
'Sial.....'
Xika hanya memiliki waktu sepersekian detik untuk memikirkan cara mengatasi serangan Lang Jin itu. Dan otaknya bekerja sangat keras dalam sepersekian detik itu.
Dua lembar kartu melayang menuju telinganya, masing-masing satu. Jadi ada dua kartu di tiap telinga Xika. Kemudian ia melemparkan sisa lima puluh dua kartunya untuk membentuk sebuah tongkat. Masing-masing kartunya dialiri elemen yang berbeda, dan menghasilkan Xika yang sedang memegang tongkat dengan berbagai elemen menutupinya.
Tadinya ia ingin menghalau serangan Lang Jin dengan melemparkan kartu-kartunya, tapi jumlahnya terlalu sedikit, lagipula waktunya tidak mencukupi. Jadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menangkis mereka. Untungnya, gabungan dari lima puluh dua kartunya cukup keras untuk menangkis ribuan bulu Lang Jin itu.
Ia tidak sempat memikirkan mengapa bulu Lang Jin masih keras meskipun telah lepas dari tubuhnya karena sibuk menangkis dan menghindari bulu-bulu Lang Jin. Tapi bukan itu saja yang ia lakukan. Seorang diri menghadapi ribuan serangan adalah hal yang hampir mustahil, dan di tingkat Xika, itu adalah hal yang mustahil.
Tapi bukan berarti tidak ada jalan keluar. Xika telah melapisi tubuhnya dengan Nexus yang berubah bentuk sesuai tubuhnya. Ia menangkis serangan yang bisa ia tangkis, sementara yang tidak bisa ia tangkis ia pindahkan menggunakan elemen ruang.
Selama setahun ini, ia melatih banyak hal. Elemen ruang adalah salah satunya. Meskipun ia masih tidak bisa meledakkan ruang seperti yang dilakukan Kong Yan, ia mengalami peningkatan dalam pengendalian elemen ruangnya. Dan salah satunya adalah memindahkan benda ke tempat lain.
Sekilas terdengar mudah, mungkin akan banyak yang berkata 'selama aku bisa menguasai elemen ruang aku pasti bisa melakukan itu'. Tapi nyatanya tidak. Mungkin memindahkan satu benda diam tak bergerak tidak terlalu sulit, tapi memindahkan ratusan benda yang bergerak menyerangmu? Bukan hal yang bisa dilakukan semua orang.
Melihat Xika yang bertahan dengan baik, Lang Jin tak tinggal diam. Serigala besar itu memanipulasi tanah di sekitar Xika dan mengganggu langkah anak itu. Hasilnya? Xika hampir terjatuh beberapa kali, tapi masih tak ada bulunya berhasil mengenai anak itu.
Setiap kali bulunya hampir mengenai Xika, anak itu pasti membuat lubang kecil yang memindahkan bulunya ke tempat lain entah di mana. Lang Jin menggeram kesal sekaligus senang. Memang inilah yang ia harapkan dari Xika. Tapi mendadak ia berhenti menggeram.
Ia menggerakkan kepalanya memandang lambung kirinya dan mendapati pisau telah menancap dan membuatnya meneteskan darah. Ia memandang Xika dan lukanya bergantian. Anak itu masih menangkis bulu-bulunya, tapi samar-samar ia bisa melihat senyum anak itu.
Bahkan dalam keadaan terdesakpun Xika masih bisa memberikan serangan balik. Lambungnya memang sakit, tapi semangat untuk bertarung menyala lebih besar lagi dan mengabaikan lambungnya. Karena fokus untuk mengendalikan bulu-bulunya untuk menyerang Xika, ia mengabaikan pertahanannya, yaitu bulunya yang tak lagi dialiri qi.
Dan Xika berhasil mengetahui hal itu. Memang kesalahannya lupa untuk melindungi dirinya. Tapi tetap saja anak itu hebat. Namun Lang Jin tak akan membiarkannya berada di atas angin terus-menerus. Sebentar lagi Xika akan selesai menghempaskan bulunya. Pada saat itu ia akan mengaliri tubuhnya kembali dengan qi.
Tunggu dulu. Xika bisa dengan mudah berpindah tempat untuk menghindari serangannya. Kenapa ia tidak melakukannya? Untuk memberinya serangan pisau itu? Tapi itu hanya serangan kecil yang tidak akan mengubah alur pertarungan. Kenapa ia melakukannya?
__ADS_1
Bruk!
Sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Butuh beberapa saat untuk sadar bahwa kepalanya menghantam tanah. Ia mencoba berdiri tapi tak bisa. Kepalanya terasa pusing dan berat, tubuhnya sulit untuk digerakkan. Sejenak ia bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi kemudian ia sadar apa yang sebenarnya terjadi.
Racun.
Xika mengoleskan racun pada pisaunya. Itulah alasan kenapa ia tidak berpindah tempat menghindari serangannya. Untuk mengalihkan perhatiannya agar bisa memberikan pisau berlumuran racun dan untuk mengalihkan perhatiannya. Racunnya butuh waktu untuk bekerja. Dan Xika terus menangkis bulu-bulunya menunggu racunnya bekerja.
Lang Jin mengumpat dalam hatinya. Ia sudah kalah sekali dari Xika. Apakah ia akan kalah lagi? Tidak. Ia sudah berlatih keras bukan untuk berbaring menyerah dan kalah di sini. Ia harus melakukan sesuatu. Tubuhnya kembali berusaha ia gerakkan.
Tapi usahanya tetap tak berguna. Ia berusaha menggerakkan apapun yang bisa digerakkan. Hanya moncongnya saja. Apa yang bisa ia lakukan? Kalau Xika mendekat, mungkin ia bisa menggigitnya. Tapi anak itu tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh seperti itu. Apa lagi yang bisa ia lakukan dengan moncongnya?
Benar. Auman. Kalau ia bisa menggerakkan perutnya sedikit saja........Berhasil! Perutnya sakit dan kaku saat ia gerakkan tapi paling tidak ia bisa mengeluarkan auman. Sekarang yang harus dilakukannya tinggal menunggu waktu yang tepat.
Xika melihat Lang Jin yang jatuh tak bergerak selama beberapa saat untuk memastikan bahwa racunnya benar-benar bekerja. Ia tak menyangka akan semudah ini. Apakah Lang Jin akan kalah begitu saja? Tidak, tidak mungkin. Ia bukan serigala yang mudah menyerah sekalipun seluruh badannya tak bisa digerakkan. Serigala itu pasti masih menyiapkan serangan lain.
Tapi apa yang disiapkannya? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Memeriksanya sendiri. Jadi ia melangkah maju dengan menggenggam Cosmos dengan erat. Kartu-kartunya itu masih berbentuk tongkat panjang, tapi ia siap mengubahnya menjadi bentuk lain sesuai kondisi.
Tap!
Tap!
Kini Xika tinggal berjarak tujuh meter dari Lang Jin. Selangkah lagi ia maju makan Lang Jin akan menyerangnya. Tapi Xika tidak melangkah maju. Ia merasakan bahaya yang ada dalam langkah berikutnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Para penonton dibuat bingung oleh tindakan Xika yang hanya berdiam diri di samping Lang Jin. Hanya beberapa yang memahami tindakannya. Mereka menunggu tindakan selanjutnya. Sejauh ini keduanya berhasil membuat para penonton terkejut.
Pilihan mereka untuk menonton pertarungan keduanya memang tidak salah. Jadi meskipun bingung, mereka menuggu dengan sabar tindakan apa yang akan diambil Xika. Karena mereka yakin ia tak akan mengecewakan mereka.
__ADS_1
Tap!
"ROAR!!"
WHUSH!
Xika melangkah maju dan Lang Jin langsung memberikan serangan terakhirnya. Sayangnya, Xika sudah berjaga-jaga, jadi ketika Lang Jin membuka mulutnya Xika sudah mengepakkan sayapnya menghindar kebelakang.
Tapi bukan gelombang energi yang keluar dari mulut Lang Jin seperti biasanya. Yang keluar hanyalah raungan kecil seperti serigala tak berdaya. Namun sebenarnya ada sebuah perubahan besar yang terjadi dalam tubuh serigala besar itu.
Sesuatu yang sudah lama terpendam dan menunggu untuk dibangkitkan. Sesuatu yang membedakan satu kaum dengan yang lainnya. Sesuatu yang menjadi pertanda dewasanya dan berbakatnya seorang serigala.
Bloodline.
Mata Lang Jin yang tadinya membesar dan membuat pandangannya memburam kini mulai lebih jernih. Tubuhnya yang kaku mulai membaik. Kepalanya tak lagi seberat tadi dan rasa pusingnya berkurang dengan kecepatan yang luar biasa. Lukanya yang terbuka mulai berhenti meneteskan darah dan menutup. Otot-ototnya mulai menguat begitu juga dengan bulunya.
Shield Steel Wolf. Kata 'Steel' memang diambil dari bulunya yang sekuat besi. Tapi tidak dengan kata 'Shield'. Kata itu diambil berdasarkan karakteristik mereka yang benar-benar seperti perisai. Baik bulu maupun otot Lang Jin telah menguat jauh dibanding sebelumnya.
Kini ia benar-benar dapat dianggap sebagai kaum Shield Steel Wolf. Ia telah membangkitkan karakteristik kaumnya. Perisai. Meskipun baru bangkit, tapi Bloodline tidak dapat dianggap remeh. Xika juga merasakan perbedaan Lang Jin meskipun tak menyaksikannya dengan mata telanjang.
Ia mengepakkan sayapnya di angkasa dengan waspada. Berbeda dengan Lang Jin. Kelihatannya serigala itu sangat percaya diri dengan perubahan barunya sehingga tak memasang kewaspadaan lagi. Dan Xika juga ingin mengetahui perubahan apa yang telah dialami serigala besar itu.
"First Way : Single!"
Entah mengapa, banyak serigala muda yang sakit hati mendengar nama teknik Xika itu. Namanya aneh, tapi mengandung serangan yang kuat. Gelombang tebasan Xika itu berhasil menciptakan jejak di tanah.
Namun serangan itu tak berhasil menciptakan jejak di tubuh Lang Jin. Tidak ada bekas luka. Hanya ada beberapa bulu yang rontok. Tapi itu tak seberapa. Xika melebarkan matanya melihat satu-satunya teknik yang ia ketahui berhasil di tangkis dengan mudah oleh Lang Jin.
__ADS_1
Ia tak mengharapkan luka besar, tapi setidaknya ada jejak memar. Namun tubuh Lang Jin benar-benar utuh tak tersentuh sama sekali selain dari beberapa bulunya yang rontok. Jadi ia hendak memberikan serangan lanjutan, tapi sebuah suara menghentikannya.
"Baiklah, itu pertarungan yang bagus. Sekarang kalian bisa berhenti."