
Kalau takdir itu ada, maka teknik ini pastilah ditakdirkan untuk dipelajari Xika. Memang bodoh, memutuskan teknik yang dipilih hanya berdasarkan nama, tapi Xika tak akan mengubah keputusannya. Teknik itu mengandung sesuatu yang lebih dari nama. Teknik itu memberinya perasaan familiar.
Entah karena apa, tapi Xika dapat merasakannya. Ada perasaan aneh yang mengatakan bahwa teknik itu memang untuknya. Ia ingin sekali bergegas mengambil teknik itu sekarang juga, tapi sebagian dari dirinya mengatakan sebaliknya.
Jadi sebagai jalan tengah, Xika memutuskan untuk memeriksa semua judul teknik di ruangan itu. Kalau ada teknik lain yang mengandung nama 'Star' atau 'Bintang' atau ada yang memberinya perasaan familiar yang serupa, ia akan mempertimbangkan teknik lain.
Tapi setelah beberapa saat, bahkan setelah semuanya telah menemukan teknik masing-masing, Xika masih tak menemukan teknik lain yang sesuai harapannya. Jadi dengan bahagia sekaligus penasaran, ia mulai mendekati kartu itu tanpa menginjak kartu lain, dengan cara terbang tentu saja, itulah gunanya sayap.
Xika sudah tahu apa yang dimaksud kartu menyerang balik. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengambil kartu itu untuk dipelajari. Untuk berjaga-jaga, Xika tetap membuka sayapnya dan hanya menyentuh kartu 'Star Glance', lagipula semua yang ada di sini sudah tahu identitasnya.
Yah, Xingli tidak tahu ia punya sayap sih, tapi biarlah. Ia akan menyelesaikan itu nanti. Sekarang yang penting adalah mendapatkan teknik itu dulu.
Ia mencoba menyentuh kartu itu pelan-pelan dengan ujung jarinya agar tidak diserang balik, tapi sayangnya hal itu tidak berguna. Kali ini Xika bahkan tidak sempat melihat judulnya karena ketika kartu itu berbalik, kartu itu langsung memancarkan terang yang menusuk mata.
Disentuh perlahan gagal. Bagaimana kalau menggunakan qi?
Xika mengarahkan qi nya membentuk tangan untuk mengambil teknik itu, tapi hasilnya sama saja. Kartu itu berbalik dan kembali mengeluarkan sinar yang membutakan.
Belum sempat ia memikirkan ide lain, suara Huo Bing terdengar.
"Xika, aku tak keberatan menunggu, tapi aku tak yakin elder penjaga pintu berpikiran yang sama denganku. Setidaknya ia akan-"
"Hei! Apa kalian baik-baik saja?! Tidak perlu memaksakan diri! Jawab aku kalau kalian masih hidup!"
Suara sang elder terdengar memotong ucapan Huo Bing. Burung itu membalas dengan kesal.
"Kami masih hidup! Tunggu sebentar lagi!"
"Tidak! Tidak perlu memaksakan diri! Tunggu saja tahun depan, kau bisa kembali kesini!"
Rupanya elder itu mengira mereka memaksakan diri dan tidak mau keluar sehingga ia khawatir. Pemikiran yang cukup menyentuh sebenarnya, tapi Huo Bing malah kesal mendengarnya.
"Tahun depan kami akan mengambil teknik lain!"
"Tidak, tidak! Jangan memaksakan diri!"
Dan begitulah mereka saling berteriak. Huo Bing sengaja membalas elder itu terus menerus untuk memberi waktu tambahan bagi Xika. Xika juga mengerti hal itu, jadi ia berusaha sekeras mungkin. Tapi pikirannya benar-benar buntu.
Ia tak bisa memikirkan cara lain bagaimana mengambil kartu itu. Sebagian dari dirinya mengatakan untuk menyerah dan memilih teknik lain. Lagipula, apa hebatnya teknik itu kalau hanya mengeluarkan cahaya? Teknik api yang pertama setidaknya masih lebih baik.
"Sialan! Persetan dengan serangan balik. Aku menginginkanmu, jadi aku akan mendapatkanmu!"
Tanpa ada rencana, Xika mengambil kartu itu dengan tangannya. Kali ini tidak dengan perlahan karena cara itu tidak berhasil. Ia bertekad tidak peduli betapa menyilaukannya cahaya yang datang, ia tidak akan melepaskan kartu itu dan harus mengambilnya.
__ADS_1
Dan ia berhasil.
Setelah sinar bintang yang membutakan mata bersinar selama kira-kira sepuluh detik, Xika berhasil menjepit kartu teknik itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Belum sempat ia melihat tulisan dibalik kartu itu dengan jelas, kartu itu sudah terpecah menjadi ribuan partikel yang memasuki kepalanya. Berbagai kata baru muncul di kepalanya. Yang paling utama adalah 'Star Glance'.
Huo Bing melihat hal itu dan berhenti berdebat dengan sang elder yang kedengarannya sudah hendak mendobrak pintu.
"Baiklah, baiklah! Kami akan kembali lagi tahun depan!"
Huo Bing berjalan kembali dan suara sang elder tak terdengar lagi. Heiliao beradu tatap dengan Xingli selama beberapa saat, mencoba menentukan siapa yang akan keluar duluan.
Heiliao tidak mau keluar duluan. Xika tahu itu. Serigala itu mencemaskan dirinya dan belum bisa mempercayai Xingli sepenuhnya. Yah, bagaimanapun juga gadis itu pernah mengacungkan pedangnya pada Heiliao. Meskipun, lucunya, Heiliaolah yang membuat Xika dan Xingli saling percaya.
Sementara Xingli, ia juga kelihatannya tidak mau keluar dulu. Apa ada yang hendak ia bicarakan? Xika tidak tahu. Tapi tatapan matanya......lagi-lagi Xika tak bisa membacanya.
Akhirnya Xika yang keluar duluan, dan keduanya berebut untuk keluar duluan. Di belakang mereka, empat slot kartu yang kosong karena sudah diambil, mulai bercahaya dan beberapa saat kemudian membentuk kartu baru dengan teknik dan judul yang sama.
Setelah kembali dari ruangan penuh kartu itu, keempatnya diceramahi habis-habisan oleh sang elder. Huo Bing berdebat dengannya beberapa kali sebelum menyerah. Meskipun terdengar menyebalkan, tapi sebenarnya elder itu peduli dengan mereka.
Xika cukup menghargai hal itu. Kembali di klan pamannya, hanya penjaga perpustakaan dan pamannya yang peduli padanya. Hargai orang yang peduli padamu. Kau tidak tahu kapan kau akan berpisah dengan mereka. Xika merindukan pamannya.
Di lantai kedua perpustakaan, Penatua Fen menunggu mereka.
"Begitulah, Penatua." Xika tersenyum menandakan semuanya baik-baik saja tidak sadar beberapa helai rambutnya terbakar.
Penatua Fen mengangguk dengan ragu, kemudian berjalan pergi.
"Kalau begitu kuucapkan selamat karena sudah menjadi Murid Dalam, dan sampai jumpa. Dadah!" ucapnya sambil melambai tanpa menoleh.
"Tunggu, itu saja? Anda tak berniat memberikan hadiah lain?" ucap Xika agak tidak terima. Beruntung ia berhasil mendapatkan teknik itu di detik terakhir. Bagaimana kalau ia tidak berhasil mendapatkannya? Apa Penatua Fen akan mengatakan 'Hadiahnya tidak jadi, deh. Tunggu tahun depan ya.'?
"Itu saja?" Penatua Fen tertawa, "Kau tidak tahu berapa banyak murid yang berharap dapat kesempatan memasuki ruangan itu, nak. Berhasil atau tidaknya itu tergantung kemampuan mereka sendiri."
"Tapi saya kan sudah membuktikan kemampuan saya. Buktinya saya sekarang menjadi Murid Dalam. Apakah anda tak memiliki hadiah lain yang tidak berdasarkan keberuntungan?" tanya Xika lagi.
Penatua Fen kembali tertawa. Kalau yang ada di hadapan Xika saat ini adalah Penatua Yan, maka anak itu pasti sudah hangus sekarang, pikirnya.
"Baiklah, kalau begitu. Apa yang kau mau?"
"Entahlah."
"Entahlah? Kau bicara seperti itu tapi kau tak tahu apa yang kau mau?"
__ADS_1
"Begitulah. Saya mengharapkan sesuatu yang mengejutkan, jadi saya tak memikirkan apa yang saya mau."
"Kalau begitu kau tidak jadi ingin hadiah lain?"
"Tentu saja ingin. Bagaimana kalau Penatua berbagi rahasia dengan saya? Saya baru tiba di sekolah ini beberapa hari yang lalu. Banyak rahasia sekolah ini yang tidak saya ketahui."
Wajah Penatua Fen langsung berubah. Tapi ia menyembunyikannya. Xika tersenyum dalam hatinya melihat hal itu. Penatua Fen kembali tersenyum.
"Aku sudah tua, aku tak tahu banyak rahasia anak muda. Apa yang mau kau tahu tentang sekolah ini? Apa kau tahu sekolah ini dibangun di atas kuburan? Kabarnya, banyak hantu yang berkeliaran di malam hari, lho!" ucap Penatua Fen berusaha mengalihkan pembicaraan sekaligus mengorek informasi dari Xika.
"Benarkah? Itu keren. Apakah hantu-hantu itu bisa bertarung?"
"Eh....." Penatua Fen jelas tidak mengharapkan reaksi itu.
"Yah, pokoknya.......anggap saja kau memiliki satu permintaan padaku. Katakan padaku kalau kau sudah menemukan keinginanmu." Ia membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan pergi.
"Penatua." Xika memanggil, "Terakhir kali seseorang mengatakan hal yang serupa, ia menusuk saya dari belakang. Anda tidak akan melakukan hal yang sama bukan?" Xika tersenyum.
DEG!
Penatua Fen tersentak. Apa anak ini........baru saja mengancamku?Ia terdiam beberapa detik, sebelum kembali tertawa.
"Heh.....seorang lelaki sejati akan selalu menepati ucapannya."
"Kalau begitu saya harap anda adalah lelaki sejati." ucap Xika yang diabaikan Penatua Fen. Meskipun hanya sesaat, tapi Penatua Fen merasakan bahwa Xika bukanlah seseorang yang berada di bawahnya. Ia merasa Xika setara dengannya, yang adalah seorang Pelindung Akademi.
Huo Bing dan Heiliao memperhatikan Penatua Fen sampai ia menghilang, kemudian keduanya memukul kepala Xika bersamaan.
"Aw!"
Xika menatap keduanya dengan pandangan kesal sekaligus bingung. Huo Bing ingin menjawabnya tapi ada terlalu banyak orang disini. Ia membawa Xika ke tempat sepi, kemudian membuat penghalang kedap suara sebelum bicara.
"Bocah Cacat! Apa yang kau pikirkan?! Kenapa kau bicara seperti itu? Bisa-bisa ia salah mengerti dan menyerang kita!"
"Apa? Aku sengaja bicara seperti itu untuk melihat reaksinya. Ia memang terlihat baik, tapi kita tak tahu bagaimana ia sebenarnya. Biasanya ucapan seperti itu dapat membuatnya mengungkapkan sifat aslinya. Lagipula apa kau tidak melihat wajahnya berubah ketika aku bertanya tentang sekolah ini? Ia pasti menyembunyikan sesuatu."
Belum sempat Huo Bing membalas, Heiliao mengeluarkan geraman. Burung itu berbalik dan sadarlah ia bahwa ada orang lain selain mereka bertiga.
Xingli.
Gadis itu terkejut mendengar geraman Heiliao. Manusia normal tidak bisa menggeram seperti itu, kultivator sekalipun. Dan tahulah gadis itu bahwa Heiliao adalah serigala yang sama waktu itu. Ia mengeluarkan pedangnya sementara Heiliao juga bersiap untuk bertarung. Tidak, lebih tepatnya membunuh.
Xika melihat Heiliao. Saudaranya yang telah menjalani hidup mati bersama. Kemudian ia melihat Xingli. Satu-satunya gadis di dunia ini yang ia percayai. Dan kini keduanya hendak saling membunuh.
__ADS_1