang diyakininya tepat sasaran.


DUAK!


Tapi bukan sabetan Mu Fen yang tepat sasaran, melainkan tusukan Xika. Sesaat sebelum tebasan Mu Fen mengenai tubuhnya, Xika sudah lebih dulu melayangkan tongkatnya menuju tubuh Mu Fen dan hasilnya kini Mu Fen terlempar beberapa meter jauhnya.


"Luar biasa. Bagaimana kau tahu kau akan kalah tidak lebih dari tiga gerakan?" tanya Xika dengan sarkasme.


Mendengar ucapannya itu sembilan orang yang tersisa memiliki ekspresi buruk. Xika baru saja mengembalikan ucapan Mu Fen pada mereka. Itu hanya penghinaan terang-terangan.


Bukannya senang, Wu Liao malah cemas melihat Xika mengalahkan salah satu dari mereka. Ia takut sembilan orang lainnya akan marah dan menyerang Xika secara bersamaan.


"Kenapa kalian tidak membantunya?" tanya Wu Liao berharap Huo Bing dan Heiliao membantu Xika. Meskipun sebelumnya ia tidak bertemu mereka, tapi dari apa yang ia lihat hari ini hubungan ketiganya sangat dekat. Harusnya mereka tak akan membiarkan Xika kesulitan. Tapi jawaban Huo Bing menjatuhkan harapan Wu Liao.

__ADS_1


"Kenapa kami harus membantunya?"


Wu Liao tak tahu bagaimana harus membalas jadi ia berbalik dan menatap Heiliao tapi respon yang ia dapatkan tak jauh berbeda. Keduanya tidak berniat menolong Xika.


"Bukankah kalian temannya? Kenapa kalian tidak membantunya?"


Kali ini bahkan Huo Bing mengabaikan Wu Liao. Tapi sebenarnya Wu Liao salah mengerti maksud mereka. Ketika Huo Bing bertanya mengapa mereka harus membantu Xika, maksudnya adalah 'Kenapa kami harus membantunya kalau ia bisa sendiri?'


Sayangnya Wu Liao mengira bahwa keduanya tak akan menolong Xika sekalipun Xika dalam kesulitan.


"Kurang ajar. Sepertinya kau benar-benar ingin dihabisi ya?" Pria yang bicara itu berbalik dan menatap teman-temannya, "Bagaimana kalau kita bermain? Siapa yang berhasil mengalahkannya lebih dulu ia yang menang."


Xika tersenyum menghina mendengar ucapan pria itu disambut oleh teman-temannya. Di permukaan, pria itu kedengarannya seolah tidak takut dengan Xika dan meremehkannya dengan bermain 'siapa yang menghabisinya duluan akan menang'.


Tapi sebenarnya ia mengajak teman-temannya untuk menyerang Xika bersama. Ia sadar bahwa Xika tak bisa dipandang remeh. Jadi ia memutuskan untuk menghabisi Xika bersama-sama. Tapi kalau mengucapkannya dengan jelas maka reputasinya akan hancur.


Sepuluh Murid Dalam bergabung hanya untuk melawan seorang murid yang baru bergabung dua hari lalu? Tentu saja pria itu tak mau berita tersebut tersebar. Jadi untuk menutupinya ia mengusulkan permainan itu. Tapi tentu saja Xika tak takut. Lagipula dialah yang sebelumnya meminta mereka untuk menyerangnya secara bersamaan.


"Ayo!"


WUSH!


Kesembilannya melayangkan serangan secara bersamaan. Ada yang memberikan serangan jarak jauh dan ada juga yang menerjangnya langsung.


Sambil menangkis serangan yang datang, Xika menyambut mereka yang menerjangnya dengan baik. Beberapa kali ia menjadikan murid yang menerjangnya menjadi perisai untuk menahan serangan yang datang. Keadaan berada di pihak Xika saat ini.


Tapi Wu Liao yang terlalu panik tidak menyadari hal itu. Baginya, momen satu tahun yang lalu kembali terulang. Ia tak tahu apa yang ia lakukan dulu itu salah atau benar, tapi kali ini ia tak akan berdiam diri lagi.


Jadi Wu Liao berlari membabi buta untuk melindungi Xika.


"Hentikan! Kenapa kalian melakukan ini?!" ucapnya histeris.


Sayangnya yang ia lakukan hanyalah mengganggu Xika. Tadinya Xika hendak menjadikan tubuh Mu Fen untuk menjadi perisai dari panah angin yang datang. Tapi kemunculan Wu Liao mengganggunya.


"Dasar gadis bodoh!" Huo Bing berteriak kesal.


Dan yang lebih bodoh lagi adalah Wu Liao merentangkan kedua tangannya hendak menahan panah angin itu untuk Xika. Pria yang melayangkan serangan itu juga terkejut dengan kedatangan Wu Liao, jadi ia tidak sempat menghentikan serangan.


Xika menarik tangan Wu Liao dan membalikkan badannya sehingga posisi keduanya bertukar.


JLEB!


Tes!


Panah angin itu sukses menembuh tubuh Xika dan membuatnya meneteskan darah. Bahkan sudut mulutnyapun meneteskan darah.


Wu Liao yang melihat hal itu membuka mulutnya terkejut.


"A-aku......"


"Kau hanya mengganggu. Pergilah." ucap Xika tanpa mengusap darah yang menetes dari tepi bibirnya.


Saat itu apa yang dilihat Wu Liao bukanlah Xika yang sopan dan ramah seperti dahulu. Tapi Xika yang berbeda seratus delapan puluh derajat yang kini menatapnya dengan dingin dan menganggapnya sebagai pengganggu. Tatapannya itu membuat Wu Liao mundur tanpa sadar.

__ADS_1


Dan ia hanya menyaksikan Xika menghabisi kesembilan murid yang tersisa tanpa bisa berbuat apapun atau berpikir apa yang seharusnya ia lakukan.


__ADS_2