Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-314


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya, tepat ketika Xika, Huo Bing, dan Heiliao baru saja melarikan diri........


Para ular terlihat panik dan segera melesat menuju arah perginya Xika dan Huo Bing, demikian juga para kultivator dari Ibukota.


SYUT!


SRAK!


SET!


Namun semuanya langsung berhenti ketika Pak Tua bicara, "tenanglah."


Di saat yang bersamaan, semua ular yang tadinya bergerak gelisah dan panik langsung terdiam, membuat para kultivator dari Ibukota mau tidak mau ikut diam karena penasaran sekaligus bingung.


"Tidak ada gunanya lagi mengejar mereka. Sebaiknya kita pulang saja." ucap pria tua itu sambil membalikkan badannya.


"Tunggu dulu!" ucap Jin Fu. "Apa maksudmu? Sebaiknya pulang saja? Kau berniat mengingkari ucapanmu?!"


Seketika itu juga semua ular sekaligus para kultivator dari Ibukota langsung memasang posisi bertarung dan berdiri saling berhadapan.


Anehnya, pria tua itu tidak terlihat panik dan malah tersenyum. Ia mendengus kemudian berkata, "heh, kalau kalian masih menginginkan apa yang menjadi tujuan kalian, sebaiknya kalian mengikutiku. Dan aku tidak akan menunggu kalian."


Selesai bicara pria tua itu segera melompat pergi diikuti seluruh ular meninggalkan Jin Fu dan sisa kultivator dari Ibukota kebingungan. Mereka saling berpandangan berusaha mencari tahu apa yang terjadi, namun karena tak membuahkan hasil akhirnya mereka menatap Jin Fu menantikan keputusan berikutnya.


Dalam situasi biasa, mereka tidak akan menganggap Jin Fu sebagai pemimpin mereka karena masing-masing memiliki kebanggaan yang tinggi apalagi basis kultivasi mereka sama. Namun dalam situasi genting seperti ini dimana sebuah keputusan dapat berpengaruh fatal, mereka tak mau memilih dan meminta Jin Fu menjadi kambing hitam mereka. Dengan begini bila kesalahan terjadi mereka bisa menyalahkan Jin Fu sepenuhnya.


Jin Fu tentu saja mengetahui pemikiran mereka namun pada saat ini ia tidak punya banyak pilihan. Ia harus membuat keputusan dengan cepat karena para ular itu semakin menjauh. Sambil menggertakkan gigi, akhirnya ia memilih untuk mengikuti para ular. Ia berharap semoga saja keputusannya tidak salah.


SYUT!


Sembilan kultivator sisanya mengikuti langkahnya dan berusaha mengejar para ular.


---------------------------------


"M-mahkluk apa itu?!" ucap Xika terkejut sambil menoleh menatap Huo Bing dan Heiliao. Raut wajah keduanya tidak terlihat baik. Sebutir keringat terlihat menetes di kening Heiliao sementara Huo Bing baru saja menelan ludahnya.


Setelah beberapa saat hening, akhirnya Huo Bing membuka suara, "yah, Xika kau ingat pernah berkata ingin bertemu naga bukan? Selamat, kau sudah menemui salah satu dari mereka."


"Dalam situasi seperti inipun kau masih bisa bercanda....." ucap Heiliao tidak habis pikir.


Sementara Xika, emosinya bercampur aduk. Naga telah menjadi salah satu hewan favoritnya di masa kecil, sama seperti ia menyukai serigala. Namun ketika mendengar cerita Huo Bing ia jadi bimbang apakah naga memang sejahat itu.


Beberapa buku yang pernah ia baca semasa kecil mengatakan bahwa setiap naga memiliki aura yang luar biasa hebat yang membuat semua mahkluk ingin menghormatinya. Yah, kini Xika tidak terlalu yakin. Mahkluk yang disebut Huo Bing sebagai naga di hadapannya ini memang memiliki aura. Namun alih-alih menghormatinya, Xika malah merasakan aura buruk. Entah ia harus membunuh naga itu atau ia harus kabur darinya secepat mungkin. Itu yang dirasakan Xika ketika merasakan aura mahkluk itu.


"Hooo? Kau mengetahui jenisku? Darimana asalmu, burung kecil?" ucap mahkluk itu. Xika perlu berpikir dulu beberapa saat karena suara yang terdengar lebih seperti geraman daripada kata-kata.


"Dari tempat yang sangat tinggi, dimana seluruh jenismu diperlakukan tidak lebih daripada cacing di tanah."


Mahkluk itu mengeluarkan suara aneh lagi yang Xika anggap merupakan suara tertawanya.


"Lucu sekali. Aku jadi ingin mengunjungi tempat itu. Tapi tahukah kau burung kecil, bahwa saat ini kau dan kedua temanmu itu tidak lebih daripada cacing di tanah bagiku."


"Benarkah? Apakah bagimu cacing tanah juga bisa melakukan-" Heiliao menepuk bahu Xika dan Huo Bing kemudian menghilang seketika.


"-ini?" gema suara Heiliao masih terdengar sekalipun ia sudah tak ada di tempat. Namun mahkluk itu hanya berdiam diri saja, sama seperti pria tua ular sebelumnya yang tidak terlihat panik padahal ketiganya baru saja melarikan diri dihadapannya.

__ADS_1


---------------------------------


SYUT!


Ketiganya muncul lagi di batang pohon yang cukup rimbun untuk menyembunyikan keberadaan mereka.


"Hah......hah......hah......."


Xika merasakan genggaman Heiliao di bahunya memberat sebelum serigala itu jatuh berlutut dengan nafas tidak karuan.


"Heiliao!"


"Aku tidak apa-apa...............jarak teleportasi kali ini membutuhkan lebih banyak qi sekaligus konsentrasi............Kita harusnya aman dari mahkluk itu..........tapi untuk berjaga-jaga........sebaiknya kalian jangan berhenti........." Heiliao mengeluarkan Buah Kehidupan dan segera menggigitnya.


SRAK!


Sepasang sayap kembali muncul di belakang tubuh Xika dan Huo Bing. Xika mengangkat Heiliao yang telah berubah ke wujud serigala imutnya dan segera terbang mengepakkan sayapnya. Dalam hati ia memiliki perasaan buruk mengenai mahkluk itu.


Beberapa kepakan sayap berlalu dan tak ada yang berbicara. Situasi kali ini terasa lebih mengcekam dibanding sebelumnya. Masing-masing berpikiran sebaiknya menyimpan tenaga sebanyak mungkin bahkan untuk Huo Bing yang selalu cerewet.


Namun mendadak, keduanya berhenti mengepakkan sayap secara serentak. Mata mereka membelalak lebar tidak mempercayai apa yang ada di depan mata mereka. Terutama Heiliao.


"Hehehe........kenapa? Kaget ya?" ucap mahkluk itu tampak puas dengan ekspresi mereka bertiga.


Benar sekali, dihadapan mereka tampaklah naga yang sebelumnya menghempaskan mereka semua. Sambil mengepakkan sayapnya, naga tersebut terus memperhatikan ketiganya dengan santai, sama sekali tidak takut buruannya akan kabur lagi.


"Tidak mungkin..........kita baru saja menempuh jarak beberapa kilo.......tidak mungkin kau bisa terbang secepat itu......... kultivasimu juga tidak setinggi it-"


Mendadak Heiliao menghentikkan ucapannya karena ia tidak bisa memeriksa basis kultivasi makhkluk di hadapannya.


Wajah Heiliao semakin pucat. Ia sudah bisa menebak apa yang dilakukan mahkluk itu untuk mengejar mereka, tapi ia berusaha menepisnya.


Mahkluk tersebut tersenyum melihat Heiliao sudah menebak apa yang baru saja dilakukannya. Tapi sebelum ia sempat memperingatkan Huo Bing atau Xika, mahkluk tersebut sudah menghilang.


SYUT!


DUAK!


Xika dan Huo Bing kembali terhempas ke bawah seperti sebelumnya tanpa sempat bereaksi.


BRUAKKK!!!


Kali ini pusing yang lebih parah menyerang Xika. Ia bahkan merasa sepertinya beberapa tulang belakangnya ada yang retak. Ia segera menggigit Buah Kehidupan beberapa kali hingga rasa sakit di punggungnya mereda.


Ketika ia mengangkat kepala, sebuah tapak kaki bersisik hanya berjarak beberapa senti lagi darinya. Mendadak ia merasakan tusukan di perutnya kemudian terdorong mundur.


BUM!


Naga itu meleset. Ia tidak berhasil menginjak Xika karena Heiliao berhasil mendorongnya. Yah, lebih tepatnya Heiliao menendangnya agar Xika tidak terinjak.


"Fokus Xika!" teriak Heiliao. Ia berlari dengan kedua tangannya yang terbungkus elemen ruang.


Heiliao menghantamkan kedua tangannya dan meninju naga itu secara beruntun. "Xika, Huo Bing, alasan para ular itu tidak mengejar kita sama sekali adalah karena mahkluk ini. Artinya kalau kita bisa mengalahkannya kita bisa melarikan diri dengan selamat!"


DUAK!

__ADS_1


BAM!


DAR!


Mendengar ucapan Heiliao, Xika bergegas mengeluarkan Space Shifter kemudian menyerang naga itu juga. Ia bahkan menggunakan Single bercampur dengan kombinasi elemen beberapa kali.


Berbeda dengan Huo Bing yang hanya berdiam diri. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu bahwa mustahil bagi mereka untuk mengalahkan mahkluk ini. Ingatannya beratus tahun lalu akan pertarungannya dengan sosok serupa kembali muncul. Bahkan sekalipun ia dalam wujud terkuatnya, ia masih tidak bisa mengalahkan seekor naga.


Apalagi sekarang, dengan kultivasinya yang masih jauh dari kekuatan aslinya. Bahkan sekalipun mereka memiliki persediaan Buah Kehidupan yang tak terbatas, masihlah mustahil untuk menang melawannya. Mahkluk itu bisa menghancurkan mereka bahkan sebelum mereka menggigit Buah Kehidupan.


"Serigala Gosong, tidakkah kau mempertanyakan mengapa para ular itu sangat percaya diri sehingga tidak mengejar kita dan menyerahkan semuanya pada mahkluk ini?"


SHHHHH!!!!


Asap hasil serangan Xika dan Heiliao menipis memperlihatkan sosok naga tersebut yang masih baik-baik saja, tidak terluka sedikitpun sekalipun sudah terkena serangan beruntun dari Xika dan Heiliao.


"Ck, sialan. Kalau saja kita bisa beristirahat sebentar......."


"Xika, tidak ada gunanya. Bahkan sekalipun kita semua berada dalam kondisi terbaik dan tidak kelelahan, kita masih tidak bisa mengalahkannya."


"Kalau begitu kau seharusnya ikut membantu, siapa tau kita bisa-"


"Sialan, kenapa dari tadi kau tidak mengerti? Itu mustahil Xika, MUSTAHIL! Kita tidak mungkin mengalahkan mahkluk itu! Tidak peduli bagaimana kondisi kita, tidak peduli apakah kita bergabung, tidak peduli sebanyak apa serangan yang kita berikan, semuanya tidak ada gunanya. Ia adalah mahkluk di puncak rantai makanan! Tak ada yang bisa mengalahkannya!"


Suasana mendadak hening. Tak ada yang menjawab ucapan Huo Bing. Bahkan naga itupun ikut terdiam, meskipun alasannya terdiam adalah karena menurutnya ketiga cacing tanah ini sangat lucu. Bukannya berusaha melawan atau melarikan diri, mereka malah bertengkar satu sama lain.


Xika menundukkan kepalanya dalam diam. Bahunya bergetar menahan emosi.


"Apakah kau akhirnya mengerti? Tak ada yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa pasrah dan duduk menunggu-"


DUAK!


Xika menendang Huo Bing kuat-kuat sampai burung itu terpental bahkan sebelum ia berhasil menyelesaikan ucapannya.


Huo Bing bangkit sambil mengelus perutnya, "BRENGSEK! APA YANG KAU-"


"KAU YANG BRENGSEK, BURUNG SIALAN! APA-APAAN DIRIMU, HAH?!" ucap Xika sambil berjalan mendekati Huo Bing.


Huo Bing baru saja membuka mulutnya, namun Xika sudah kembali bicara.


"Apa ular-ular itu memukul kepalamu terlalu keras? Atau kepalamu memang sudah rusak dan perlu diperbaiki? Kau ini siapa, hah? Aku tidak punya saudara pengecut seperti dirimu!"


"Brengsek! Memangnya apa yang bisa kau lakukan, hah? Semua seranganmu tak ada yang mempan! Melarikan diripun tak ada gunanya! Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu ajal menjemput!"


"Tampaknya aku perlu memukulmu sekali lagi. Siapa kau sebenarnya hah? Apa kau sudah dirasuki oleh ular-ular itu? Huo Bing yang aku tahu tidak akan pernah menyerah sekalipun tidak ada jalan keluar. Ia tidak akan menyerah sekalipun tahu bahwa hanya kematian yang menunggu.


Apa kau lupa siapa kita hah? Aku adalah bocah cacat yang tak bisa berkultivasi selama bertahun-tahun. Tapi sekarang aku berdiri dengan kultivasi lebih kuat daripada kebanyakan orang. Bagaimana dengan Heiliao? Ia adalah serigala kesepian yang hanya menunggu kematiannya. Tapi sekarang ia berdiri dengan harapan untuk hari esok sekalipun harus berjuang sampai mati.


Dan kau? Kau adalah mahkluk aneh yang seharusnya sudah mati sejak ratusan tahun lalu. Kau hanyalah jiwa tak berdaya tanpa tubuh yang akan mati dalam beberapa tahun lagi. Tapi sekarang kau berdiri dengan tegap dengan tubuh yang penuh dengan vitalitas.


Tak ada jalan keluar lagi? Mustahil? Tak ada yang bisa kita lakukan? Kitalah wujud dari kemustahilan itu sendiri. Bahkan sekalipun langit runtuh, kita akan membuat terowongan ke dunia lain!"


"Omonganmu menarik sekali cacing kecil. Sayang sekali aku harus memakanmu sekarang juga." ucap naga itu setelah terdiam cukup lama.


"Cacing tanah sialan,akan kupastikan kau mengalami sakit perut dan tak bisa buang air bertahun-tahun!" ucap Xika sambil menyeringai buas.

__ADS_1


__ADS_2