
Xika kini bergerak menuju utara dengan cukup santai, tapi bukan berarti langkahnya lambat.
Sesekali ia akan menoleh untuk memastikan dirinya tidak diikuti atau tidak ada ular disekitarnya.
Kini hari telah gelap jadi Xika berhenti berjalan dan memutuskan untuk beristirahat.
Ia membuat api menggunakan qi nya kemudian membakar ikan yang ia tangkap sebelumnya. Ia menangkap ikan cukup banyak, cukup untuk dua orang. Karena memang ia menangkap ikan itu untuk dirinya dan Xingli, namun siapa yang akan menyangka bahwa mereka akan berpisah di tengah jalan.
Jadi Xika memiliki ikan sebanyak dua kali makan dan ia tidak perlu berburu lagi untuk satu hari kedepan.
Xika menunggu selama beberapa saat sebelum ikannya matang. Kemudian ia melempar kartunya dan menarik kembali kartunya yang sudah bersarang di perut ikan.
Mendadak sebuah suara muncul di kepalanya. Suara yang sangat menyebalkan tapi telah ia rindukan selama beberapa hari teakhir ini.
"Hahhhh..,. jahatnya. Saudara macam apa yang makan sendiri dan tidak membagi makannya pada saudaranya?"
Kemudian muncullah sesosok burung dengan dua warna di depan Xika.
"Huo Bing!"
Xika berdiri dan segera memeluk Huo Bing yang juga balas memeluknya, meskipun hal itu terlihat agak aneh.
"Syukurlah kau tidak mati. Apa kau baik-baik saja?"
"Heh, aku tidak akan mati semudah itu oleh serigala sialan itu. Dan, ya aku baik-baik saja."
Sebelum Xika sempat menjawab Huo Bing, telur Heiliao bergerak keluar dari jubahnya dan retakan muncul di tengah telur itu.
Retakan semakin banyak dan besar, hingga akhirnya telur itu pecah dan keluar sesosok serigala kecil.
"Siapa yang kau sebut serigala sialan, burung setengah matang?"
"Tentu saja dirimu serigala sialan!"
Xika segera menengahi mereka dengan menyodorkan ikan bakarnya pada Huo Bing dan Lang Heiliao.
Heiliao langsung diam setelah menghabiskan dua ekor ikan bakar dan ia tidur dengan memeluk ekornya sendiri, tapi dengan jarak yang bisa dibilang cukup dekat dengan Xika.
"Aku meninggalkanmu dengan serigala itu. Setelah itu apa yang terjadi? Aku tidak ingat apa-apa lagi dan mengapa ia keluar dari dalam telur dalam wujud kecil?"
"Ehhhhh.... mungkin agak sulit dijelaskan....."
Xika melirik sebentar Heiliao yang sedang tertidur lelap, dan memastikan ia tidak tersinggung mendengar perkataannya.
Heiliao hanya menggerakkan kepalanya sedikit.
Melihat hal itu Xika menganggap Heiliao tidak keberatan ia menceritakan kisahnya.
"Yah.... setelah kau kembali ke dantianku, aku menunjukkan padanya bahwa aku bisa berpindah ruang. Dan ia tidak terkesan. Seketika itu juga amarah bangkit dan aku berteriak padanya.
Kami saling berteriak selama beberapa saat, aku sempat mengatakan bahwa ia tidak layak hidup, berbeda denganku dan kau yang memiliki alasan untuk hidup. Kemudian ia menutup matanya dan memintaku untuk menunjukkan alasanku hidup. Setelah itu ia berubah jadi kabut hitam dan memasuki diriku yang langsung kumuntahkan keluar dan kabut itu membentuk telur yang kau lihat beberapa saat lalu."
Xika menoleh dan menemukan Heiliao sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan atau memang tidak memiliki arti, Xika tidak tahu.
"Oh ya, terima kasih untuk yang sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila kau tidak menyelamatkanku sebelumnya."
"......"
__ADS_1
Heiliao hanya menatap mata Xika sebentar kemudian kembali menutup matanya dan tidur.
"Sebelumnya? Menyelamatkan? Apa yang terjadi?"
"Ehh...Setelah Heiliao berubah menjadi telur, tempat itu hancur dan kita-aku dan Xingli-kembali ke hutan sebelumnya.
Apa kau tidak ingat mengucapkan sesuatu sebelumnya?"
"Aku hanya ingat bilang bahwa aku butuh tidur sebentar."
"Yah, aku menyelamatkanmu dengan pil pemberian Xingli. Dan ia menolak untuk dibayar. Jadi aku menghabiskan waktu untuk berkultivasi setelah itu bermain kartu dengan Xingli sebentar, sebelum ia akhirnya-"
"Biar kutebak, kau menang semua putaran secara telak dan ia tidak terima hingga akhirnya ia menyerangmu. Apa aku benar?"
"Yah...kurang lebih seperti itu."
Huo Bing tersenyum puas mendengar tebakannya benar. Kini ia punya teman senasib.
"Setelah itu aku memutuskan untuk menangkap ikan di sungai aku mandi sebelumnya. Tapi seekor ular air menyerangku dan mengingatkanku tentang apa yang kita lakukan sebelumnya."
Ekspresi Huo Bing memburuk ketika ia mendengar Xika membicarakan ular, tapi ia tetap diam dan mendengarkan.
"Aku segera berlari bersama Xingli, namun aku lupa membunuh ular air itu, jadi ia sempat membocorkan lokasiku ke sesamanya.
Tidak lama setelah kami berlari, kami bertemu ular besar. Namun ular itu tidak melihat Xingli. Jadi aku yang sudah berhutang pil padanya tidak ingin berhutang lagi padanya. Jadi aku memutuskan bahwa sudah saatnya kami berpisah.
Dan ia meninggalkanku dengan ular besar yang terus-menerus mengejarku. Aku sudah mencoba berbagai macam cara, tapi ia masih mengikutiku.
Sampai akhirnya Heiliao terbang-dengan wujud telur tentunya-dan menabrak ular itu sampai mati. Kemudian ia menyerap ular itu sampai hanya tulang yang tersisa."
"Lalu apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
"Sebelum berpisah, Xingli memberitahuku kota terdekat dengan kultivator yang cukup kuat untuk menangani ular itu. Aku hendak ke sana untuk memastikan diriku aman, kemudian aku akan memikirkan lnagkah selanjutnya. Tapi karena hari sudah gelap aku memutuskan untuk beristirahat."
Huo Bing berpikir sebentar kemudian mengangguk setuju.
"Keputusan bagus. Tapi mulai sekarang aku akan melatihmu satu hal lagi."
"Apa itu?"
"Kau tidak boleh tidur dengan nyenyak."
"Apa? Kenapa?"
"Kau harus tetap waspada dengan sekelilingmu, bahkan saat kau tidur. Kau tidak bisa mengandalkanku terus. Akan ada saatnya kita berpisah atau aku tidak bisa memperingatkanmu."
Xika masih ingin bertanya tapi ketika ia melihat ketegasan di mata Huo Bing, ia berhenti bertanya dan mengikuti apa yang Huo Bing suruh.
Jadi selama beberapa hari terakhir Xika tidur dengan tetap waspada dan merasakan sekitarnya kalau kalau ada bahaya.
Setelah tiga hari, Xika lebih terbiasa dengan latihan Huo Bing.
Dan kini mereka sudah sampai di kota tujuan mereka.
Xika berdiri di depan antrian banyak orang dan melihat gerbang kota dengan tulisan 翼狼 yi lang yang berarti sayap serigala atau serigala bersayap, Xika tidak tahu.
"Huo Bing."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Ini pertama kalinya aku memasuki kota. Kota atau desa yang kukunjungi sebelumnya hancur karena diriku. Apa yang akan kulakukan bila aku mengahncurkan kota ini juga? Penduduknya terlihat sangat bahagia, aku tidak tahan bila kebahagiaan itu hilang karena diriku. Apakah aku lebih baik berbalik dan tinggal di hutan saja?"
".......Tenanglah, tidak apa-apa. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa dikota ini terdapat kultivator yang cukup kuat? Kultivator itu pasti bisa menjada kota ini. Kau tidak perlu memikirkan tentang itu. Fokuslah untuk bertambah kuat."
Xika mengangguk kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum maju dan ikut mengantri.
Karena antrian itu cukup panjang, Xika harus menunggu selama beberapa jam sebelum gilirannya tiba.
"Kau berikutnya."
"Ya?"
"Sebutkan nama, umur, dan apa tujuanmu datang ke kota ini."
"Xing Xika, 15 tahun, dan ehhhh.... berkunjung kurasa?"
Xika tidak mungkin mengatakan bahwa ia datang ke kota ini untuk mencari perlindungan. Besar kemungkinan dirinya diusir karena dianggap akan membawa bencana pada kota ini.
Penjaga itu menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar alasan Xika datang ke kota ini, namun ia tidak peduli dan hanya mencatatnya.
"Biaya masuknya 1 keping koin perak."
Penjaga itu menjulurkan tangannya sementara Xika yang melihat hal itu kebingungan.
Ia merogoh-rogoh kantungnya sebelum akhirnya menemukan cakar harimau yang pernah ia bunuh dan menyerahkannya.
"Ehh....apa aku bisa membayarmya dengan ini?"
Penjaga itu mengambil cakar yang diserahkan Xika dan melihatnya lekat-lekat selama beberapa saat. Kemudian setelah menentukan bahwa harganya kurang lebih setara dengan satu koin perak, ia mengangguk dan membiarkan Xika masuk.
Kemudian orang di belakang Xika hendak membayar dengan cara yang sama yang Xika lakukan, namun ia ditolak.
"Biaya masuk harus berupa koin tembaga, perunggu, atau perak."
"Tapi anak itu baru membayarmu dengan cakar Spirit Beast. Cakar yang kuberikan ini tidak kalah, bahkan lebih berharga dari cakar yang ia berikan, kenapa aku ditolak?"
Penjaga itu melihat orang di belakang Xika yang ternyata adalah seorang pedagang dan berkata,
"Apa kau tidak lihat apa yang anak itu pakai? Bajunya sangat lusuh dan penuh dengan sobekan disana-sini. Mungkin saja ia datang ke kota ini untuk mencari nafkah, jadi aku membiarkannya karena kasihan padanya. Bagaimana denganmu? Kau jelas-jelas tidak kekurangan uang, dasar pedagang tamak."
Akhirnya pedagang itu membayar biaya masuk dengan koin perak dengan mulut yang masih mengomel.
Xika yang mendengar semua hal itu merasa cukup malu karena dianggap sebagai gembel, namun juga cukup berterimakasih pada penjaga itu.
Jadi hal yang pertama dilakukan Xika adalah pergi ke gang tergelap yang jarang dilalui orang, kemudian mengeluarkan bagian tubuh Spirit Beast dari cincin spasialnya. Huo Bing yang menyarankan hal ini.
Ia berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk menyembunyikan cincin spasialnya.
Setelah itu Xika keluar dan pergi ke toko yang menjual dan membeli bagian tubuh Spirit Beast.
Xika sadar bahwa ia membutuhkan uang di kota ini. Meskipun ia memiliki bagian Spirit Beast yang begitu berharga, tapi dalam beberapa keadaan hal itu akan merepotkan, jadi Xika memutuskan untuk mendapatkan uang terlebih dahulu dengan menjual bagian Spirit Beast yang ia miliki.
Xika datang di depan toko itu dan disambut dengan tatapan tidak suka.
"Pergilah! Kami bukan toko amal. Kami tidak akan memberikan uang atau roti secara cuma-cuma padamu."
__ADS_1